Beranda

Tanggapi Berita Kasus Dugaan Pencurian, Keluarga Pelaku Sampaikan Hak Jawab



Ilustrasi Sanksi tegas pelanggaran kode etik mahasiswa | PersSukma/Ajeng Restu Pharamita

Terkait pemberitaan sebelumnya, 4 Maret 2026 berjudul “Polinela Tindak Lanjuti Laporan Pelanggaran Mahasiswa Pelaku Modus Pencurian”, pihak keluarga dari IIF menyampaikan hak jawab sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers guna memberikan klarifikasi atas informasi yang beredar.

Dalam klarifikasi yang disampaikan, Y sebagai pihak keluarga IIF menjelaskan bahwa yang bersangkutan mengakui telah melakukan pengambilan sejumlah barang milik beberapa korban. “Setelah pulang Praktek Kerja Nyata (PKN) dia memberikan surat pengakuan bahwa ia telah menggadaikan beberapa laptop yang datanya kini sudah diserahkan kepada saya,” jelasnya.

Y menegaskan bahwa IIF tidak melarikan diri dari apa yang telah dia perbuat. Y datang mendampingi IIF ketika forum internal dan telah menandatangani surat bermaterai yang berisi akan bertanggung jawab untuk melunasi semua kerugian korban. “Dia tidak melarikan diri dan mengikuti sidang kedisiplinan kemarin. Kemarin saya mendampingi IIF ke sidang dan sudah mengatakan ke tim sidang kedisiplinan bahwa saya bertanggung jawab untuk melunasi semua yang menjadi beban IIF tersebut, apapun itu,” tegasnya.

Sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Direktur Politeknik Negeri Lampung (Polinela) Nomor:385/DST/PL15/KPTS/2026 tentang Pemberian Sanksi Pelanggaran Mahasiswa Polinela Tahun Akademik (TA) 2025/2026. Bahwa IIF dijatuhkan sanksi akademik berupa skorsing selama 2 semester mulai semester ganjil TA 2025/2026 dan semester genap TA 2025/2026.

Sanksi pelanggaran diberikan sebagaimana tertera pada DIKTUM KESATU terbukti melakukan pelanggaran berupa:

1. Peraturan Akademik Tahun 2020 Bab XIX Pasal 68 No.3 Poin E,

2. Peraturan Kode Etik Bab III Pasal 6 Norma Umum No.27 Mengenai KKN, No.31 Mencemarkan Nama Baik Polinela, No.40 Mencuri Fasilitas Umum,

3. Peraturan Kode Etik Bab IV Pasal 7 Etika Umum Poin O dan Pasal 13 Etika Hubungan Antar Mahasiswa;

Y juga menyampaikan bahwa sebagian barang yang sebelumnya dilaporkan telah diambil kini telah dikembalikan kepada para pemiliknya sebagai bentuk tanggung jawab. “Satu per satu sudah saya selesaikan, silakan tanya kepada para korban. Saya melunasi utang-utangnya dengan cara mencicil. Bukti-buktinya pun sudah saya kirimkan ke wali dosen.” ujarnya.

Y berharap bahwa tidak ada lagi pengadilan dalam media sosial. Ia mengakui bahwa IIF melakukan kesalahan dan sudah bertanggung jawab. “Saya tidak pernah membela anak saya karena saya tahu dia salah. Semoga tidak ada lagi pengadilan dalam media sosial, kami sangat kooperatif untuk menjalankan sanksi dan lainnya yang sudah disepakati bersama,” tutupnya.

Setelah menerima hak jawab pada Selasa, 17 Maret 2026, Pers SUKMA melakukan upaya verifikasi terkait Surat Keputusan (SK) yang prosesnya mengalami kendala karena libur Hari Raya Idul Fitri. Hak jawab ini dimuat sebagai bentuk klarifikasi dari pihak keluarga atas pemberitaan yang telah dipublikasikan sebelumnya, sekaligus sebagai upaya menghadirkan keberimbangan informasi kepada pembaca. (*)


Reporter: Nayla Putri Syafira, Heidy Putri Shafira

Penyunting: Dian

Siapkan SDM Unggul, Jurusan PK Polinela Buka 2 Prodi Baru

Ilustrasi sumber daya unggul di bidang perikanan | PersSukma/Novita Syifa Azahra 


Jurusan Perikanan dan Kelautan (PK) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) resmi membuka pendaftaran Mahasiswa Baru (Maba) Tahun Ajaran (TA) 2026/2027 untuk dua Program Studi (Prodi) baru, yaitu Sarjana Terapan (S1 Terapan) Teknologi Akuakultur dan S1 Terapan Teknologi Cerdas Penangkapan Ikan (TCPI). Langkah ini diambil untuk menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri perikanan saat ini.

 

Pindo Witoko, Ketua Jurusan (Kajur) PK menjelaskan bahwa pembukaan prodi ini telah melalui serangkaian persiapan administratif dan akademik. “Di akhir tahun 2025 itu keluar Surat Keputusan (SK) pembentukan Prodi Teknologi Akuakultur dan TCPI. Kedua prodi tersebut telah didaftarkan untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), yang nantinya akan mulai menerima mahasiswa baru pada TA 2026/2027,” jelasnya. 

 

Kedua prodi tersebut memiliki spesialisasi yang saling melengkapi. Teknologi Akuakultur berfokus pada budidaya, sedangkan TCPI berfokus pada penangkapan ikan. Tujuannya sama, yaitu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya perikanan secara efektif dan berkelanjutan melalui penguasaan alat, sistem, dan metode teknologi yang digunakan di industri perikanan.

 

Kurikulum dirancang berbasis pendidikan vokasi dengan pembelajaran yang menekankan praktik, teknologi, dan penerapan langsung di lapangan. Melalui penerapan teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), sonar, navigasi satelit, hingga sistem pemantauan kapal (vessel monitoring system). 

 

Nur Indariyati, Koordinator Prodi (Kaprodi) Teknologi Akuakultur mengungkapkan bahwa prodi ini dibuka untuk merespons digitalisasi dalam industri perikanan. Pembukaan prodi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk respons terhadap digitalisasi. Industri perikanan yang dulunya bersifat tradisional, kini bertransformasi menjadi sistem intensif berbasis teknologi,” ungkapnya.

 

Denta Tirtana, Kaprodi TCPI menjelaskan bahwa kehadiran prodi ini menjadi solusi strategis bagi Provinsi Lampung yang memiliki potensi kelautan lengkap. Mahasiswa akan dibekali kompetensi menyeluruh yang memadukan keahlian teknis perikanan dan teknologi digital masa kini. “Di sini kita belajar mengenai alat tangkap, kapal, pelabuhan, hingga sosial ekonomi perikanan tangkap. Salah satu yang akan dikembangkan adalah penggunaan sistem informasi berbasis AI untuk membantu membangun SDM di Provinsi Lampung, karena saat ini masih jarang tenaga ahli yang memiliki bidang ilmu perikanan tangkap,” jelasnya. 

 

Muhammad Faris Hakim Al As'ad, Mahasiswa Jurusan PK menilai bahwa pembukaan prodi ini merupakan langkah positif dalam menghadapi perkembangan sektor perikanan modern. “Pembukaan prodi baru ini menunjukkan bahwa jurusan semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama melalui penerapan teknologi seperti smart fishing dan teknologi akuakultur yang membuat mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan industri,” nilainya.

 

Pindo menegaskan bahwa ketersediaan fasilitas praktik maupun tenaga pengajar telah memadai untuk mendukung seluruh kegiatan akademik di kedua prodi baru tersebut. Penggunaan fasilitas dilakukan secara bergantian dengan prodi yang sudah ada sebelumnya. Mengenai sarana dan prasarana tidak ada masalah karena kami menerapkan sistem sharing resource. Peralatan dapat digunakan bersama dengan prodi lama karena memiliki kebutuhan yang hampir sama. Begitu pula dengan tenaga pengajar, kami telah memiliki SDM mumpuni dari prodi sebelumnya karena secara keilmuan masih satu rumpun, hanya berbeda pada jenjang level pendidikannya saja,” tutupnya. (*)



Reporter: Suci Fadhila Rahmawati, Elsa Cahyaningtyas Wahyuni


Penyunting: Akbar




 


Perkuat Toleransi Lewat Diskusi Publik Lintas Iman

 

Diskusi Publik Lintas Iman menjadi ruang dialog untuk memperkuat toleransi dan saling menghargai perbedaan.|Perssukma.id/Dok. Febbi Tri Oktafiani


Aliansi Pemuda Lintas Iman Lampung menggelar Diskusi Publik Lintas Iman bertema “Merawat Keberagaman dalam Spirit Keimanan dan Pancasila” di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) pada Jumat, 13 Maret 2026. Memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan dan masa Paskah, diskusi ini menjadi ajang deklarasi bersama bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan untuk membangun bangsa. 

