Beranda

The Art of Cue, Satukan Komunitas Seni di Lampung

Suasana “The Art of Cue” di Billiard Coffee & Resto J-Cores | Perssukma.id/Fauzan 

Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKM BS) mengadakan kegiatan Arts Central Collaboration dengan tema “The Art of Cue” pada Sabtu, 19 Juli 2025. Acara ini dilaksanakan di Billiard Coffee & Resto J-Cores dan diikuti oleh delegasi dari berbagai Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Politeknik Negeri Lampung (Polinela), serta aliansi komunitas seni dari berbagai Universitas di Lampung.

Kegiatan Arts Central Collaboration ini menghadirkan kolaborasi seni antar mahasiswa dari berbagai kampus, seperti Universitas Lampung (Unila), Universitas Malahayati (Unmal), dan Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya (IIB Darmajaya). Tema “The Art of Cue” diambil dari istilah dalam permainan biliar, yaitu cue yang berarti stik biliar.

M. Risky, Ketua Pelaksana (Ketuplak) mengungkapkan tema ini dipilih karena stik biliar dianggap mampu menggambarkan arah dan proses dalam berkesenian. “Cue itu kan alat yang mengarahkan, sama seperti seni yang mengarahkan ekspresi dan makna,” ujarnya.

Risky juga menyampaikan pandangannya terkait perkembangan seni di kalangan mahasiswa. Ia menilai bahwa minat terhadap seni semakin meningkat dan menjadi ruang yang menyenangkan untuk berekspresi. “Sekarang ini banyak yang senang dengan seni karena bisa jadi tempat pelarian yang positif,” katanya.

Dalam acara ini ditampilkan berbagai pertunjukan dan pameran karya seni, seperti lukisan, mural, serta presentasi karya visual. Selain itu, hadir pula pemateri utama yaitu seniman muda Angga Wahyu atau dikenal dengan nama Lawapop, yang membagikan pandangannya mengenai dunia seni masa kini. "Seni itu tiap era berbeda, bedanya kalau jaman saya dulu belajar dari basic dari bawah bener. Misalnya, kaya pensil ini gunanya buat apa sejarahnya, bahannya, jenisnya termasuk kertasnya cetak manual atau print. Sedangkan sekarang kayaknya yang aku perhatiin serba instan mungkin ya," jelasnya.

Angga Wahyu adalah seorang seniman muda yang meniti karier di dunia seni rupa melalui proses belajar secara otodidak dan kemudian mengembangkannya melalui komunitas seni. Dalam setiap karyanya, ia sering mengangkat isu-isu sederhana yang diambil dari kehidupan sehari-hari dan menyampaikannya melalui pendekatan visual.

Dalam berkarya, Angga menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam dunia seni bukan terletak pada proses kreatif, melainkan pada bagaimana seni bisa menjadi sumber penghidupan. “Tantangan seni bukan pada proses kreatif, melainkan bagaimana seni bisa menjadi sumber penghidupan. Seperti persoalan ekonomi, yang kerap kali menjadi ujian tersendiri bagi para pelaku seni,” ujarnya.

Nurizki Akhmar, salah satu pengunjung menilai bahwa acara ini sangat positif karena dapat menyatukan berbagai bentuk seni. “Seni itu menyenangkan karena memberi ruang untuk berekspresi dan berkarya dengan bebas. Acara ini juga sangat positif karena bisa menyatukan berbagai karya seni,” tuturnya.

Risky berharap ke depannya UKM BS bisa semakin aktif dan solid dalam menjalankan program-program selanjutnya. “Semoga lebih kompak, lebih sering mengadakan kegiatan, dan bisa terus berkembang,” tutupnya. (*)


Penulis: Rahma Yulianti Safitri, Fauzan

Penyunting : Sani 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar