Vandalisme di Gedung Kuliah Bersama (GKB) ruang 1.8 | Perssukma.id/Doc UKM Pers SUKMA
Fasilitas kampus di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menjadi sorotan, terutama kondisi bangku dan tembok ruang kelas yang dipenuhi coretan. Padahal, untuk menunjang efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), ruang kelas seharusnya bersih dan nyaman. Namun, temuan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) menunjukkan adanya tindakan vandalisme ringan yang masih dilakukan oleh sebagian Mahasiswa Polinela.
Vandalisme adalah tindakan merusak atau menghancurkan properti umum atau pribadi tanpa izin, seringkali dengan cara mencoret-coret, merusak fasilitas, atau melakukan tindakan perusakan lainnya pada properti milik umum.
Kampus terus berupaya memenuhi kebutuhan mahasiswa dengan memperbaiki serta menambah fasilitas. Sayangnya, masih saja ditemukan tindakan yang merusak fasilitas, seperti coretan pada kursi dan dinding kelas yang dilakukan menggunakan pulpen. Meskipun berbagai imbauan telah disampaikan, aksi tidak bertanggung jawab ini tetap terjadi.
Faiz, salah satu penjaga Gedung GKB menyampaikan bahwa larangan tindakan mencoret fasilitas sering diperingatkan. “Sudah sering diingatkan agar tidak mencoret-coret, tapi masih saja ada yang iseng, seperti anak kecil. Coretan paling sering ditemukan pada bagian kursi, sedangkan tembok relatif lebih sedikit terkena vandalisme. Upaya pencegahan juga telah dilakukan melalui pemasangan pemberitahuan di beberapa titik rawan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengawasan telah dilakukan melalui kamera Closed Circuit Television (CCTV) dan fasilitas yang rusak sebagian diperbaiki oleh petugas kampus yang bertugas.
Alfa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Peternakan (AGRIPET) turut angkat bicara mengenai kejadian ini. Ia mengaku prihatin dengan sikap sebagian mahasiswa yang masih mencoret-coret fasilitas kampus. “Ini sih yang pertama sangat meresahkan ya, karena mahasiswa kan sudah dewasa, jadi buat apa lagi coret-coret kursi,” ungkapnya.
Menurut Alfa, tidak semestinya ada pihak khusus yang bertanggung jawab atas perilaku tersebut karena mahasiswa dianggap sudah cukup dewasa untuk bertindak bijak. “Sebenarnya, kalau sudah mahasiswa, tidak perlu lagi diawasi. Kita ini sudah besar, sudah bisa berpikir sendiri jadi harusnya itu tanggung jawab pribadi masing-masing,” jelasnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Alfa menegur secara langsung apabila mendapati mahasiswa mencoret kursi atau tembok. “Saya pernah melihat sekitar saya melakukan aksi mencoret-coret dan saya langsung menegurnya sebagai bentuk kepedulian, ya setidaknya bisa menjadi pengingat. Kedepannya juga mahasiswa bisa lebih sadar dan bijaklah, usia dan status mereka itu sudah menuntut tanggung jawab lebih besar,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan oleh Risma Rahma Wati, Mahasiswa Prodi Agribisnis Pangan (AGBP) yang menilai aksi mencoret-coret sebagai tindakan negatif karena merusak fasilitas umum yang digunakan bersama. “Biasanya karena bosan akan suatu hal, jadi tertarik mencoret-coret untuk menggambarkan apa yang ada di pikirannya, cuma ini merusak fasilitas,” ujarnya.
Risma menekankan pentingnya kesadaran bersama untuk menjaga fasilitas kampus. “Fasilitas itu dipakai banyak orang. Harusnya kita sebagai mahasiswa yang saling mengingatkan untuk menjaga, karena kita juga yang menggunakan,” jelasnya.
Risma juga mengaku sering melihat coretan di bagian belakang kursi saat kondisi kelas sedang ramai. “Sering lihat banyak coretan di belakang kursi. Menjaga fasilitas itu bisa dimulai dari diri sendiri, dengan tidak jadi salah satu dari mereka yang suka mencoret-coret,” tegasnya.
Salah satu petugas kampus berharap mahasiswa dapat meningkatkan kesadarannya dan tindakan
seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang. “Semoga ke depannya mahasiswa bisa lebih
sadar dan mulai memikirkan dampaknya sehingga hal ini tidak terulang lagi di masa depan,”
tutupnya.
Dalam proses peliputan investigasi ini, sejumlah dosen memilih untuk tidak memberikan
tanggapan atau enggan diwawancarai terkait permasalahan vandalisme tersebut. (*)
Penulis : Liyana Shafiqa, Zaitun Nur Hannifah
Penyunting : Sani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar