Beranda

Perkuat Toleransi Lewat Diskusi Publik Lintas Iman

 

Diskusi Publik Lintas Iman menjadi ruang dialog untuk memperkuat toleransi dan saling menghargai perbedaan.|Perssukma.id/Dok. Febbi Tri Oktafiani


Aliansi Pemuda Lintas Iman Lampung menggelar Diskusi Publik Lintas Iman bertema “Merawat Keberagaman dalam Spirit Keimanan dan Pancasila” di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) pada Jumat, 13 Maret 2026. Memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan dan masa Paskah, diskusi ini menjadi ajang deklarasi bersama bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan untuk membangun bangsa. 

Diskusi ini digagas oleh aliansi pemuda yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Polinela, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). 

Dwiki Simbolon, Koordinator Wilayah II Pengurus Pusat (PP) GMKI, mengungkapkan kegiatan ini bermula dari keprihatinan terhadap konflik yang pernah terjadi di Lampung. “Lampung memiliki keragaman suku, ras, dan agama yang luar biasa, namun potensi konflik tetap ada. Kami ingin merajut kembali persatuan agar perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan kekuatan,” ungkapnya.

Pihak kampus bersama BEM KBM Polinela memberikan dukungan penuh terhadap diskusi ini sebagai respons atas keberagaman mahasiswa di lingkungan kampus. Forum tersebut dihadirkan untuk menyediakan ruang dialog yang inklusif guna memperkuat semangat toleransi di lingkungan Polinela.

Alifia Safitri, Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM Polinela menegaskan bahwa isu lintas iman ini sangat relevan bagi mahasiswa. “Polinela memiliki beragam suku dan agama, maka dari itu kegiatan ini sangat penting untuk diadakan. BEM KBM Polinela juga bersedia menjadi tuan rumah sebagai fasilitator,” tegasnya. 

Ia menambahkan bahwa momen Ramadan dan Paskah menjadi pembelajaran nyata tentang toleransi. “ Kita saling menghargai melalui kebersamaan, rasa peduli umat Islam terhadap hari Paskah, begitu juga sebaliknya. Hal ini menjadi momentum yang pas untuk menanamkan nilai Pancasila dalam keseharian,” tambahnya.

Muhammad Zuhri, Penyuluh Madya Kantor Wilayah Kementerian Hukum Lampung, menekankan bahwa pendalaman agama seharusnya membuat seseorang semakin terbuka. “ Semakin seseorang mendalami agama, semakin ia harus terbuka. Kita semua ciptaan Tuhan yang sama, hanya cara beribadah yang berbeda. Jangan sampai kita menjadi eksklusif, pemuda harus jadi pelopor toleransi. Kalau semua pemuda menghormati perbedaan, pasti berhasil,” tegasnya. 

Melalui kegiatan diskusi ini, mahasiswa diajak untuk semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan serta memperkuat nilai persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Diskusi lintas iman tersebut juga menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai pandangan dalam semangat saling menghargai di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. (*)


Reporter: Nando Atmajaya, Febbi Tri Oktafiani

Penyunting: Dian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar