Beranda

Aksi Kamisan Lampung Tolak RKUHAP

Suasana Aksi Kamisan Lampung di Tugu Adipura|Perssukma.id/Nando Atmajaya

Aksi Kamisan Lampung digelar di Tugu Adipura Bandar Lampung pada Kamis, 31 Juli 2025 dengan mengangkat tema “Tolak Pengesahan Revisi Kitab Undang undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP)”. Aksi ini menuntut pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) untuk meninjau kembali draft RKUHAP yang dinilai bermasalah.

 

Dalam aksi yang melibatkan sejumlah sukarelawan dari berbagai lembaga ini, terdapat beragam kegiatan seperti orasi, kuliah jalanan, pertunjukan musik, serta lapak baca gratis. Meskipun Aksi Kamisan umumnya menuntut keadilan atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat masa lalu, kali ini fokus diarahkan pada penolakan terhadap RKUHAP.

 

Refi Meidiantama, Akademisi Universitas Lampung (Unila) yang mengisi sesi kuliah jalanan, menyampaikan kritik tajam terhadap RKUHAP yang dinilainya gagal mengakomodasi kemajuan dan pengalaman dari Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebelumnya. “Seharusnya KUHAP yang baru itu mengkomodir kemajuan-kemajuan dan juga pengalaman dari saat banyak korban menjadi korban penyiksaan, intimidasi, dan juga pengakuan paksa oleh aparat kepolisian. Itu seharusnya terkomodir di KUHAP ini, menjadi pelajaran atau menjadi pembentukan hukum yang mempentingkan perlindungan terhadap tersangka," ungkapnya.

 

Ia menambahkan bahwa RKUHAP justru memberikan kewenangan berlebihan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tanpa diimbangi mekanisme check and balance yang memadai. Beberapa pasal dinilai problematik, seperti penetapan Polri sebagai penyidik utama, yang berpotensi menghambat peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dari lembaga-lembaga lain, seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

 

Penerapan restorative justice pada tahap penyidikan juga dikritik karena dinilai rawan disalahgunakan. Proses penyidikan seharusnya berfungsi untuk menemukan identitas tersangka dan kejelasan kasus, bukan sebagai jalur penyelesaian perkara yang justru dapat mendahului proses hukum.

 

Refi juga memperingatkan bahwa KUHAP menyangkut kebebasan, kemerdekaan, dan hak hidup masyarakat luas. "KUHAP ini harus mendengarkan seluruh masukan dari masyarakat sipil. Jangan terburu-buru karena menyangkut kebebasan, kemerdekaan, dan juga hak hidup orang banyak. Jangan sampai pemerintah yang menyusun dan DPR yang menyusun saat ini justru mereka yang akan kena di kemudian hari ketika tidak menjabat lagi," tegasnya.

 

Romzy Mahri, Koordinator Lapangan (Korlap) dalam aksi tersebut berharap agar hukum kita menjadi lebih baik lagi. "Harapannya setelah ada aksi kamisan pada hari ini, yang jelas kita mau produk hukum kita itu jadi lebih baik. Jadi sesuai apa yang dimau oleh masyarakat, lebih adil, dan lebih bermanfaat," tutupnya.

 

Aksi diakhiri dengan komitmen untuk terus menggelar kegiatan serupa ke depannya. Romzy menegaskan bahwa perjuangan akan terus berlanjut melalui berbagai cara dan platform hingga suara rakyat benar-benar didengar.(*)

 

Penulis: Yunika Maritasari, Nando Atmajaya

Penyunting: Rizky

Vandalisme di Ruang Kelas, Siapa yang Harus Disalahkan?

 
Vandalisme di Gedung Kuliah Bersama (GKB) ruang 1.8 | Perssukma.id/Doc UKM Pers SUKMA


Fasilitas kampus di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menjadi sorotan, terutama kondisi bangku dan tembok ruang kelas yang dipenuhi coretan. Padahal, untuk menunjang efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), ruang kelas seharusnya bersih dan nyaman. Namun, temuan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) menunjukkan adanya tindakan vandalisme ringan yang masih dilakukan oleh sebagian Mahasiswa Polinela.

Vandalisme adalah tindakan merusak atau menghancurkan properti umum atau pribadi tanpa izin, seringkali dengan cara mencoret-coret, merusak fasilitas, atau melakukan tindakan perusakan lainnya pada properti milik umum.

Kampus terus berupaya memenuhi kebutuhan mahasiswa dengan memperbaiki serta menambah fasilitas. Sayangnya, masih saja ditemukan tindakan yang merusak fasilitas, seperti coretan pada kursi dan dinding kelas yang dilakukan menggunakan pulpen. Meskipun berbagai imbauan telah disampaikan, aksi tidak bertanggung jawab ini tetap terjadi. 

Faiz, salah satu penjaga Gedung GKB menyampaikan bahwa larangan tindakan mencoret fasilitas sering diperingatkan. “Sudah sering diingatkan agar tidak mencoret-coret, tapi masih saja ada yang iseng, seperti anak kecil. Coretan paling sering ditemukan pada bagian kursi, sedangkan tembok relatif lebih sedikit terkena vandalisme. Upaya pencegahan juga telah dilakukan melalui pemasangan pemberitahuan di beberapa titik rawan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengawasan telah dilakukan melalui kamera Closed Circuit Television (CCTV) dan fasilitas yang rusak sebagian diperbaiki oleh petugas kampus yang bertugas.

Alfa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Peternakan (AGRIPET) turut angkat bicara mengenai kejadian ini. Ia mengaku prihatin dengan sikap sebagian mahasiswa yang masih mencoret-coret fasilitas kampus. “Ini sih yang pertama sangat meresahkan ya, karena mahasiswa kan sudah dewasa, jadi buat apa lagi coret-coret kursi,” ungkapnya.

Menurut Alfa, tidak semestinya ada pihak khusus yang bertanggung jawab atas perilaku tersebut karena mahasiswa dianggap sudah cukup dewasa untuk bertindak bijak. “Sebenarnya, kalau sudah mahasiswa, tidak perlu lagi diawasi. Kita ini sudah besar, sudah bisa berpikir sendiri jadi harusnya itu tanggung jawab pribadi masing-masing,” jelasnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Alfa menegur secara langsung apabila mendapati mahasiswa mencoret kursi atau tembok. “Saya pernah melihat sekitar saya melakukan aksi mencoret-coret dan saya langsung menegurnya sebagai bentuk kepedulian, ya setidaknya bisa menjadi pengingat. Kedepannya juga mahasiswa bisa lebih sadar dan bijaklah, usia dan status mereka itu sudah menuntut tanggung jawab lebih besar,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan oleh Risma Rahma Wati, Mahasiswa Prodi Agribisnis Pangan (AGBP) yang menilai aksi mencoret-coret sebagai tindakan negatif karena merusak fasilitas umum yang digunakan bersama. “Biasanya karena bosan akan suatu hal, jadi tertarik mencoret-coret untuk menggambarkan apa yang ada di pikirannya, cuma ini merusak fasilitas,” ujarnya.

Risma menekankan pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga fasilitas kampus. “Fasilitas itu dipakai banyak orang. Harusnya kita sebagai mahasiswa yang saling mengingatkan untuk menjaga, karena kita juga yang menggunakan,” jelasnya.

Risma juga mengaku sering melihat coretan di bagian belakang kursi saat kondisi kelas sedang ramai. “Sering lihat banyak coretan di belakang kursi. Menjaga fasilitas itu bisa dimulai dari diri sendiri, dengan tidak jadi salah satu dari mereka yang suka mencoret-coret,” tegasnya.

Salah satu petugas kampus berharap mahasiswa dapat meningkatkan kesadarannya dan tindakan
seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang. “Semoga ke depannya mahasiswa bisa lebih
sadar dan mulai memikirkan dampaknya sehingga hal ini tidak terulang lagi di masa depan,”
tutupnya.

Dalam proses peliputan investigasi ini, sejumlah dosen memilih untuk tidak memberikan
tanggapan atau enggan diwawancarai terkait permasalahan vandalisme tersebut. (*) 

Penulis : Liyana Shafiqa, Zaitun Nur Hannifah

Penyunting : Sani

Kunjungan Gubernur ke Polinela, Bahas Peran Kampus dalam Transformasi Daerah

 

Suasana di dalam Gedung Serba Guna Politeknik Negeri Lampung | Perssukma.id/Natasya


Gubernur Provinsi Lampung, Rahmat Mirzani Djausal melakukan kunjungan ke Politeknik Negeri Lampung (Polinela) sebagai bagian dari rangkaian kunjungannya ke seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Lampung. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 22 Juli 2025 di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.

Dalam paparannya, Mirzani menjelaskan rencana modernisasi pertanian, hilirisasi produk lokal, pengembangan energi terbarukan, serta diversifikasi ekonomi ke sektor pariwisata. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan sinergi pusat daerah demi kemajuan Lampung.

Gubernur Provinsi Lampung ini juga menekankan bahwa pendidikan vokasi harus menjadi jalan cepat untuk mencetak generasi muda yang terampil, mandiri, dan siap kerja. Dengan tiga cita pembangunan Lampung, yaitu:
1. Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Mandiri, dan Inovatif.
2. Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul dan Produktif.
3. Masyarakat Beradab, Berkeadilan, dan Tata Kelola Berintegritas.

Dalam kunjungan tersebut, juga dilakukan penandatanganan sekaligus penyerahaan Surat Keputusan (SK) hibah tanah seluas 50 hektare dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung kepada Polinela yang berlokasi di kawasan pusat pemerintahan Kota Baru. Hal ini menjadikan Polinela sebagai politeknik dengan lahan terluas di Indonesia.

Setelah penyerahan, Mirzani mengatakan bahwa tugas selanjutnya berada di tangan Polinela untuk mengelola dan membangun lahan yang telah diberikan. "Tanah sudah kita serahkan, tinggal Polinela yang membangunnya. Pemerintah akan terus mendukung pengembangannya," ujarnya.

Sarono, Direktur Polinela menyatakan kesiapan kampus untuk terus mendukung pembangunan daerah. Saat ini Polinela memiliki 35 Program Studi (Prodi), termasuk program magister dan sedang menyiapkan program doktor. Fokus utama Polinela adalah menjadikan lulusan sebagai penggerak inovasi dan pelaku ekonomi lokal, terutama di sektor pertanian dan teknologi.

Setelah acara seremonial, Gubernur Provinsi Lampung beserta jajarannya melakukan tour kampus untuk melihat langsung sarana dan prasarana, serta area pertanian milik Polinela. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa turut memperkenalkan hasil-hasil pertanian inovatif, seperti melon yang bisa dikonsumsi langsung dengan kulit dan bijinya, serta selada hidroponik, dan produk hortikultura lainnya.

Silvi Nur Fadila Alfi, Mahasiswa Prodi Teknologi Perbenihan (Tekben) memperkenalkan melon yang dapat dikonsumsi langsung bersama kulit dan bijinya. Ia berharap hal ini dapat diketahui oleh banyak orang. “Keunggulan melon ini adalah bisa langsung dimakan bersama kulit dan bijinya. Harapan saya, orang-orang bisa tahu bahwa ternyata ada loh jenis melon yang bisa dikonsumsi langsung tanpa perlu dikupas,” tutupnya. 

Melalui penyerahan hibah tanah, dukungan terhadap riset terapan, serta apresiasi terhadap inovasi mahasiswa, hal tersebut menjadi simbol komitmen bersama antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Polinela dalam mewujudkan pendidikan vokasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Semua upaya ini sejalan dengan semangat "Bersama Lampung Maju, Menuju Indonesia Emas 2045". (*)

Penulis : Suci Fadhilah, Wahyu Sani

Penyunting : Nayla

The Art of Cue, Satukan Komunitas Seni di Lampung

Suasana “The Art of Cue” di Billiard Coffee & Resto J-Cores | Perssukma.id/Fauzan 

Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKM BS) mengadakan kegiatan Arts Central Collaboration dengan tema “The Art of Cue” pada Sabtu, 19 Juli 2025. Acara ini dilaksanakan di Billiard Coffee & Resto J-Cores dan diikuti oleh delegasi dari berbagai Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Politeknik Negeri Lampung (Polinela), serta aliansi komunitas seni dari berbagai Universitas di Lampung.

Kegiatan Arts Central Collaboration ini menghadirkan kolaborasi seni antar mahasiswa dari berbagai kampus, seperti Universitas Lampung (Unila), Universitas Malahayati (Unmal), dan Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya (IIB Darmajaya). Tema “The Art of Cue” diambil dari istilah dalam permainan biliar, yaitu cue yang berarti stik biliar.

M. Risky, Ketua Pelaksana (Ketuplak) mengungkapkan tema ini dipilih karena stik biliar dianggap mampu menggambarkan arah dan proses dalam berkesenian. “Cue itu kan alat yang mengarahkan, sama seperti seni yang mengarahkan ekspresi dan makna,” ujarnya.

Risky juga menyampaikan pandangannya terkait perkembangan seni di kalangan mahasiswa. Ia menilai bahwa minat terhadap seni semakin meningkat dan menjadi ruang yang menyenangkan untuk berekspresi. “Sekarang ini banyak yang senang dengan seni karena bisa jadi tempat pelarian yang positif,” katanya.

Dalam acara ini ditampilkan berbagai pertunjukan dan pameran karya seni, seperti lukisan, mural, serta presentasi karya visual. Selain itu, hadir pula pemateri utama yaitu seniman muda Angga Wahyu atau dikenal dengan nama Lawapop, yang membagikan pandangannya mengenai dunia seni masa kini. "Seni itu tiap era berbeda, bedanya kalau jaman saya dulu belajar dari basic dari bawah bener. Misalnya, kaya pensil ini gunanya buat apa sejarahnya, bahannya, jenisnya termasuk kertasnya cetak manual atau print. Sedangkan sekarang kayaknya yang aku perhatiin serba instan mungkin ya," jelasnya.

Angga Wahyu adalah seorang seniman muda yang meniti karier di dunia seni rupa melalui proses belajar secara otodidak dan kemudian mengembangkannya melalui komunitas seni. Dalam setiap karyanya, ia sering mengangkat isu-isu sederhana yang diambil dari kehidupan sehari-hari dan menyampaikannya melalui pendekatan visual.

Dalam berkarya, Angga menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam dunia seni bukan terletak pada proses kreatif, melainkan pada bagaimana seni bisa menjadi sumber penghidupan. “Tantangan seni bukan pada proses kreatif, melainkan bagaimana seni bisa menjadi sumber penghidupan. Seperti persoalan ekonomi, yang kerap kali menjadi ujian tersendiri bagi para pelaku seni,” ujarnya.

Nurizki Akhmar, salah satu pengunjung menilai bahwa acara ini sangat positif karena dapat menyatukan berbagai bentuk seni. “Seni itu menyenangkan karena memberi ruang untuk berekspresi dan berkarya dengan bebas. Acara ini juga sangat positif karena bisa menyatukan berbagai karya seni,” tuturnya.

Risky berharap ke depannya UKM BS bisa semakin aktif dan solid dalam menjalankan program-program selanjutnya. “Semoga lebih kompak, lebih sering mengadakan kegiatan, dan bisa terus berkembang,” tutupnya. (*)


Penulis: Rahma Yulianti Safitri, Fauzan

Penyunting : Sani 

 

 


Tips & Trik Menghindari Stres Saat Kuliah

    

 

Cara Terbaik Menghindari Stres Saat Menjalanni Perkuliahan | Perssukma.id/Arya Rahmatullah 

Halo, Sobat Sukma!

Siapa sih di antara kalian yang nggak pernah ngerasain stres? Kuliah itu masa-masa yang seru, tapi di balik keseruannya, stres jadi salah satu tantangan yang paling sering dirasakan mahasiswa. Gimana enggak? Tuntutan akademik yang tinggi, tekanan sosial, sampai mikirin masa depan bisa bikin kepala penat. Kalau nggak diatasi dengan baik, stres bisa berdampak buruk, baik ke fisik maupun mental.

 

Penyebab Umum Stres

1. Manajemen Waktu yang Kurang Baik
    Sulit mengatur waktu bisa bikin tugas numpuk dan stres.

    Cobalah untuk membuat jadwal harian atau daftar prioritas agar semuanya lebih teratur.

2. Tekanan Sosial & Ekspektasi
    Tuntutan dari lingkungan atau ekspektasi yang tinggi, baik dari orang lain maupun diri sendiri.

    Penting untuk tahu batas diri dan tetap fokus dengan tujuan yang ingin digapai.
3. Terlalu Banyak Mengikuti Organisasi

    Organisasi itu penting, tapi kalau ikut terlalu banyak tanpa mikirin waktu dan energi, 
    bisa-bisa malah bikin stres.
4. Konflik interpersonal dan pertemanan
    Konflik dengan teman, ngerasa nggak diterima, atau drama sosial bisa banget jadi beban pikiran.
5. Masalah Keuangan dan Kehidupan Mandiri
    Mengatur keuangan sendiri sambil belajar hidup mandiri, bisa jadi tantangan besar. Tekanan 
    ini sering memicu stres, apalagi kalau belum terbiasa mengelola pengeluaran dan kebutuhan 
    sehari-hari.

Cara Mencegah Stres

Supaya kuliah kamu enggak berantakan karna stres, ada beberapa kiat yang bisa dicoba loh.

1. Buat Time Management yang baik

    Bikin jadwal yang realistis. Atur waktu buat belajar, istirahat dan main. Prioritaskan tugas
    yang paling penting dan dekat dengan deadline
 2. Jangan Menunda Pekerjaan
    Biasakan untuk menyelesaikan tugas sejak awal, hindari menunda-nunda pekerjaan agar
    tidak terbebani saat deadline    mendekat.
3. Jangan kebanyakan berfikir negatif atau overthinking. Memikirkan hal-hal yang tidak
    penting akan membuatmu stres.
4. Selektif dalam Mengikuti Organisasi
    pilihlah organisasi yang benar-benar sesuai dengan minat, kemampuan, dan tujuan pribadi.
    Fokus pada beberapa kegiatan yang bermakna.
5. Luangkan Waktu untuk Hobi
    Lakukan hal-hal yang bikin kamu senang. Seperti nonton, baca buku, main musik, atau sekadar
    jalan santai di sore hari.
6. Bangun Sistem Dukungan Sosial
    Punya seseorang untuk diajak bicara, entah itu teman dekat atau keluarga, bisa sangat membantu
    mengurangi stres. Jangan dipendam sendiri.

dalam perkuliahan memang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun, dapat dikelola dengan baik
melalui perencanaan, gaya hidup sehat, dan dukungan sosial. Dengan memahami sumber stres
serta menerapkan strategi yang tepat, mahasiswa dapat menjalani masa kuliah dengan lebih produktif,
sehat, dan bahagia. (*) 

Penulis : Piji Tri Patriot

Penyunting : Refiah

Polinela Gelar Pemaparan Visi Misi Calon Direktur Baru

Suasana penyampaian visi dan misi bakal calon Direktur Polinela periode 2025–2029 di GSG Polinela| Perssukma.id/Rino Eqi Pratama

Kamis, 10 Juli 2025, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menyelenggarakan acara penyampaian visi dan misi bakal calon Direktur Polinela untuk periode 2025–2029. Acara ini merupakan rangkaian proses demokratisasi kampus dalam memilih pemimpin baru dan dilaksanakan secara terbuka di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.

Acara dibuka oleh Ketua Senat Polinela, dilanjutkan dengan arahan dari perwakilan kementerian serta penyampaian tata tertib. Kegiatan ini turut dihadiri oleh dosen, jajaran pimpinan kampus, dan sivitas akademika Polinela karena bersifat sidang terbuka.

Terdapat empat orang kandidat yang terpilih menjadi bakal Calon Direktur Polinela 2025-2029, yaitu:

  1. Dr. Irmayani Noer, S.P.,M.Si.
  2. Dr. Ir. Beni Hidayat, M.Si
  3. Eko Win Kenali, S.Kom. M.Cs
  4. Dr. Dwi Puji Harto, S.Pi, M.Si,

Masing-masing kandidat menyampaikan visi dan misi secara bertahap selama 10 menit, dimulai dari bakal calon nomor urut satu hingga empat. Mereka memasuki ruangan GSG Polinela secara bergantian dari ruang tunggu yang telah disiapkan di lokasi berbeda. Setelah memaparkan visi dan misi, setiap calon juga menjawab pertanyaan dari audiens.

Sarono, Direktur Polinela menilai bahwa seluruh bakal calon telah menunjukkan kesiapan yang matang. “Tentu mereka sudah berusaha secara maksimal, ditambah dengan pengalaman, rekam jejak, dan kompetensi di bidangnya masing-masing. Mereka telah memaparkan visi dan misi dengan jelas, lugas, dan sesuai dengan cita-cita serta potensi yang mereka miliki,” ujarnya.

Seiring perkembangan institusi, Sarono menekankan bahwa tantangan yang akan dihadapi Polinela ke depan cukup besar, terutama terkait rencana transformasi menjadi Universitas Terapan Lampung. “Tantangannya tentu semakin besar, seiring perkembangan Polinela. Yang pertama, adalah rencana transformasi Polinela menjadi Universitas Terapan Lampung kemudian, peningkatan jumlah mahasiswa (student body), kapasitas institusi, dan kualitas pendidikan dosen. Kami menargetkan bahwa 30 persen Dosen Polinela harus bergelar S3,” lanjutnya.

Selain itu, peningkatan sarana dan prasarana dalam menunjang kelancaran proses belajar-mengajar juga menjadi prioritas. Termasuk di dalamnya adalah penyediaan fasilitas pendukung akademik dan nonakademik yang lebih memadai. Sarono menegaskan bahwa ini bukanlah tugas ringan, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen dari seluruh sivitas akademika, baik institusi, dosen, mahasiswa, maupun pemangku kepentingan lainnya.

Mewakili mahasiswa, Iskandar Ibnu Failis, Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Polinela menyampaikan harapannya terhadap direktur yang akan terpilih. “Tantangan yang harus diselesaikan oleh Direktur Polinela ke depannya adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan fasilitas kampus yang belum memadai karena yang kita tau ada beberapa fasilitas yang menurut saya kurang seperti contoh di gedung lab terpadu yang baru itu kursi ada banyak yang kurang layak di pakai. Selain itu, direktur juga harus dapat meningkatkan kesempatan kerja bagi lulusan Polinela dan memperkuat hubungan dengan industri” ungkapnya.

Iskandar juga berharap agar direktur terpilih dapat menjadi pemimpin yang peduli pada kebutuhan mahasiswa. “Saya berharap Direktur Polinela yang akan terpilih dapat menjadi pemimpin yang peduli terhadap kebutuhan mahasiswa dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Saya juga berharap direktur dapat menjadi pendengar yang baik dan terbuka terhadap aspirasi mahasiswa,” tutupnya.(*)

Penulis: Nurul Refiah, Rino Eqi

Penyunting: Nayla

 

 

Polinela Bentuk Satgas, Perkuat Pencegahan Narkoba

Foto bersama setelah Stadium General Pencegahan Narkoba di GSG Polinela|Perssukma.id/Nando Atmajaya

Rabu, 9 Juli 2025, Satuan Tugas (Satgas) Anti Narkoba secara resmi dilantik oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung. Pelantikan ini merupakan bentuk upaya kampus dalam menekan penyalahgunaan narkoba di kalangan mahasiswa. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Wakil Direktur (Wadir) III Politeknik Negeri Lampung (Polinela), dan pelantikan dilangsungkan dalam acara Stadium Generale yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.

Fatturahman Kurniawan Ikhsan, Pembina Organisasi Mahasiswa Anti Narkoba (OMAN), menjelaskan bahwa pembentukan Satgas Anti Narkoba di Polinela merupakan langkah nyata dari arahan pimpinan kampus. “Pembentukan Satgas ini sesuai dengan arahan pimpinan kampus, dengan tujuan utamanya meminimalkan penyalahgunaan narkoba di Polinela dan mewujudkan kampus bersih narkoba,” jelasnya.

Pelantikan Satgas juga disertai dengan deklarasi komitmen anti narkoba melalui penandatanganan pakta integritas oleh pimpinan dan jajaran direksi kampus sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Kegiatan ini juga bertetapkan dalam rangka memperingati Hari Narkoba Internasional.

Terkait program ke depan, Fatturahman menyebutkan bahwa Satgas akan kembali aktif saat pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan menyisipkan materi pencegahan narkoba. Rekrutmen anggota baru Satgas pun akan kembali dibuka.  “Kegiatan berikutnya akan menyasar mahasiswa baru melalui PKKMB, dan akan dilanjutkan dengan rekrutmen anggota baru. Selain itu, kami juga akan memperbanyak konten edukatif di media sosial agar mahasiswa bisa mengenal jenis-jenis narkoba serta dampaknya,” ungkapnya.

Selain pelantikan, tedapat Stadium Generale yang menghadirkan pemaparan materi dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung. Dengan tema “Cerdas Tanpa Narkoba, Kreatif Membangun Bangsa, Wujudkan Kampus Bebas Narkoba” ini membahas mengenai situasi terkini penyalahgunaan narkoba di daerah, serta strategi edukasi untuk kalangan mahasiswa.

Fatturahman menambahkan bahwa Stadium Generale bertujuan untuk mengedukasi mahasiswa tentang bahaya narkoba yang semakin marak, khususnya di wilayah Lampung. “Remaja yang terindikasi narkoba umumnya karena keinginan mencoba. Maka dari itu, BNN tadi menegaskan bahwa tidak boleh coba-coba, karena efeknya adiktif dan bisa merusak mental, otak, hingga keuangan,” tambahnya.

Norman Wijaya Widjajadi, Kepala BNN Provinsi Lampung menyampaikan bahwa penanganan permasalahan narkoba harus dilakukan secara kolektif dan melibatkan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan. “Penanganan masalah narkoba ini tidak bisa ditangani sendiri, baik oleh BNN maupun pihak-pihak lainnya. Harus ditangani secara bersama-sama, termasuk dari pihak kampus. Tadi sudah dilantik Satgas di lingkungan kampus, itu bisa menjadi langkah konkret,” jelasnya.

Jamaludin Adimiharja, Ketua Pelaksana (Ketuplak) kegiatan berharap agar mahasiswa dapat lebih berani, tegas, dan tanggap terhadap isu narkoba. “Saya ingin mahasiswa punya keberanian untuk bertindak. Sekarang, dengan kecanggihan media sosial, kita bahkan bisa mengajak teman-teman tanpa harus menegur langsung cukup dengan membagikan informasi positif atau melapor kepada dosen jika menemukan adanya penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus,” tutupnya. (*)

Penulis: Nando Atmajaya, Yuki Elizabet

Penyunting: Rizky

 

 

 


 

Tindak Lanjut Aspirasi, BEM KBM Audiensi ke DPRD

 

Suasana audiensi di dalam Ruang Sidang Kantor DPRD | Perssukma.id/Arya Rohmatuloh


Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengadakan audiensi lanjutan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung pada Senin, 7 Juli 2025. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari audiensi sebelumnya dengan pimpinan kampus, di mana Mahasiswa Polinela berdiskusi langsung dengan Komisi V DPRD.

Audiensi ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat menengah dan tinggi. Isu yang diangkat mencakup rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi, serta ketimpangan infrastruktur pendidikan di Provinsi Lampung. Mengingat Lampung merupakan provinsi dengan APK terendah di Sumatera, kondisi ini menjadi perhatian serius dan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah maupun pusat.

Dalam audiensi ini terdapat 5 poin yaitu:

1. Dampak implementasi Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2025.

2. Kelayakan kurikulum pendidikan menengah dan tinggi yang relevan di era Society 5.0.

3. Kesiapan pengajar untuk mengimplementasikan pembelajaran di perguruan tinggi.

4. Rendahnya angka partisipasi kasar perguruan tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

5. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang tidak selaras dengan nilai rapor siswa.

Menanggapi isu-isu tersebut, audiensi berfokus pada topik pembaruan dan dinamika perubahan kurikulum nasional. Salah satu hal yang disoroti adalah kecenderungan perubahan kurikulum setiap kali terjadi pergantian menteri. Hal ini dipandang sebagai kewenangan pusat, namun mahasiswa berharap dapat diaspirasikan lebih lanjut ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung yang hanya mencapai 72,48 terendah di wilayah Sumatera menjadi alasan kuat untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Dalam forum tersebut, pihak DPRD menjelaskan bahwa pembagian tanggung jawab pengelolaan pendidikan telah diatur sesuai dengan kewenangan masing-masing, pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab atas jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), pemerintah provinsi mengelola Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sementara perguruan tinggi berada di bawah naungan kementerian.

Meski banyak kebijakan ditentukan oleh pemerintah pusat, DPRD Provinsi Lampung menyatakan akan mengoordinasikan dan menyampaikan seluruh aspirasi mahasiswa ke DPR RI. Isu terkait lemahnya kesiapan sumber daya manusia dari jenjang SMP ke SMA, yang kemudian berdampak pada mutu mahasiswa di perguruan tinggi, juga menjadi sorotan dalam pertemuan tersebut.

Mahasiswa turut menekankan pentingnya kegiatan praktikum serta peran Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai dasar utama dalam pendidikan tinggi. DPRD menyampaikan bahwa poin-poin tersebut akan dikaji secara akademis melalui pendekatan muatan lokal dan otonomi pendidikan, sebagai upaya mendorong penguatan mutu pendidikan di tingkat daerah.

Bagus Eka Saputra, Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM Polinela menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi pencapaian penting karena aspirasi mahasiswa didengar secara langsung oleh pemerintah. “Pencapaiannya adalah ketika aspirasi kami didengar secara langsung dan langsung disampaikan hingga pemerintah pusat. Saat audiensi tadi, kebetulan bersamaan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi, sehingga bisa menjadi bahan evaluasi untuk lima tahun ke depan,” ujarnya.

Budhi Condrowati, perwakilan Komisi V DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) 6 menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa dan berkomitmen untuk mengawal isu pendidikan yang dibawa. “Kami mengapresiasi semangat kalian dalam mengawal isu pendidikan. Komisi V berkomitmen untuk menyampaikan aspirasi kalian ke tingkat yang lebih tinggi. Meskipun waktu terbatas karena Pansus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), kami akan menjadikan ini bahan rekomendasi resmi ke pusat,” jelasnya.

Bagus berharap mahasiswa tetap peka terhadap isu-isu pendidikan dan terus mengawal proses demokrasi demi pendidikan yang lebih layak. “Harapannya, kita sebagai mahasiswa harus lebih memperhatikan permasalahan ini ke depannya dan bisa lebih peka terhadap masalah-masalah yang ada. Kita akan terus mengawal proses demokrasi ini hingga pendidikan kita menjadi lebih layak untuk Indonesia,” tutupnya. (*)

 

Penulis: Arya Rohmatuloh, Jhon Hannan Sipakkar

 Penyunting: Heidy

 


Polinela Jadi Tuan Rumah Voli POMPROV 2025

 

Suasana di Lapangan Voli Belakang GSG Polinela| Perssukma.id/Fitria Apriani


Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menjadi tuan rumah ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi Lampung (POMPROV) 2025. Kegiatan ini dimulai pada Jumat, 4 Juli 2025, di lapangan belakang Gedung Serba Guna (GSG) Polinela dan dibuka oleh Wakil Direktur (Wadir) III, Agung Adi Chandra. Mengusung tema “Unjuk Potensi, Junjung Sportivitas, Raih Prestasi” kegiatan ini berlangsung hingga 6 Juli 2025. 

Ajang kompetisi ini mempertandingakan dua cabang lomba yaitu voli indoor dan voli pasir. Perlombaan voli dalam ajang ini mencakup kategori voli indoor untuk putra dan putri, serta voli pasir dengan dua format, yaitu 2x2 dan 4x4, yang masing-masing juga dipertandingkan untuk putra dan putri. Perlombaan dilaksanakan di lapangan belakang GSG Polinela dan diikuti oleh 19 tim, diantaranya dari Universitas Lampung (Unila), Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), dan Universitas Aisyah Pringsewu (UAP).

Taufik, Wasit Pertandingan menilai bahwa perlombaan ini sangat tepat untuk dilaksanakan di Polinela, mengingat ini bukanlah hal yang baru bagi Polinela. “Menurut saya perlombaan ini bagus untuk dilaksanakan, apalagi bagi Polinela ini bukanlah hal yang baru. Sekaligus sebagai ajang silaturahmi, untuk mengenalkan kampus Polinela kepada khalayak yang lebih luas,” ujarnya. 

Rifa Nabela Putra, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menjelaskan bahwa persiapan acara ini berjalan dengan lancar sesuai peraturan Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI). “Persiapannya alhamdulillah berjalan dengan lancar, sesuai dengan peraturan BAPOMI. Kita juga sudah menyiapkan tempat rest mereka, istirahatnya di mana, penyediaan fasilitas seperti lapangan, serta tempat peserta serta keamanan peserta,” jelasnya. 

Dimas Andhika, peserta lomba voli indoor putra dari tim Unila mengungkapkan motivasi nya dalam mengikuti perlombaan agar timnya masuk ke Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS). “Motivasi tim saya mengikuti POMPROV ini, agar Unila itu bisa masuk ke jenjang selanjutnya yaitu POMNAS,” ungkapnya.

Dimas juga menyoroti fasilitas yang diberikan oleh panitia, yang menurutnya sudah cukup memadai. “Fasilitas sudah cukup memadai ya, karena kan kita juga indoor, di sini cukup baguslah, minum ada, tempat teduh ada, bangku-bangku juga ada, jadi bagus,” ujarnya. 

Dimas juga menambahkan pesan untuk perlombaan di tahun berikutnya agar tuan rumah bisa menjadi lebih baik lagi agar voli di Lampung bisa lebih maju. “Pesannya, semoga tuan rumah dalam perlombaan ini bisa menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya agar voli di Lampung bisa lebih maju,” pesannya.

Taufik juga berharap agar nantinya POMPROV ini dapat diperluas kembali untuk jangkauan peserta yang dapat mengikuti ajang perlombaan tersebut dan bila perlu dapat mencakup nasional. “Tentunya harapan kita kedepan, agar diperluas kembali, khususnya untuk peserta-peserta yang mengikuti pertandingan ini diperluas seluruh Lampung, apabila perlu memang nanti kita ke nasional, kita sebagai tuan rumahnya,” tutupnya. (*)

Penulis : Ningrum, Fitria Apriani
Penyunting : Tia





Krakatau Festival 2025, Tampilkan Lampung Mask Street Carnaval

 

  Suasana Krakatau Festival di Lapangan Korpri Bandar Lampung| Perssukma.id/Yunika

 

Krakatau Festival (K-Fest) 2025 resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, di Lapangan Korpri, Bandar Lampung. Memasuki tahun ke-34 penyelenggaraannya, festival budaya tahunan ini mengusung tema “Nemui Nyimah” yang merefleksikan sikap ramah, rendah hati, dan keterbukaan masyarakat Lampung dalam menyambut keberagaman, pada Sabtu, 5 Juli 2025

Nemui Nyimah mengartikan bahwa masyarakat lampung sangat sangat menjunjung kerumah tambahan dan sangat menghormati tamunya, atau mengadopsi istilah jaman sekarang Welcome dan humble terhadap tamunya.

Jihan Nurlela, menjelaskan bahwa tema tersebut tidak dipilih secara kebetulan, melainkan 
mencerminkan filosofi hidup masyarakat Lampung yang sangat relevan dengan arah pembangunan pariwisata saat ini. “Nemui Nyimah adalah sikap inklusif dan terbuka terhadap perubahan. Ini menjadi kekuatan Lampung dalam menghadapi tantangan global,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa K-Fest merupakan ajang penting untuk menunjukkan daya saing pariwisata Lampung. Di tengah banyaknya festival budaya lain di Indonesia, K-Fest tetap bertahan dan berkembang. Hal ini membuktikan konsistensinya sebagai agenda budaya unggulan, bahkan masuk dalam 110 acara nasional Karisma Event Nusantara (KEN) 2025.

Festival yang berlangsung selama enam hari ini menghadirkan berbagai kegiatan menarik, mulai dari Festival Kanikan (1-6 Juli), Pameran Pasar Wisata dan Produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Ekonomi Kreatif (4-6 Juli), hingga Lomba Kreasi Sambal Uleg Seruit Lampung dan Lampung Mask Street Carnaval 2025 pada hari pembukaan. Puncak acara tanggal 6 Juli dimulai dengan Krakatau Run di pagi hari dan ditutup dengan Malam Pesona Kemilau K-Fest.


Festival ini tidak hanya menyajikan parade budaya dan pertunjukan seni, tetapi juga melibatkan mahasiswa sebagai volunteer. 

Nesa Enggi Parera, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengelolaan Konvensi dan Acara (PKA) Politeknik Negeri Lampung (Polinela). “Peran saya sebagai Liaison Officer (LO) adalah mendampingi artis selama acara, memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Selain itu, saya juga membantu keperluan teknis seperti mikrofon, meja tambahan, dan hal-hal mendesaklainnya,” ujarnya.

Keterlibatan mahasiswa ini merupakan bentuk kolaborasi antara dua prodi di Polinela, yakni Prodi Perjalanan Wisata (PW) dan PKA. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa melalui praktik di lapangan.

Salah satu acara dalam rangkaian K-Fest tahun ini adalah Lampung Mask Street Carnaval 2025, sebuah karnaval budaya yang menampilkan kekayaan seni dan tradisi masyarakat Lampung dalam bentuk parade kostum topeng.

Bella Novelia Antika, peserta parade budaya dari Sekolah Menengah Atas Negri (SMAN) 4 Bandar Lampung menyoroti kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal. “Menurut saya, kepedulian anak-anak zaman sekarang agak kurang karena terlihat lebih mengikuti budaya luar. Jadi lebih modern,” ungkapnya.

Ia berharap budaya Lampung bisa semakin dikenal, bahkan hingga ke kancah internasional. “Semoga budaya kita lebih dikenal banyak orang lagi. Bisa sampai internasional. Dan anak -anak mudanya lebih banyak yang ingin melestarikan budaya Lampung,” tambahnya.

Melly Ayunda, Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pemasaran Pariwisata Lampung mengatakan pentingnya keterlibatan anak muda dalam pelestarian budaya daerah. “Saya berharap generasi muda dapat terus mencintai, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya yang ada di Provinsi Lampung. K-Fest ini merupakan bagian dari pelestarian nilai seni dan budaya. Sudah seharusnya kita bangga dan ikut serta dalam menjaga warisan budaya ini,” tutupnya.

K-Fest 2025 ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wadah pelestarian budaya dan
pengembangan pariwisata Lampung. Dengan rangkaian acara yang beragam dan keterlibatan aktif generasi muda, festival ini diharapkan dapat terus menjadi kebanggaan masyarakat Lampung dan menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.(*jhon)

Penulis : Natasya Rohimah, Yunika Maritasari

Penyunting : jhon

Penutupan BMQ Polinela 2025, Gaungkan Semangat Hijrah

Suasana kajian dalam penutupan BMQ | Perssukma.id/Heidy Putri Shafira 

Sabtu, 5 Juli 2025, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Banna Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar penutupan kegiatan Belajar Membaca Qur’an (BMQ) sekaligus Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Tahun Baru Islam 1447 Hijriah di Masjid Al-Banna Polinela. Acara ini mengusung tema “Bersama Al-Qur’an Kita Kuatkan Semangat Hijrah dan Ukhuwah Islamiyah”.

Kegiatan ini diselenggarakan setiap akhir semester sebagai penutup program BMQ untuk Program Studi (Prodi) yang memiliki mata kuliah Agama Islam. Prodi yang terlibat di antaranya adalah Manajemen Informatika (MI), Pengelolaan Agribisnis (PAGB), dan Akuntansi Bisnis Digital (AKBD). Acara juga turut menghadirkan pemateri, Ustaz Zulpan Hadi.

Sudiyo, Pembina UKM Al-Banna menyatakan bahwa acara ini memiliki urgensi dan nilai strategis yang tinggi. “Tentu ini sesuatu yang sangat strategis, sangat urgen, dan sangat penting karena sebagai mahasiswa-mahasiswi yang akan menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang seutuhnya, tentu tidak hanya perlu pengetahuan, tidak hanya perlu keterampilan, tapi juga bagaimana kita memiliki integritas dari sisi moralitas dan spiritualitas kita,” ujarnya.

Sudiyo juga menambahkan pentingnya membangun ukhuwah atau persaudaraan di lingkungan kampus. “Ukhuwah, persaudaraan ini tentu harus diawali oleh sebuah kesadaran ya, bahwa kita ini bersaudara. Menguatkan persaudaraan itu dengan cara kita sering bersilaturahmi, bertemu satu dengan yang lain, saling menanyakan kabar, saling mengetahui apa yang dibutuhkan, apa yang diperlukan. Pada akhirnya ini ta'awun, saling tolong-menolong,” tambahnya.

Dzikri Hakim, Ketua Pelaksana (Ketuplak) mengungkapkan bahwa persiapan acara ini hanya berlangsung selama dua minggu karena menghadapi sejumlah kendala. “Persiapannya ini seharusnya sudah dari lama, akan tetapi kami selalu ada ujian, mungkin dari Allah, ya untuk UKM Al- Banna agar terus kuat. Jadi untuk persiapan ini kami sudah melakukan kurang lebih sekitar dua minggu. Dan terkait kendala, ada pada kader, yaitu sangat kesulitan mencari anggota,” ujarnya.

Meski begitu, Dzikri menyampaikan bahwa partisipasi peserta justru melampaui ekspektasi panitia. “Untuk partisipasi, alhamdulillah ya, baik. Untuk peserta itu malah tidak sesuai ekspektasi kami. Ekspektasi kami itu tidak lebih tinggi dari hari ini jumlah pesertanya. Tapi tadi pagi melihat partisipasi, ya, sangat banyak, terutama yang akhwat,” tambahnya.

Rizky Geraldinko, Mahasiswa Prodi MI mengatakan ketertarikannya mengikuti acara ini untuk membangun relasi dan mendapatkan ilmu. “Pertama, untuk memperingati Hari Besar Islam. Kedua, sebagai penutupan BMQ, kami wajib hadir karena bisa membangun relasi dan mendapatkan ilmu baru,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan ilmu agama dalam konteks digital, terutama dalam menyikapi komentar di internet. “Kalau saya sebagai anak informatika, mungkin penyebaran dari internet, ya. Tadi kan ada pembahasan tentang orang yang berkomentar, apa-apa bawa agama, nah itu bisa diluruskan juga. Karena ada orang yang bercanda, ada juga orang yang serius, jadi tergantung kita menyikapinya,” tutupnya.

Acara ditutup dengan pemberian hadiah kepada peserta paling aktif bertanya dan kelompok terbaik dalam program BMQ. Penilaian didasarkan pada tiga aspek, yaitu kehadiran (70%), mutabaah (20%), dan tugas BMQ (10%).

Melalui kegiatan ini, UKM Al-Banna tidak hanya menutup rangkaian Program BMQ, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi mahasiswa dalam menguatkan semangat hijrah di kehidupan akademik dan sosial. Dengan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi moral dan spiritual, acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat Ukhuwah Islamiah di lingkungan kampus. (*)


Penulis : Heidy Putri Shafira, Nayla Putri Syafira A.

Penyunting : Sani

BEM KBM Polinela Audiensi Bersama Pimpinan Kampus

Foto bersama setelah audiensi selesai | Perssukma.id/dok. BEM KBM Polinela


Jumat, 4 Juli 2025, audiensi antara mahasiswa dan Direktur Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dilaksanakan di Ruang Sidang A. Kegiatan ini diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM), dengan melibatkan para Gubernur Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sebagai perwakilan dari masing-masing jurusan.

Audiensi bertujuan untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa, khususnya terkait persoalan akademik dan fasilitas penunjang pembelajaran. Isu-isu yang disoroti meliputi kurikulum, kualitas tenaga pengajar, serta kurangnya dukungan media digital seperti literasi digital dalam proses pembelajaran.

Dalam forum tersebut mahasiswa mengajukan tujuh poin tuntutan, yaitu:
1. Transparansi Dana Operasional Tahunan 
2. Kerusakan Alat pada Unit Pelaksana Teknis (UPT)
3. Padamnya Listrik saat Proses Pembelajaran Berlangsung
4. Permasalahan pada Sistem Website E-Kuliah dan Learning Management System (LMS)
5. Kurangnya Fasilitas Penunjang Keberlangsungan Pembelajaran
6. Sistem Parkir yang Belum Tertata dengan Baik
7. Profesionalisme Tenaga Pengajar yang Perlu Ditingkatkan

Bagus Eka Saputra, Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM Polinela menyampaikan bahwa forum ini menjadi sarana penyampaian keresahan mahasiswa. “Untuk audiensi yang kami buat itu untuk menyuarakan aspirasi dari kawan-kawan mahasiswa yang menyoroti adanya penurunan permasalahan kurikulum kemudian untuk tenaga pengajar dan kurangnya media digital,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga mengangkat kekhawatiran lain, seperti permasalahan kurikulum perguruan tinggi, kesiapan dosen dalam mengimplementasikan pembelajaran, dan ketidaksesuaian antara nilai rapor dengan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), serta perlunya penguatan teknologi dan literasi digital.

Menanggapi hal tersebut, Sarono, Direktur Polinela menegaskan bahwa kurikulum vokasi terus disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. “Kurikulum kami selalu mengacu pada kebutuhan industri. Setiap pembaruan mengikutsertakan masukan dari pelaku usaha. Bahkan, kami sedang menunggu Rencana Strategis (Renstra) terbaru dari kementerian yang menjadi pedoman lima tahunan dalam pengembangan kurikulum,” ujarnya.

Sarono juga menambahkan bahwa secara kualifikasi, mayoritas dosen Polinela sudah memenuhi standar. “Mayoritas dosen kami sudah berkualifikasi S2 yang linier dengan bidangnya. Soal kesejahteraan, kami pastikan efisiensi anggaran tidak memengaruhi gaji dosen. Kami juga mencegah agar Polinela tidak hanya menjadi tempat singgah sementara bagi tenaga pengajar,” tambahnya.

Bagus menyampaikan adanya ketidaksesuaian antara nilai rapor yang tinggi dengan hasil TKA yang rendah dalam seleksi mahasiswa baru. Hal ini menimbulkan pertanyaan terhadap integritas sistem penilaian di jenjang sebelumnya. “Kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara nilai rapor yang tinggi dengan hasil TKA yang justru rendah dalam proses seleksi mahasiswa baru. Ini menimbulkan pertanyaan mengenai integritas sistem penilaian di jenjang pendidikan sebelumnya,” ujarnya

Menanggapi hal tersebut, Sarono menjelaskan bahwa pihak kampus membuka berbagai jalur seleksi guna memperluas akses pendidikan. “Kami membuka banyak jalur agar akses pendidikan merata. Namun tetap ada seleksi dan pembatasan, termasuk berdasarkan usia dan
kelayakan akademik. Soal ketidaksesuaian nilai, ini memang menjadi evaluasi bersama dengan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan,” tegasnya.

Terkait persoalan Angka Partisipasi Kasar (APK), Sarono menekankan pentingnya peran serta pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas dan beasiswa, agar akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi semakin terbuka. “Kalau APK suatu daerah yang tinggi dan reaktifitas masyarakat di sini sangat bagus. Potensi-potensi ekonomi itu bisa dikembangkan sangat baik. Contohnya, Yogyakarta itu miskin secara sumber daya alam, tapi karena APK nya tinggi, masyarakatnya mampu mengolah potensi sekecil apa pun. Itu kekuatan pendidikan,” ujarnya.