Diskusi ini digagas oleh aliansi pemuda yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Polinela, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). 

Dwiki Simbolon, Koordinator Wilayah II Pengurus Pusat (PP) GMKI, mengungkapkan kegiatan ini bermula dari keprihatinan terhadap konflik yang pernah terjadi di Lampung. “Lampung memiliki keragaman suku, ras, dan agama yang luar biasa, namun potensi konflik tetap ada. Kami ingin merajut kembali persatuan agar perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan kekuatan,” ungkapnya.

Pihak kampus bersama BEM KBM Polinela memberikan dukungan penuh terhadap diskusi ini sebagai respons atas keberagaman mahasiswa di lingkungan kampus. Forum tersebut dihadirkan untuk menyediakan ruang dialog yang inklusif guna memperkuat semangat toleransi di lingkungan Polinela.

Alifia Safitri, Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM Polinela menegaskan bahwa isu lintas iman ini sangat relevan bagi mahasiswa. “Polinela memiliki beragam suku dan agama, maka dari itu kegiatan ini sangat penting untuk diadakan. BEM KBM Polinela juga bersedia menjadi tuan rumah sebagai fasilitator,” tegasnya. 

Ia menambahkan bahwa momen Ramadan dan Paskah menjadi pembelajaran nyata tentang toleransi. “ Kita saling menghargai melalui kebersamaan, rasa peduli umat Islam terhadap hari Paskah, begitu juga sebaliknya. Hal ini menjadi momentum yang pas untuk menanamkan nilai Pancasila dalam keseharian,” tambahnya.

Muhammad Zuhri, Penyuluh Madya Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung, menekankan bahwa pendalaman agama seharusnya membuat seseorang semakin terbuka. “ Semakin seseorang mendalami agama, semakin ia harus terbuka. Kita semua ciptaan Tuhan yang sama, hanya cara beribadah yang berbeda. Jangan sampai kita menjadi eksklusif, pemuda harus jadi pelopor toleransi. Kalau semua pemuda menghormati perbedaan, pasti berhasil,” tegasnya. 

Melalui kegiatan diskusi ini, mahasiswa diajak untuk semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan serta memperkuat nilai persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Diskusi lintas iman tersebut juga menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai pandangan dalam semangat saling menghargai di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. (*)


Reporter: Nando Atmajaya, Febbi Tri Oktafiani

Penyunting: Dian

RAHASIA KEUTAMAAN SAHUR DALAM ISLAM


Sahur bukan sekadar makan, tapi sunnah yang penuh berkah.|Perssukma.id/Dok. UKM Pers SUKMA

 Pernahkah kita berpikirmengapa kita dianjurkan untuk sahur sebelum berpuasaTernyata, sahur bukan sekadar makan pada dini hari.

Sebagian orang menganggap sahur hanya bertujuan agar tidak merasa lapar saat berpuasa. Padahal, dalam Islam sahur merupakan sunnah Rasul yang penuh keberkahan dan sangat dianjurkan. Dengan sahur, tubuh menjadi lebih siap menjalani ibadah puasa sekaligus memperoleh pahala karena mengikuti anjuran Rasulullah SAW.

 

Beberapa keutamaan dan keberkahan sahur dalam Islam antara lain:

1. Keberkahan yang dijanjikan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW bersabda, “Bersahurlah kalian, karena pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keberkahan tersebut mencakup kesehatan fisik untuk menjalankan ibadah, pahala atas ketaatan kepada sunnah, serta ketenangan batin dalam beribadah sepanjang hari.

 

2. Pembeda dengan puasa umat lain
Sahur menjadi pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa Ahli Kitab. Hal ini mengajarkan kita untuk bangga dengan syariat yang Allah SWT berikan.

 

3. Waktu mustajab untuk berdoa
Waktu sahur berada pada sepertiga malam terakhir. Ini merupakan waktu ketika Allah SWT membuka pintu langit, mengabulkan doa, dan mengampuni dosa hamba-Nya. Oleh karena itu, memperbanyak doa dan istigfar pada waktu sahur sangat dianjurkan.

 

4. Mendapat shalawat dari Allah dan malaikat
Allah SWT dan para malaikat juga bershalawat kepada orang yang bersahur. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, “Sahur sepenuhnya mengandung berkah. Janganlah kalian meninggalkannya meskipun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad).

