Beranda

Rantis Brimob Tewaskan Pengemudi Ojol di Tengah Aksi DPR


Pengendara Ojek Online Terlindas Kendaraan Brimob | Perssukma.id/lenterainspiratif.id


Demonstrasi di sekitar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (DPR/MPR RI), Kamis, 28 September 2025, berakhir dengan catatan kelam. Seorang pengemudi ojek online (ojol) dilindas kendaraan taktis (rantis) Brigade Mobil (Brimob) di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Insiden ini sontak memicu amarah massa dan gelombang kritik tajam terhadap aparat keamanan.

Affan Kurniawan, korban yang dilaporkan mengenakan atribut ojol, tertabrak ketika rantis mencoba memecah kerumunan massa. Rekaman amatir memperlihatkan korban sempat berusaha menghindar, namun ban depan rantis tetap melindas tubuhnya. Ia dinyatakan meninggal setelah menjalani perawatan selama beberapa jam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat (Kompas.com, 28/8/2025).

Selain Affan Kurniawan, terdapat korban lain bernama Moh. Umar Amirudin, yang juga merupakan pengemudi ojol. Umar mengalami luka serius akibat peristiwa serupa. Kondisinya kini sudah sadar, meski masih merasakan sakit dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pelni, Palmerah, Jakarta Barat (Suara.com, 29/8/2025).

Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Inspektur Jenderal (Irjen) Abdul Karim, mengonfirmasi bahwa tujuh anggota Brimob yang berada dalam kendaraan maut tersebut kini tengah diperiksa. “Kami sudah mengamankan personel dan kendaraan untuk penyelidikan,” ujarnya (Liputan6, 29/8/2025). Kendaraan rantis turut disita dan dibawa ke Markas Brimob Kepolisian Daerah (Polda) Metropolitan Jakarta Raya (Metro Jaya), Kwitang.

Di sisi lain, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, Irjen Pol. Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi pelanggaran. “Setiap anggota yang terbukti lalai atau melanggar prosedur akan diproses sesuai aturan,” ucapnya (Liputan6, 29/8/2025). Namun, kepolisian juga menyebut adanya “penyusup” yang memicu kericuhan dan pernyataan tersebut justru menuai cibiran publik.

Kemarahan massa pasca kejadian tidak terbendung. Sejumlah demonstran mengepung rantis, meneriakkan kecaman, bahkan sempat mencoba merusak kendaraan. Meski situasi akhirnya mereda pada Jumat pagi, trauma dan luka publik masih membekas.

Menurut pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), kejadian ini mencerminkan wajah lama aparat yang belum berubah. “Ini bukan sekadar kecelakaan, ini potret kegagalan negara melindungi rakyatnya,” ujar Arif Maulana (Suara.com, 29/8/2025)

Kini, publik menunggu transparansi penyelidikan Polri. Apakah kasus ini akan berakhir seperti tragedi-tragedi sebelumnya sunyi tanpa keadilan atau menjadi momentum untuk membongkar budaya represif aparat? Dan kini suara rakyat yang tumpah di jalanan menuntut jawaban, Siapa yang bertanggung jawab?(*)


Penulis : Adit Indra Lesmana

Penyunting : Rizky





UKM Garda Polinela Ajak Mahasiswa Disiplin dengan Manajemen Waktu

 

Pemateri sedang menyampaikan materi di Gedung Serba Guna Polinela | Perssukma.id/Novia


Senin, 25 Agustus 2025, setelah melakukan Latihan Kedisplinan (Latdis) dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Garda Kedisiplinan mengadakan Seminar Kedisiplinan Manajemen Waktu di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Seminar ini mengangkat tema “Mewujudkan Disiplin Melalui Manajemen Waktu, Untuk Selangkah Lebih Cepat Menuju Seribu Langkah Lebih Siap.”

Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB ini berlangsung interaktif dengan penyampaian materi yang diselingi sesi tanya jawab. Peserta diajak memahami pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia akademik maupun dalam menghadapi tantangan masa depan.

Seminar dibuka oleh Teguh dan menghadirkan Rocky Gerung, akademikus, filsuf, sekaligus intelektual publik Indonesia yang akrab disapa Bung Rocky, sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, Rocky membahas urgensi membangun disiplin diri melalui manajemen waktu yang efektif.

Menurut Bung Rocky, disiplin tidak hanya bisa dipelajari dari dosen, tetapi juga dari berbagai sumber pengetahuan lain. " Disiplin sejati adalah menjadi disciple murid dari pengetahuan bukan hanya dari dosen, tetapi juga dari jurnal-jurnal ilmiah. Sebab, mahasiswa yang kritis bukan hanya bertanya, melainkan juga membaca, membandingkan, dan berani menantang pikiran yang sudah mapan. Karena itu, sistem pendidikan yang kaku, memaksa semua orang belajar minimal empat tahun meski ada yang mampu lebih cepat, adalah sistem yang konyol,” katanya.

Waktu dibagi menjadi dua yaitu, waktu fisik yang diukur dengan jam dan waktu psikologis yang dirasakan cepat atau lambat tergantung pengalaman kita. Mengelola waktu berarti memegang kendali atas hidup sendiri, bukan sekadar mengejar efisiensi ekonomi, melainkan juga mengisinya dengan hal-hal yang esensial. 