Sarono mengungkapkan bahwa APK di Provinsi Lampung masih tergolong rendah, berada di peringkat tiga terbawah secara nasional. “APK Lampung masih rendah, hanya sekitar 20–30 persen, jauh di bawah Yogyakarta yang sudah mencapai 74 persen,” jelasnya.

Bagus menanggapi apabila tidak ada langkah konkret dari pihak pimpinan untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut, maka akan dilakukan tindak lanjut secara bertahap. Hal ini dapat berupa audiensi lanjutan maupun dialog langsung dengan pihak pimpinan bersama mahasiswa lainnya. “Jika memang tidak ada tindakan lanjutan, kemungkinan besar kami akan mengadakan audiensi lagi ataupun ngobrol langsung dengan pihak pimpinan beserta kawan-kawan mahasiswa yang lain,” tambahnya.

Ia berharap audiensi ini menjadi sarana penyampaian aspirasi mahasiswa agar setiap permasalahan yang disampaikan dapat segera ditangani dan menjadi perhatian serius. “Harapannya dalam audiensi ini adalah kita benar-benar membawakan aspirasi dari kawan-kawan mahasiswa dan keresahan-keresahan yang kita alami bersama agar bisa ke depannya bisa diperbaiki lebih baik lagi,” harap Bagus.

Aditya Dwi Putra, Gubernur HMJ Teknologi Informasi (TI) Polinela menanggapi kegiatan tersebut. “Saya sangat puas ketika BEM melakukan audiensi. Banyak hal yang bisa disampaikan, mulai dari keluhan mahasiswa, persoalan fasilitas, dan berbagai masalah di lingkup kampus yang akhirnya bisa langsung didengar oleh pimpinan Polinela,” ujarnya.

Ia berharap berbagai komitmen dan tanggapan yang telah disampaikan oleh pihak direksi dalam forum tersebut dapat segera ditindaklanjuti dan direalisasikan demi kemajuan kampus. “Semoga apa yang dijanjikan oleh direksi Polinela dapat segera direalisasikan,” tutupnya.(*) 


Penulis : Adit Indra Lesmana, Natasya Rohimah
Penyunting : Nayla

LKS Perikanan Kembali Digelar, Polinela Fasilitasi Seleksi Provinsi

Suasana pembukaan di Ruang Sidang Utama Polinela |  Perssukma.id/Natasya Rohimah

Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bidang Perikanan dan Agribisnis Perikanan menyelenggarakan seleksi Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Provinsi Lampung tahun 2025 khusus sektor Perikanan. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses seleksi sebelum peserta dikirim ke LKS tingkat nasional yang akan berlangsung akhir Juli 2025 di Depok, Jawa Barat.

Acara ini dibuka oleh Direktur Polinela, Sarono serta dihadiri Kepala Bidang SMK Provinsi Lampung dan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Provinsi Lampung pada Senin, 1 Juli 2025 di Ruang Sidang Utama Polinela. Enam SMK dari enam Kabupaten/Kota turut berpartisipasi, yaitu:
1. SMKN 2 Metro (Metro)
2. SMKN 1 Ngambur (Pesisir Barat)
3. SMKN Padang Cermin (Pesawaran)
4. SMKN Ketapang (Lampung Selatan)
5. SMKN 1 Menggala (Tulang Bawang)
6. SMKN 1 Tulang Bawang Tengah (Tulang Bawang Barat)

Lomba LKS sektor Perikanan terdiri dari satu cabang lomba dengan empat sub kompetensi:
1. Pemijahan ikan secara buatan, dilaksanakan pada 1-2 Juli 2025 yang mencakup seleksi induk hingga pemijahan buatan.
2. Packing benih, dilaksanakan pada 2 Juli 2025.
3. Ujian teori tertulis
4. Presentasi makalah, dimana setiap peserta wajib menyusun makalah dan mempresentasikannya di hadapan dewan juri.

Rakhmawati, dosen Polinela yang juga bertindak sebagai juri menjelaskan bahwa kompetisi ini menekankan keseimbangan antara teori dan praktik. “Tahapan lomba dimulai dari pemijahan ikan buatan, pemeliharaan induk, hingga packing benih. Peserta juga diuji kemampuannya dalam ujian teori dan menyusun serta mempresentasikan makalah. Fokus penilaian terletak pada bagaimana peserta mampu menguasai teori sekaligus praktik lapangan, termasuk menghasilkan benih ikan berkualitas siap jual,” ujarnya

Aldi Huda Verdian, Ketua Pelaksana (Ketuplak) seleksi LKS mengungkapkan bahwa selama  sepuluh tahun terakhir, sektor perikanan vakum karena tidak diikutsertakan dalam LKS Nasional oleh kementerian. “Polinela sudah rutin menjadi tempat seleksi LKS sektor perikanan hingga tahun 2015. Namun, bahwa selama 10 tahun terakhir sektor perikanan vakum karena tidak diadakan lomba di tingkat nasional oleh kementerian. Baru pada tahun 2025, sektor perikanan dibuka kembali dalam LKS Nasional. Untuk tahun ini, Polinela menjadi satu￾satunya tempat seleksi yang dilaksanakan di luar SMK, khusus untuk sektor perikanan,” jelasnya.

Rakhmawati menambahkan bahwa sebagai tuan rumah, Polinela menyiapkan seluruh fasilitas lomba seperti laboratorium, akuarium, alat pemijahan, bahan hormon, hingga indukan yang matang gonad. “Kami siapkan semua sarana dan prasarana agar peserta bisa fokus menunjukkan kemampuannya. Penjurian dilakukan oleh dosen, Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP), dan praktisi industri yang kompeten di Perikan Polinela ini,” tambahnya

Dalam penilaiannya, Rakhmawati juga menekankan pentingnya kreativitas dan inisiatif peserta. “Beberapa peserta mengembangkan inovasi seperti alat bantu penetasan, pengujian dosis hormon, serta teknik presentasi dengan nilai Hatchery Rate (HR) dan Survival Rate (SR) yang baik. Ini menunjukkan kesiapan mereka menghadapi tantangan dunia kerja maupun studi lanjut,” jelasnya.

Rahmawati berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni dunia perikanan. “Perikanan itu asyik dan menjanjikan. Di era modern ini, kita justru butuh lebih banyak inovasi agar sektor ini tidak ditinggalkan. Lampung memiliki potensi besar, baik dari perairan tawar maupun laut. Ini peluang besar bagi generasi muda,” harapnya.

Fadilia Auli Azizah, peraih Juara I seleksi, mengungkapkan rasa senangnya dapat mengikuti
perlombaan yang memberikan pengalaman baru dan kepercayaan sebagai perwakilan dari Kabupaten Tulang Bawang Tengah. “Saya mengikuti seluruh rangkaian lomba, mulai dari pemijahan ikan buatan, packing benih, ujian teori, hingga presentasi makalah. Alhamdulillah, tidak ada kendala karena persiapan sudah dibantu melalui pelatihan dari sekolah,” tutupnya. (*)


Penulis : Natasya Rohimah, Novia Faradiba
Penyunting : Refiah