 

Sahur bukan sekadar mengisi perut sebelum berpuasa. Dari sudut pandang agama, sahur merupakan kebiasaan yang membawa keberkahan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits Nabi. Dari segi kesehatan, sahur membantu tubuh tetap berfungsi dengan baik selama menjalankan puasa.

 

Meski rasa kantuk sering menjadi tantangan, jangan sampai kita melewatkan sahur. Di balik sahur, terdapat energi bagi tubuh dan ketenangan bagi hati. (*)

 

Reporter : Adzra Rizka Andini Dwi Putri


Penyuting : Akbar

 

Optimalisasi Wi-Fi Kampus, Akses Lebih Responsif dan Modern

 

Akses Wi-Fi kampus kini lebih mudah, cepat, dan modern untuk mendukung aktivitas digital mahasiswa |Perssukma.id/Dok. UKM Pers SUKMA

Unit Penunjang Akademik (UPA) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) resmi memperbarui jaringan Wireless Fidelity (Wi-Fi) kampus pada Jumat, 13 Februari 2026. Pembaruan ini dioptimalkan bagi pengguna iOS untuk mengatasi kendala teknis yang sebelumnya terjadi, guna meningkatkan kenyamanan akses internet bagi seluruh sivitas akademika.

Adi Purnomo, Administrator Jaringan UPA TIK menjelaskan bahwa perubahan tersebut bukan hanya pada aspek visual, tetapi juga pada sisi fungsional. “Tampilan baru lebih modern dan responsif, terutama untuk pengguna ponsel pintar. Sebelumnya, halaman login belum menyesuaikan layar ponsel,” jelasnya.

Uji coba awal dilakukan di satu gedung sebelum diterapkan secara menyeluruh di lingkungan kampus. Dari sisi akses login, tidak ada perubahan mekanisme. Mahasiswa tetap masuk menggunakan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) dan tanggal lahir sebagai kata sandi awal. Setelah berhasil masuk, pengguna dapat mengganti kata sandi melalui fitur yang tersedia.

Azzahra Asmarani, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Pangan (AGBP) mengungkapkan bahwa tampilan baru Wi-Fi kampus saat ini jauh lebih informatif, terutama dengan adanya kolom pengisian kata sandi yang lebih jelas. "Sebelumnya, instruksi login menggunakan teks berjalan yang sulit dibaca. Hal itu sering membuat mahasiswa bingung saat harus memasukkan nama pengguna dan kata sandi. Sekarang, tampilannya jauh lebih memudahkan," ungkapnya.

Selain memperbarui tampilan, UPA TIK Polinela memisahkan jaringan menjadi dua akses, yakni “Polinela” dan “Polinela 5G”. Akses “Polinela 5G” diperuntukkan bagi perangkat yang mendukung frekuensi 5 Gigahertz (GHz) guna mencegah perpindahan jaringan otomatis yang sering membuat pengguna untuk login ulang.

Ariyan Nauli Pratama, Mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) menilai bahwa kebutuhan jaringan internet yang stabil dan cepat menjadi hal penting bagi mahasiswa dalam menunjang kegiatan perkuliahan. “Di era sekarang, kami sangat membutuhkan koneksi yang tidak hanya memiliki jangkauan luas, tetapi juga cepat. Kecepatan jaringannya bisa ditingkatkan lagi agar aktivitas perkuliahan tidak terkendala," tuturnya.

Menanggapi keluhan terkait kecepatan internet saat diakses banyak pengguna, Adi menekankan pentingnya memastikan perangkat mendapatkan sinyal optimal. "Jangan langsung menyimpulkan Wi-Fi lambat, pastikan dulu sinyal perangkatnya. Bisa jadi disebabkan oleh posisi yang terlalu jauh dari router Wi-Fi," tegasnya.

UPA TIK Polinela berencana menambah perangkat access point di sejumlah titik yang tergolong lemah sinyal dan lokasi dengan tingkat penggunaan tinggi, seperti ruang kuliah, ruang kerja dosen serta staf.

Melalui pembaruan ini, layanan Wi-Fi kampus diharapkan semakin stabil dan merata di seluruh area. Dengan demikian, layanan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh sivitas akademika untuk menunjang aktivitas akademik.

Azzahra berharap pihak kampus dapat meningkatkan infrastruktur pendukung agar akses internet tetap stabil di berbagai area. ”Harapannya, fasilitas Wi-Fi kampus terus ditingkatkan kualitasnya agar benar-benar bermanfaat bagi mahasiswa dalam menunjang pengerjaan tugas-tugas kuliah selama berada di lingkungan kampus,” tutupnya. (*Dina)

 

Reporter : Yudishtira Falahulhelmi, Dian Savitri 

Penyuting : Dina








Polinela Tindak Lanjuti Laporan Pelanggaran Mahasiswa Pelaku Modus Pencurian

 

Ilustrasi Polinela memproses laporan dugaan pelanggaran kode etik mahasiswa sesuai aturan yang berlaku |Perssukma/Rinto Irawan


Menanggapi isu yang beredar belakangan ini, mengenai kasus pengambilan barang tanpa izin dan penggelapan dana dengan modus peminjaman barang. Pihak Politeknik Negeri Lampung (Polinela) segera menindaklanjuti terduga mahasiswa berinisial IIF.

Agung Adi Candra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela mengungkapkan bahwa pihak kampus sudah menerima laporan tersebut dan sudah dilakukan mitigasi. Saat ini kasus telah masuk ke pihak Tim Penasihat Kedisiplinan dan akan dikaji sesuai dengan peraturan akademik dan  kode etik Polinela. “Kejadian ini ada di masa Praktik Kerja Nyata (PKN), maka ranahnya adalah akademik. Kasus ini sudah dilaporkan dan di mitigasi yang sekarang sedang disidangkan oleh Tim Penasihat Kedisiplinan sesuai dengan kode etik dan peraturan akademik,” ungkapnya.

Sejauh ini, sedikitnya delapan mahasiswa telah mengaku mengalami kerugian dalam kasus tersebut. Berdasarkan keterangan, berikut rincian korban beserta barang yang dilaporkan:

  1. BA - Kehilangan satu unit sepeda motor dan belum dikembalikan.
  2. NI - Kehilangan satu unit laptop namun sudah dikembalikan.
  3. MJ - Kehilangan satu unit laptop dan uang tunai sebesar Rp 850.000,00 namun kini sudah dikembalikan.
  4. LC - Kehilangan satu unit laptop dan belum dikembalikan.
  5. F - Kehilangan satu unit laptop dan belum dikembalikan.
  6. D - Kehilangan satu unit laptop dan belum dikembalikan.
  7. RE - Kehilangan satu unit laptop dan sudah dikembalikan.
  8. TH - Kehilangan satu unit laptop dan belum dikembalikan.

Kasus ini mulai terungkap saat PKN berlangsung. Beberapa korban mengaku kehilangan barang berharga di Posko PKN. Para korban menduga bahwa IIF pelakunya, dikarenakan bertepatan dengan tidak hadirnya terduga saat Program Kerja (Progja) PKN berlangsung, terdapat barang yang hilang. 

Atas kejadian tersebut, para korban kemudian melaporkan kepada pihak lurah setempat sebelum akhirnya diteruskan ke pihak kampus untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.

Forum internal telah dilakukan pada Jumat, 27 Februari 2026, yang dihadiri oleh Kepala Jurusan (Kajur) Ekonomi dan Bisnis (Ekbis), Koordinator Program Studi (Kaprodi) Agribisnis Pangan (AGBP), Dosen Pembimbing (Dospem) terduga, Tim Kedisiplinan (Timdis), terduga, wali terduga, serta tiga korban, yaitu BA, MJ dan RE. 

Dalam forum tersebut, IIF mengakui perbuatannya dengan alasan kondisi ekonomi keluarga.  Menurut keterangan para korban, ia diberikan sanksi cuti 2 semester. Dengan surat pernyataan bermaterai, pihaknya menyatakan kesediaan untuk mengembalikan barang dan mengganti kerugian korban, dengan tenggat waktu yang telah ditentukan.

MJ dan para korban mengaku tidak puas dengan hasil putusan kampus yang hanya menjatuhi sanksi cuti dua semester. ”Tidak puas untuk hasil sidang. Menurut kami, Kaprodi sama Kajur terlihat terlalu memihak dan berempati kepada pelaku, bukan kepada korban,” ungkapnya.

Marlinda Apriyani, Kajur Ekbis menyatakan bahwa Jurusan tidak memberikan sanksi dua semester, melainkan rekomendasi sesuai dengan peraturan akademik. “Sidang kemarin tidak memutuskan sanksi melainkan rekomendasi, putusan akhir dari Direktur,” ujarnya.