Destri Amanda Sari, Ketua pelaksana (Ketuplak) mengatakan Seminar ini merupakan agenda tahunan UKM Garda Kedisiplinan. Tujuan utamanya adalah membentuk karakter mahasiswa melalui kedisiplinan dalam mengelola waktu.“Seminar ini selalu diadakan UKM Garda Kedisiplinan tiap tahunnya, yaitu untuk membentuk karakter dari setiap mahasiswa dan seluruh orang untuk bisa memanajemen waktunya di kehidupan sehari-harinya,” ujarnya.

Destri juga mengungkapkan alasan memilih Rocky Gerung sebagai pemateri. “Karena menurut kami, Bapak Rocky Gerung itu merupakan filsuf dan akademikus. Pastinya dia bisa mengatur waktunya dalam kehidupan sehari-harinya, terutama dia sering mendatangi kampus-kampus untuk berbagi kisahnya atau materinya,” tambahnya.

Fitra Satria, Ketua Umum (Ketum) UKM Garda Kedisiplinan menegaskan bahwa peran UKM Garda Kedisiplinan bagi lingkungan kampus adalah mendisplinkan. “Untuk peran UKM Garda, bagi lingkungan kampus adalah mendisiplinkan. Hal ini dilakukan dengan memberikan contoh yang baik terhadap mahasiswa-mahasiswa lainnya, serta diterapkan dan dikontrol secara berkala, agar lingkungan kita sama seperti apa yang kita inginkan,” jelasnya.

Aisyah, mahasiswa yang hadir dalam acara ini menyampaikan alasannya mengikuti seminar ini karena tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan sehari hari. “Alasan saya tertarik mengikuti seminar ini karena tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan saya, khususnya dalam bidang manajemen waktu dan peningkatan kedisiplinan. Saya jadi lebih sadar bahwa kedisiplinan waktu bukan hanya soal mengatur jadwal tetapi juga melatih kedisiplinan,” jelasnya.

Destri berharap setelah seminar ini mahasiswa Polinela dan semua tamu undangan dapat menerapkan kedisiplinan dan kemampuan manajemen waktu yang lebih baik. “Harapannya semua mahasiswa dan seluruh tamu undangan di sini bisa menerapkan tentang kedisiplinan manajemen waktu di sekitar sehari-harinya” tutupnya. (*)

Penulis : Risqia Asya Dewi, Yuki Elisabeth H

Penyunting : Heidy

MPM Polinela Tanggapi Banner Kritik ‘MPM Kacung Birokrat’

 

Suasana di depan sekretariat Majelis Permusyawaratan Mahasiswa | Perssukma.id/Novia

Pemasangan banner berisi tulisan kritik di depan sekretariat Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menuai sorotan dari mahasiswa. Banner bertuliskan “MPM Kacung Birokrat” itu dianggap sebagai bentuk kritik terhadap kinerja MPM yang dinilai kurang terlihat.

Armada, Ketua Umum (Ketum) MPM Polinela mengaku baru mengetahui keberadaan banner tersebut menjelang magrib. Ia langsung mendatangi lokasi untuk memastikan sekaligus berencana berdiskusi dengan pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) terkait hal itu. “Saya baru tahu tadi sore, dekat dekat magrib. Makanya saya ke sini mau lihat langsung, ternyata memang benar ada. Saya juga mau berbincang sedikit dengan pihak BEM, mungkin mereka mengetahui soal ini,” ungkapnya.

Armada menilai kritik melalui banner muncul secara mendadak tanpa pernah disampaikan secara langsung sebelumnya. Menurutnya, penyampaian kritik sebaiknya dilakukan melalui mekanisme musyawarah sehingga MPM juga memahami dinamika internal yang sedang berlangsung.

Sejalan dengan itu, Muhammad Fauzan, Wakil Ketua MPM menegaskan bahwa MPM pada dasarnya selalu terbuka menerima aspirasi mahasiswa. Hanya saja, ia menekankan pentingnya menjaga etika dalam penyampaiannya. “Kalau soal aspirasi, pendapat-pendapat kami dari MPM itu menerima semua. Cuma caranya jangan terlepas dari kode etik. Bahasa bahasa provokatif itu kan enggak bisa. Tetapi kalau diajak diskusi, musyawarah, ya kami menjunjung tinggi itu. Di kode etik jelas terpapar, menjunjung tinggi etika,” ujarnya.

Lebih lanjut, Armada mengakui kondisi internal MPM saat ini tengah mengalami keterbatasan anggota. Setiap jurusan sejatinya memiliki kuota masing-masing, tetapi ada beberapa yang tidak mengirimkan perwakilan. Situasi itu membuat kinerja MPM kewalahan, terutama dalam penyusunan produk hukum yang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.

Meski begitu, ia menilai keberadaan banner tetap bisa dijadikan bahan evaluasi. Armada menyebutnya sebagai “alarm” agar MPM terus berada di jalur yang seharusnya. “Kalau ada mahasiswa yang mau menyampaikan aspirasi, ya kami terima. Cuma caranya aja yang harus lebih dulu ngobrol, musyawarah, jangan langsung pasang banner. Intinya, MPM siap aja diajak diskusi kapan pun,” pungkasnya.

Terkait isu Pekan Aspirasi Mahasiswa (PAM) yang disinggung, Armada menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya telah menjadi agenda MPM. Namun, rencana pelaksanaannya sempat tertunda karena bertepatan dengan masa libur mahasiswa. PAM yang semestinya digelar pada akhir semester lalu akhirnya dijadwalkan ulang pada awal semester ini oleh Komisi 4. “Sebenarnya itu ada, cuman kemarin kan sempat mau libur, mahasiswa udah pada pulang. Jadi tidak ada di semester kemarin. Waktu di akhir akhir itu mau ada PAM, tapi kita mundurin ke awal semester ini nanti, itu dari komisi 4 yang ada di PAM,” jelasnya.

Sebagai penutup, Armada menegaskan bahwa MPM tetap terbuka terhadap aspirasi mahasiswa. “Intinya kami memandang banner itu sebagai bentuk kritik mahasiswa terhadap kinerja MPM. Dan kritik hak mahasiswa kami menghormatinya. Tapi kami ingin menegaskan, MPM bukanlah bawahan birokrat, melainkan lembaga legislatif mahasiswa yang mengawal kepentingan mahasiswa. Justru kritik ini menjadi pengingat bagi kami agar terus menjaga independensi,” tutupnya.(*)

Penulis : Adit Indra Lesmana, Novia Faradiba

Penyunting : Rizky



Belajar dari Tokoh Nasionalisme, Nilai yang Masih Relevan untuk Kita Hari Ini


 

Belajar dari Tokoh Nasionalisme, Nilai yang Masih Relevan untuk Kita Hari Ini|Perssukma.id/Arya Rohmatullah
 

Halo Sobat SUKMA!

Tahukah kalian, tokoh-tokoh nasionalisme Indonesia punya peran besar dalam membentuk jati diri bangsa?

Mereka tidak hanya berjuang demi kemerdekaan, tapi juga mewariskan nilai-nilai luhur yang tetap dibutuhkan di kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Agustus itu bukan cuma soal lomba dan upacara, tapi juga momen untuk merenungkan semangat juang yang bisa kita terapkan di era serba digital dan cepat ini.

Nah, di bawah ini Minsuk bakal kasih tahu beberapa tokoh nasionalisme yang bisa kita ambil nilai positifnya.

1.     Ir. Soekarno – Berani Punya Mimpi Besar

“Berikan Aku 10 Pemuda, akan ku Guncang Dunia”

Beliau yakin, perubahan besar bisa dimulai dari generasi muda. Kita juga bisa jadi penggerak lewat ide, karya, atau komunitas, asalkan berani melangkah.

2.     Mohammad Hatta - Hidup Sederhana, dan Prinsip Tegas

Dikenal jujur dan idealis. Meski punya jabatan tinggi, hidupnya tetap sederhana. Di dunia yang penuh pencitraan, kita butuh lebih banyak orang yang setia pada nilai, bukan sekadar gengsi.

3.     RA Kartini - Ilmu untuk Semua

“Habis gelap terbitlah terang”

Kartini memperjuangkan hak belajar perempuan di masa yang sulit. Hari ini, kita bisa melanjutkan semangatnya dengan berbagi ilmu, mendukung sesama, dan terus belajar.

4.     Ki Hajar Dewantara - Pemimpin yang Mengayomi

Tut wuri handayani

Gaya kepemimpinan beliau bukan yang otoriter, tapi mendampingi dan mendukung. Cocok buat anak muda yang aktif di organisasi, jadilah pemimpin yang menginspirasi, bukan mendominasi.

5.     Tan Malaka - Berpikir Kritis & Independen

Pemikirannya sering berbeda dari arus utama, tapi ia tetap teguh demi Indonesia yang bebas dan adil. Di zaman Media Sosial (Medsos) & hoaks, kita butuh keberanian untuk berpikir kritis dan tidak gampang ikut-ikutan tanpa analisis.

6.     Bung Tomo - Suara yang Menggerakkan

Lewat radio, ia membakar semangat rakyat di Surabaya melawan penjajah. Kita juga bisa memanfaatkan platform yang kita punya untuk menyebar hal baik, semangat, dan kebenaran.

Mereka berjuang dengan pena, pidato, aksi, dan tekad.

Kita bisa melanjutkannya lewat karya, pemikiran, dan dampak positif.

Ini bukan soal hidup di masa perang, tapi soal hidup dengan semangat juang yang sama.

Dengan meneladani nilai-nilai tokoh nasionalisme, kita memperkuat jati diri bangsa.

 

Penulis : Zelma Mustari

Peresmian Masjid Al-Banna Baru, Dihadiri Maba 2025

Peresmian Masjid Al-Banna ke-2 Polinela bersama Mahasiswa Baru 2025 | Perssukma.id/Naura Hafiiza Dini

Minggu, 17 Agustus 2025, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) meresmikan Masjid Al-Banna yang ke-2. Acara peresmian ini dihadiri oleh Mahasiswa Baru (Maba) Polinela 2025 beserta Sivitas Akademika Polinela. Masjid Al-Banna diresmikan dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan oleh Sarono, Direktur Polinela.

Masjid lama dan masjid baru di lingkungan Polinela kini memiliki peran berbeda sesuai kebutuhan jamaah. Masjid lama difungsikan khusus sebagai tempat ibadah bagi jamaah perempuan, sedangkan masjid baru dipergunakan untuk kegiatan ibadah jamaah laki-laki, termasuk pelaksanaan salat Jumat. Kehadiran masjid ke-2 ini diharapkan mampu memberikan kenyamanan beribadah sekaligus mengakomodasi jumlah jamaah yang semakin meningkat di lingkungan kampus.

Oktafina Rianti, teknisi dari Program Studi (Prodi) Akuntansi Bisnis Digital (AKBD) yang menjadi panitia peresmian Masjid Al-Banna, menyampaikan bahwa peresmian ini merupakan momen penting bagi seluruh Warga Polinela khususnya yang beragama islam dalam merefleksikan kepemilikan terhadap fasilitas ibadah. “Peresmian masjid ini menjadi momen penting bagi seluruh warga Polinela, merefleksikan kepemilikan bersama terhadap fasilitas ibadah ini. Masjid ini bukan sekadar bangunan baru, melainkan simbol kebersamaan seluruh warga Polinela mulai dari dosen, karyawan, teknisi, hingga mahasiswa yang beragama islam,” ujarnya.

Cynara Minerv Anggrahini, Maba Prodi Akuntansi Perpajakan (AKTP) juga mengungkapkan rasa senangnya setelah mengikuti acara peresmian dan melihat kualitas fasilitas yang disediakan. “Senang karena tidak semua mahasiswa bisa mengikuti peresmian Masjid Al-Banna ditambah kualitas fasilitas yang disediakan oleh masjid tersebut cukup baik untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa,” ungkapnya.

Cynara berharap Masjid Al-Banna bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan juga bisa menjadi pusat aktivitas keagamaan yang hidup di kampus. “Saya berharap, kedepannya banyak kegiatan rutin yang diselenggarakan di masjid, misalnya pesantren kilat. Kegiatan semacam itu, tidak hanya mampu menghidupkan suasana masjid, tetapi juga mendorong partisipasi mahasiswa agar lebih aktif dalam kegiatan keagamaan” harapnya.

Dian Latifatul Miftah, dosen yang menghadiri peresmian Masjid Al-Banna, mengatakan bahwa kedepannya dapat mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan. “Mungkin mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Banna dahulu untuk berupaya menggalakkan kegiatan di masjid ini. Dengan tujuan mendorong Mahasiswa Polinela untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan,” ujarnya

Dian, juga memberikan pesan kepada mahasiswa bahwa menjaga fasilitas serta kebersihan masjid merupakan tanggung jawab bersama. “Saya berpesan kepada mahasiswa untuk menjaga Masjid Al-Banna. Pentingnya memanfaatkan fasilitas masjid dengan baik, serta menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid karena itu tanggung jawab bersama,” tutupnya. (*)

 

Penulis :Naura hafiizha dini, Zelma Mustari

Penyunting :Nayla

Upacara HUT RI, Tandai Awal PKKMB Polinela 2025

Suasana Upacara HUT ke-80 RI, Dihadiri Mahasiswa Baru Polinela 2025 | Perssukma.id/Rizky Naufal

Minggu, 17 Agustus 2025 Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menyelenggarakan Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang berlangsung di lapangan belakang Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Setelah upacara pengibaran bendera merah putih selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Pra-Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 yang dilakukan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Polinela.

Momentum ini sekaligus menjadi titik awal bagi 2.836 Mahasiswa Baru (Maba) Polinela dalam menapaki perjalanan akademik mereka. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, PKKMB 2025 melibatkan kerjasama antara Program Studi (Prodi) Pengelolaan Konveksi dan Acara (PKA), dosen, Karyawan Polinela, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Garda Kedisplinan serta mahasiswa yang ditugaskan untuk membantu.

Sarono, Direktur Polinela menegaskan bahwa upacara kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi mengisyaratkan makna yang mendalam bagi Maba. “Merdeka itu tidak datang begitu saja, tetapi melalui perjuangan berat, tumpah darah, bahkan nyawa. Karena itu, kita harus memahami bahwa tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan kontribusi nyata, khususnya melalui pendidikan dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Sarono menambahkan tahun ini Polinela mencatat sekitar 2.836 Maba yang sudah resmi terdaftar, akan tetapi jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah menjadi sekitar 3.000 Mahasiswa setelah proses administrasi selesai. “Jumlah Mahasiswa tahun ini yang sudah registrasi secara resmi 2.836. Jadi ini masih ada yang belum registrasi, karena yang mandiri masih dalam proses dan beberapa masih ada perubahan Uang Kuliah Tunggal (UKT), sehingga kemungkinan mahasiswa kita akan bertambah menjadi sekitar 3.000,” tambahnya.

Sarono menekankan bahwa PKKMB 2025 mengusung dua tema penting yaitu, menyenangkan dan berprestasi. “PKKMB bukan hanya adaptasi, tapi juga pembekalan nilai disiplin, kemandirian, serta kebanggaan terhadap bangsa. Harapan kami Maba nanti keluar dari kampus ini bukan sekadar biasa-biasa saja, tapi menjadi luar biasa, semuanya harus berprestasi,” tegasnya.

Helidatasa Utami, Dosen Prodi PKA menekankan pentingnya nilai kedisiplinan dan nasionalisme yang ditanamkan sejak awal melalui momentum kemerdekaan. “Upacara ini adalah bentuk rasa syukur kita sebagai bangsa Indonesia. Dengan mengikuti upacara, mahasiswa semakin cinta tanah air. Harapannya, Maba lebih semangat kuliah, lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, dan siap berkontribusi untuk bangsa,” ungkapnya.

Ibrahim Abdurrahman, Maba Prodi Teknologi Produksi Tanaman Pangan (TPTP)  mengutarakan kesan dan harapannya saat mengikuti upacara kemerdekaan pertamanya di Polinela. “Rasanya senang sekali, bisa bertemu teman-teman baru dan suasana kampus yang ramah. Harapannya, lewat PKKMB nanti saya bisa lebih mudah beradaptasi, menambah banyak kenalan, dan belajar sebelum memulai kuliah,” jelasnya.

Andrean Ridho Fatoni, Maba Prodi Teknik Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) mengaku cukup kebingungan ketika berbaris di lapangan serta berharap kedepannya dapat dijelaskan secara merinci. “Cukup memuaskan walaupun agak bingung waktu berbaris sesuai jurusan atau prodinya. Harapannya untuk PKKMB nanti semoga setiap penjelasan tentang kehidupan kampus, pemahaman tentang prodi apa saja yang ada di Polinela, dan sebagainya dapat dijelaskan secara rinci dan jelas,” tutupnya.

Dengan semangat kemerdekaan yang berpadu dengan semangat akademik, ini menjadikan momentum titik awal perjuangan sebagai mahasiswa. (*)

 

Penulis :Rizky Naufal, Nayla Putri

Penyunting :Heidy

 

Revitalisasi Minat Pramuka di Kalangan Mahasiswa

Meilina, Ketua Dewan Racana Putri Pramuka Polinela 2024/2025

Menurunnya minat mahasiswa terhadap kegiatan Praja Muda Karana (Pramuka) di perguruan tinggi menjadi fenomena yang patut mendapat perhatian. Dalam konteks pendidikan karakter, Pramuka yang sejak lama dikenal sebagai wadah pembentukan kepemimpinan, kedisiplinan, dan integritas seharusnya memiliki posisi setara dengan organisasi kemahasiswaan lainnya.

Sayangnya, stigma “kegiatan membosankan” dan “panas-panasan” masih melekat di benak sebagian mahasiswa. Padahal, di tingkat perguruan tinggi, Pramuka hadir dengan wajah yang berbeda. Unit ini berfokus pada pengembangan program kerja, pembinaan karakter, dan pelatihan kepemimpinan. Program seperti Kursus Mahir Dasar (KMD) bahkan memberikan sertifikat pembina sebuah pencapaian yang jarang ditemukan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) lainnya.

Sebagai bagian dari komunitas Pramuka kampus, saya menyaksikan langsung bahwa kesalahpahaman ini merugikan dua pihak sekaligus: organisasi Pramuka kehilangan anggota potensial, sementara mahasiswa kehilangan peluang mengasah soft skill yang berharga. Banyak yang lebih memilih bergabung dengan UKM atau HMJ tanpa mempertimbangkan potensi unik yang ditawarkan Pramuka.

Padahal, Pramuka menawarkan pengalaman beragam mulai dari pengenalan alam, kegiatan antar kampus, hingga program pembinaan bersertifikat. Anggota aktifnya berkesempatan menjadi agen perubahan positif yang dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk memahami nilai-nilai kepramukaan sejati.

Namun, saya akui kelemahan Pramuka terletak pada minimnya promosi dan eksistensi di media sosial. Program unggulan seperti Dies Natalis atau Scout Competition sering kali tidak terdengar di luar lingkaran internal. Tanpa strategi komunikasi yang modern dan relevan, sulit bagi Pramuka untuk menarik perhatian generasi mahasiswa saat ini.

Revitalisasi citra Pramuka adalah sebuah keharusan. Pramuka harus tampil segar, aktif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Sebab, mengabaikan potensi Pramuka berarti melewatkan kesempatan membentuk pemimpin berkarakter di kampus.(*)

Penulis: Meilina

Penyunting: Sani

Audiensi Lanjutan, BEM Polinela Sorot Isu Pendidikan di Lampung

 

Diskusi BEM Polinela bersama kepala Disdikbud Provinsi Lampung |Perssukma.id/Adit

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menindak lanjuti audiensi lanjutan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 12 agustus 2025, dengan tujuan membahas berbagai isu strategis pendidikan. 

Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menyoroti persoalan efisiensi anggaran, rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi, ketimpangan pemerataan guru di daerah terpencil, dinamika perubahan kurikulum yang terlalu cepat, hingga maraknya kasus Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) pada lingkungan pendidikan di Provinsi Lampung. Isu terakhir ini dinilai memerlukan regulasi tegas agar lingkungan belajar tetap kondusif dan sesuai norma sosial-budaya setempat.

Audiensi ini merupakan tindak lanjut dari usulan isu pendidikan yang sebelumnya juga dibahas di Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung.

Dalam audiensi ini terdapat 6 poin tuntutan, yaitu:

  1. Dampak implementasi Instrumen Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2025.
  2. Dinamika perubahan kurikulum di Indonesia.
  3. Kesiapan pengajar untuk mengimplementasikan pembelajaran di perguruan tinggi.
  4. Rendahnya APK perguruan tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
  5. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang tidak selaras dengan nilai rapor siswa.
  6. Maraknya kasus LGBT di pendidikan lampung.

Bagus Eka Saputra, Presiden Mahasiswa (Presma) Polinela menilai kebijakan Inpres No. 1 Tahun 2025 yang memerintahkan efisiensi anggaran turut memukul sektor pendidikan vokasi. Padahal, porsi pembelajaran di pendidikan vokasi idealnya 70% praktikum dan 30% teori. “Efisiensi anggaran ini sangat terasa. Tanpa fasilitas praktikum yang memadai, lulusan vokasi akan kehilangan keunggulan utamanya. Jangan sampai pendidikan vokasi hanya jadi sastra vokasi,” tegasnya.

Bagus juga mengungkapkan data APK perguruan tinggi di Lampung yang hanya 21,88%, jauh di bawah rata-rata nasional 30%. Rendahnya partisipasi kuliah ini dinilai disebabkan keterbatasan infrastruktur, beban ekonomi keluarga, dan minimnya sosialisasi pendidikan tinggi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Dengan data APK tersebut, kami mendorong pemerintah untuk memperluas akses kuliah, memperbaiki infrastruktur, dan melakukan sosialisasi intensif agar lebih banyak anak Lampung bisa melanjutkan pendidikan,” tambahnya.

Masalah pemerataan guru turut mendapat sorotan. BEM mencontohkan kasus di Pulau Sebuku, Lampung Selatan, yang hanya memiliki satu guru honorer untuk mengajar seluruh mata pelajaran. Kondisi ini dianggap mencerminkan kesenjangan kualitas pendidikan, antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Kritik juga diarahkan pada perubahan kurikulum yang dinilai terlalu cepat dan belum diimbangi kesiapan tenaga pengajar. Sehingga kondisi tersebut membuat guru dan siswa kesulitan beradaptasi sehingga pembelajaran tidak maksimal. 

Menanggapi hal tersebut, Thomas Amirico, Kepala Disdikbud Provinsi Lampung menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan sejumlah kebijakan, termasuk pembukaan sekolah menengah atas terbuka, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, dan pemanfaatan metode deep learning untuk memetakan potensi siswa sejak dini. “Dengan deep learning, kita bisa memetakan kemampuan awal siswa dan membuat peta jalan sesuai cita-cita mereka, apakah ingin bekerja, berwirausaha, atau kuliah,” jelasnya.

Thomas menegaskan bahwa Lampung saat ini mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 73,13, terendah kedua di Sumatera dan peningkatan IPM memerlukan investasi besar di sektor pendidikan, termasuk pemerataan fasilitas dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). “Lampung saat ini tercatat dengan IPM terendah kedua di Sumatera. Pendidikan berkualitas memang tidak murah, tapi kalau kita bicara IPM, posisi Lampung ini belum baik-baik saja. Butuh kerja sama semua pihak untuk meningkatkannya,” tegasnya.

Bagus menegaskan komitmennya mengawal implementasi kebijakan demi terwujudnya pendidikan tinggi yang merata, berkualitas, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat Lampung. “Kami akan terus mengawal proses demokrasi ini agar pendidikan di Lampung menjadi lebih layak, merata, dan berkualitas,” tutupnya.(*) 


Penulis : Adit Indra Lesmana, Natasya Rohimah

Penyunting : Jhon


Jurusan EKBIS Peduli Kesehatan Mental Mahasiswa Lewat Stadium General

 

Suasana Stadium General di dalam Gedung sakura Polinela | Perssukma.id/Nadia
  
Selasa, 12 Agustus 2025, Jurusan Ekonomi dan Bisnis (Ekbis) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Stadium General bertema “Penguatan Karakter untuk Kesehatan Mental Mahasiswa” di Gedung Sakura (S) Polinela. 

Acara ini dibuka oleh Marlinda Apriyani, Ketua Jurusan (Kajur) Ekbis. Dengan menghadirkan pemateri Hasan Ashari seorang professional trainer & Konsultan Terapi Mental Anxiety, Mental Block, dan Phobia. Kegiatan ini diawali dengan penyampaian materi mengenai kesehatan mental, tantangan hidup Generasi Z (Gen Z), dan membangun karakter yang tangguh & berintegritas. Kemudian dilanjutkan dengan praktik terapi yaitu Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT), adalah teknik terapi yang menggabungkan unsur spiritual dan energi tubuh untuk mengatasi berbagai masalah emosional dan fisik. 