Agung menegaskan bahwa setiap bentuk pelanggaran akan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku. “Polinela memegang dua kitab utama, yaitu peraturan akademik dan kode etik. Apa yang terlanggar dan apa yang dilanggar akan ditentukan dan akan diputuskan menjadi hukum untuk yang bersalah,” tegasnya. 

Hingga berita ini diturunkan, pihak kampus menyatakan proses penanganan kasus masih berlangsung dan menunggu keputusan akhir dari Direktur Polinela sesuai dengan peraturan akademik dan kode etik yang berlaku. Para korban berharap penyelesaian dapat dilakukan secara adil dan transparan bagi seluruh pihak yang terlibat. (*)

 

Reporter : Nayla Putri Syafira, Heidy Putri Shafira 

Penyuting : Bila

 




Fitur Baru E-Kuliah Polinela, Evaluasi CPL dan TA

Fitur baru di LMS E-Kuliah yang memudahkan akses Evaluasi CPL, nilai mata kuliah, KHS, hingga transkrip akademik dalam satu tampilan | PersSukma.id/Dok.UKM Pers SUKMA


Upaya transformasi digital pembelajaran di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) terus berkembang melalui pembaruan Electronic Kuliah (E-Kuliah). Kini, tersedia fitur Evaluasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) serta sistem Tugas Akhir (TA) terintegrasi berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang mulai diterapkan pada semester genap 2026. Pembaruan ini memungkinkan kompetensi mahasiswa dipantau secara lebih terukur, transparan, dan terdokumentasi dalam sistem digital.

Di bawah koordinasi Unit Penunjang Akademik (UPA) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), fitur yang berkaitan dengan penilaian serta evaluasi CPL dan TA telah disosialisasikan ke seluruh Program Studi (Prodi) terutama dosen pengajar.

Rusmianto, Kepala Pusat Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (P2MPP) menjelaskan bahwa penerapan evaluasi CPL dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap kurikulum yang telah berbasis OBE. "Penilaiannya bukan hanya sekadar menilai mata kuliah. Namun, melihat ketercapaian pembelajaran yang didesain oleh prodi di setiap tahapan pembelajaran," jelasnya.

Selama ini evaluasi CPL dinilai cukup kompleks jika dilakukan secara manual. Melalui sistem ini, dosen tetap melakukan proses evaluasi seperti biasa tanpa mengubah mekanisme pembelajaran yang sudah berjalan. Hasil evaluasi tersebut kemudian disajikan dalam bentuk narasi yang menggambarkan kompetensi mahasiswa secara spesifik. Laporan tersebut tidak hanya menunjukkan Indeks Prestasi (IP), tetapi juga menjelaskan kemampuan konkret yang dimiliki mahasiswa sehingga dinilai lebih informatif, terutama saat lulusan memasuki dunia kerja.

Iskandar Zulkarnain, Ketua Jurusan (Kajur) Teknik menyebut sistem ini akan membuat proses bimbingan lebih terstruktur karena digitalisasi membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan. “Sistem ini membuat proses bimbingan lebih terstruktur, karena setiap tahapan terkunci dan terdokumentasi dalam sistem dengan jumlah sekitar 7.000 Mahasiswa Polinela, digitalisasi penting untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan akademik,” ujarnya.

Syifa Elysa Agripina, Mahasiswa Prodi Pengelolaan Agribisnis (PAGB) menyambut baik hadirnya fitur evaluasi CPL pada E-Kuliah. Ia menilai pembaruan tersebut memudahkan mahasiswa karena tidak perlu mengakses banyak laman dengan kata sandi berbeda. “Kalau terlalu banyak website juga ribet, banyak sandi yang harus diingat,” ungkapnya.

Tantangan utama dalam implementasi sistem baru ini terletak pada aspek infrastruktur dan aksesibilitas teknologi informasi yang masih terus ditingkatkan agar dapat memenuhi standar layanan yang diharapkan.

Rusmianto berharap pembaruan fitur E-Kuliah dapat menjadi bagian dari peningkatan kualitas pelayanan akademik dan transparansi kepada mahasiswa. "Harapan dengan hadirnya E-Kuliah, kami bisa membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran sekaligus meningkatkan transparansi pelayanan kepada mahasiswa," tutupnya. (*)

 

Reporter : Yudishtira Falahulhelmi, Dian Savitri 

Penyuting : Dina