Varingan Prianando Tambunan, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menjelaskan tema ini diangkat karena sebagian mahasiswa berasal dari Gen Z, yang dinilai memiliki tingkat distraksi tinggi baik dari media sosial maupun lingkungan sekitar. “Ini menjadi trigger khusus bagi dosen untuk memastikan Mahasiswa Polinela tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga secara mental,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi respons atas berbagai kejadian yang terjadi di luar kampus, dari masalah ringan hingga yang dinilai melanggar normal. “Pendaftar tidak dipaksa, tidak ada kewajiban. Ternyata banyak yang mendaftar, artinya memang ada kesadaran untuk mengikuti kegiatan ini,” tambahnya.

Kegiatan ini juga diadakan menjelang dimulainya semester baru sebagai bentuk evaluasi setelah semester sebelumnya. Menurutnya, salah satu tujuan pelaksanaan di hari libur adalah agar mahasiswa dapat mengikuti kegiatan tanpa benturan jadwal kuliah.

Meylda Putri Sislya, peserta Stadium General yang merupakan Mahasiswi Program Studi (Prodi) Agribisnis Pangan (AGBP) angkatan 2021 mengungkapkan alasannya mengikuti acara tersebut karena tertarik dengan tema kegiatan ini dan melihat di era sekarang banyak sekali mahasiswa yang membutuhkan penguatan karakter dan mental. “Menurut saya karena temanya menarik sih. Apalagi di era sekarang banyak banget mahasiswa yang butuh penguatan karakter dan perbaikan mental,” ujarnya.

Meylda juga menambahkan acara ini sangat penting untuk diadakan di kampus. “Sangat penting, karena memperbaiki mental itu dimulai dari umur-umur kita dan kebutulan juga acaranya di hari libur,” tambahnya.
Meylda berharap setelah mengikuti kegiatan ini dapat diterapkan dan dibagikan pada orang lain. “Semoga semua yang hadir di sini dapat menerapkan terapi-terapi yang diajarkan dan membagikannya kepada orang-orang yang tidak hadir,” tutupnya. (*)


Penulis Nadia, Fitria Apriani

Penyunting : Nayla

Illogical Vol. 4, Kolaborasi Seni dalam Sebuah Cerita

Penampilan teater dalam acara Illogical Vol. 4 UKM BS di GSG Polinela|Perssukma.id/Heidy Putri Shafira

 

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bidang Seni (BS) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali mengadakan Illogical Vol. 4 dengan tema “Whispers Bring Destruction” di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 9 Agustus 2025, dengan menghadirkan kolaborasi unik dari enam divisi seni seperti Musik, Teater, Seni Rupa, Paduan Suara, Tari, dan Perkusi, yang terjalin erat dengan alur cerita.

Lanjutan dari Illogical Vol. 3 tahun kemarin, tentang Alex tokoh utama pada acara ini yang mengalami tekanan psikologis dan bisikan gaib yang merasuki pikirannya. Meninggalkan kampung halaman untuk merantau di sebuah kota yang membuatnya menghadapi perbedaan budaya dan pergaulan.

Cerita yang di tampilkan pada acara ini merupakan pendekatan drama psikologis bercampur unsur thriller, di mana penonton diajak menyelami perjalanan batin Alex melalui rangkaian kilas balik yang mengungkap luka masa lalunya. Adegan-adegan dibangun dengan memperlihatkan pergulatan batin Alex yang dihantui rasa bersalah serta godaan bisikan gaib. Penampilan pada acara ini didukung dengan koloborasi antar divisi seperti musik dan penampilan tari yang memperkuat jalannya cerita.

Jansen Marcelino, Ketua Pelaksana (Ketuplak) sekaligus Ketua Divisi (Kadiv) Teater mengakui tantangan terbesar adalah membagi fokus antara menyusun naskah dan mempersiapkan jalannya acara. “Mungkin tantangannya sedikit bagi otak, karena harus menyusun naskah, running, dan penampilan divisi. Kadang kalau lagi mampet, udah stop nyusun naskahnya. Dan mungkin kalau solusi lebih banyak baca,” ungkapnya.

Jansen juga menambahkan kolaborasi antar divisi yang ditampilkan menjadi penentu jalan pada acara ini. “Kolaborasi antar divisi terjalin satu sama lain. Misalnya, adegan pembunuhan didukung oleh Paduan Suara yang menyanyikan lagu-lagu sedih tentang kematian, serta kolaborasi Musik dan Tari dengan lagu "So Far Away" yang memiliki makna serupa,” tambahnya.

Ulin Nuha Alfani, Pembina UKM BS Polinela menilai tema tersebut sangat relevan dengan fenomena yang dialami mahasiswa dalam menghadapi perbedaan budaya saat merantau ke kota. “Banyak mahasiswa dari desa contohnya yang menghadapi perbedaan budaya dan pergaulan di kota, namun baik buruknya pergaulan itu tergantung lingkungan. Dari cerita ini meskipun kita sering di salahkan oleh orang tua dan merasa terkadang dunia tidak adil, kita tidak harus berbuat hal-hal yang melanggar norma dimanapun kita berada,” ujarnya.

Acara ini terbuka untuk umum dengan biaya masuk yang gratis sebagai bagian dari perayaan HUT UKM BS Polinela yang ke-13. Fahmi Ghozali, salah satu penonton turut mengapresiasi pertunjukan yang dinilai kompak, tata panggung rapi dengan cerita yang berkesan. “Sangat menarik dan bagus sekali, apalagi bagi yang punya minat dalam seni. Penampilan divisi nya juga sangat kompak, tata panggung yang bagus serta penyampaian pertunjukan yang sangat baik dan berkesan,”  ujarnya.

Ulin juga menambahkan bahwa kegiatan seni seperti ini dinilai dangat penting untuk pengembangan soft skill dan kreativitas mahasiswa. “Sangat penting, karena ini ajang untuk menunjukkan bakat masing-masing divisi, karena kalau hanya latihan tetapi tidak pernah tampil tentunya akan membuat bakat yang dimiliki sulit untuk berkembang,” tambahnya.

Ulin berharap UKM BS Polinela dapat terus semakin kompak, bersinar, dan selalu berperilaku sesuai norma yang berlaku. “Potensi anak-anak UKM BS semakin hari semakin menunjukkan performa yang maksimal dari seluruh divisi, apalagi dengan latihan yang konsisten insyaallah akan semakin bersinar. Harapan saya semoga semakin kompak, semakin bersinar tentunya, dan selalu berperilaku sesuai norma berlaku,” tutupnya. (*)

 

Penulis: Heidy Putri Shafira, Nando Atmajaya

Penyunting: Nurul

 

KMHIPO Mengabdi IV, Wujudkan Dharma Melalui Aksi Nyata

 

Foto bersama Keluarga Mahasiswa Hindu Polinela beserta masyarakat desa Kedung Ringin|Perssukma.id/ Doc KMHIPO


Keluarga Mahasiswa Hindu Polinela (KMHIPO) telah menyelenggarakan program tahunan bertajuk KMHIPO Mengabdi IV dengan tema “Menumbuhkan Kesadaran Dharma dan Bakti Melalui Aksi Nyata di Masyarakat”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2025, di Desa Kedung Ringin, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur.

Program ini menjadi wujud nyata kontribusi Mahasiswa Hindu Polinela kepada masyarakat, khususnya dalam mengimplementasikan nilai-nilai dharma melalui pendekatan edukatif, sosial, budaya, dan spiritual. Dengan mengusung konsep Tri Hita Karana, KMHIPO Mengabdi IV menyatukan tiga harmoni utama dalam ajaran Hindu, yaitu hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

I Wayan Rio, Ketua Umum (Ketum) KMHIPO menyampaikan bahwa target utama dalam program ini adalah masyarakat Hindu yang tinggal di wilayah yang belum banyak tersentuh kegiatan pembinaan. "Adapun target utama program ini adalah masyarakat Hindu yang berada di daerah yang belum banyak tersentuh kegiatan pembinaan, termasuk anak-anak, remaja, lansia, serta tokoh adat," ucapnya.

Sebelum pelaksanaan, panitia melakukan survei kebutuhan lokal, berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, dan merancang program berdasarkan potensi serta tantangan yang ada di wilayah tersebut.

Berangkat dari hasil survei kebutuhan masyarakat, panitia KMHIPO menyusun ragam kegiatan yang menyentuh banyak aspek kehidupan warga dari pembuatan canang, pelatihan dharmawacana dan sloka untuk remaja, diskusi hukum pindah agama dalam Hindu, hingga praktik yoga dan penanaman mangrove sebagai aksi cinta bumi. Kegiatan ini tidak hanya membagikan ilmu, tapi juga merawat nilai-nilai lokal dan spiritual.

I Wayan Rio juga menuturkan sejumlah tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan, seperti keterbatasan logistik, adaptasi dengan masyarakat baru, serta pengelolaan waktu dan perizinan. "Meski menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan logistik, akses transportasi, dan adaptasi terhadap lingkungan baru, panitia berhasil mengatasinya dengan menjalin komunikasi aktif bersama tokoh masyarakat dan melibatkan warga secara langsung," tuturnya.

Kegiatan ini turut mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kedung Ringin, tokoh adat dan masyarakat setempat, kelompok Pemuda Hindu Pradah, serta dosen pembina dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Pihak kampus menyambut baik program ini karena dinilai selaras dengan misi penguatan soft skill, pelestarian nilai budaya, serta pengabdian kepada masyarakat.

Made Yuda Saputra, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menyampaikan bahwa program ini memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial di tengah tantangan masyarakat. “Program ini muncul dari kebutuhan untuk menguatkan peran ahasiswa Hindu sebagai agen perubahan sosial di tengah berbagai tantangan masyarakat seperti rendahnya literasi pendidikan, kurangnya pemahaman keagamaan di tingkat akar rumput, serta minimnya ruang kolaboratif antar generasi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pesan kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat Hindu agar menjadikan setiap kegiatan sebagai bentuk pelayanan suci. "Seluruh mahasiswa hindu dan masyarakat luas untuk menjadikan setiap langkah kecil kita sebagai bagian dari pelayanan suci menuju kehidupan yang lebih baik," tutupnya.

KMHIPO Mengabdi IV membuktikan bahwa dharma bukan sekadar kata dalam kitab suci, melainkan bisa hadir dalam tindakan nyata yaitu mengajar, berbagi, dan menyatu dengan masyarakat. (*) 


Penulis : Ahmad Muhajir, M.Danadyaksa Aryasatya

Penyunting : Nayla