Beranda

Mahasiswa Polinela Raih Prestasi Nasional dan Internasional pada Oktober 2025


Nama - Nama Penyumbang Mendali Nasional Maupun Internasional | Perssukma.id/Dok. Polinela

Bulan Oktober 2025, Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional maupun internasional melalui berbagai bidang kompetisi.

Prestasi pertama diraih melalui ajang Pugnator Open International Taekwondo Competition 2025 yang diselenggarakan pada 1-3 Oktober 2025 lalu. Dua mahasiswa Polinela berhasil mengantongi 3 mendali yang diterima oleh Trio Refky Wahyu Putra, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL), meraih Juara 3 Kyorugi Senior Putra U-54 dan Ilham Saputra dari Prodi Teknologi Rekayasa Elektronika (TRE) memperoleh medali emas pada kategori Poomsae Senior. Sedangkan, untuk perwakilan putri di bidang taekwondo dalam ajang Pugnator International Taekwondo Sport Tourism Yogyakarta 2025, diperoleh Mahasiswi Prodi D3 Perjalanan Wisata (PW), Annisa Tazqia Sari yang meraih Juara 2 Kyorugi Senior Putri U-57.

Selain itu, Ahmad Setiawan, Mahasiswa Prodi Produksi dan Manajemen Industri Perkebunan (PMIP) juga berhasil memperoleh Juara 1 dalam ajang Taekwondo Open International 2025.

Pada bidang kopi dan agribisnis, mahasiswa Polinela juga menunjukkan kemampuan terbaiknya. Hadi Cahyono, mahasiswa Prodi Agribisnis Pangan (AGBP), berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Kreasi Tubruk Nusantara SKA Coffee Fest 2025 tingkat nasional. Di ajang Agriculture Innovation Technology Competition (AITEC) 7 International 2025, Shifa Salsabila dari Prodi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) meraih Juara 1 dalam Lomba Sortasi Kopi, sedangkan Efda Aliansyah dari Prodi Agribisnis Peternakan (AGRIPET) bersama Guna Darma dari Prodi Teknologi Produksi Ternak (Tekproter) meraih Juara 3 dalam Lomba Handling Ternak.

Efda Aliansyah peraih Juara 3 Lomba Handling Ternak menjelaskan bahwa tantangan utama selama lomba adalah menghadapi ternak yang cukup giras. “Tantangan terbesar kami adalah menghadapi ternak yang cukup giras. Oleh karena itu, tim kami harus kompak dan mampu membuat ternak menjadi tenang agar penilaian bisa maksimal,” jelasnya.

Efda juga menambahkan bahwa pentingnya kerja sama dalam tim. “Walaupun kami mendapat ternak yang lebih giras, yang penting kami berani dan kompak agar bisa mengendalikan ternak tersebut dengan aman dan tenang ketika merobohkannya,” tambahnya.

Sementara itu, Shifa Salsabila, peraih Juara 1 Lomba Sortasi Kopi, menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam lomba tersebut berkaitan dengan bidang studi yang ia tekuni. “Waktu Ketua Prodi (Kaprodi) mengabari ada lomba sortasi kopi, saya langsung semangat untuk ikut dan ingin mengasah kemampuan saya,” ujarnya.

Shifa juga mengatakan rencananya untuk memperdalam pengetahuan mengenai proses pascapanen kopi, khususnya terkait pengaruh sortasi terhadap cita rasa dan kualitas akhir. “Sortasi kopi paling penting itu ketelitian dan kepekaan mata. Kita harus benar-benar jeli membedakan mana biji yang bagus dan mana yang cacat. Prosesnya membutuhkan kesabaran dan fokus agar hasil sortasi maksimal serta kualitas kopi tetap terjaga,” tutupnya.

Tidak hanya di bidang agribisnis dan peternakan, mahasiswa Polinela juga berprestasi di bidang inovasi pertanian dan pariwisata. Dalam ajang AITEC 7 International 2025, Agung Satrio dan M. Iqbal Fakhriza dari Prodi Pengelolaan Perkebunan Kopi masing-masing berhasil meraih Juara 2 (Perak) dan Juara 3 (Perunggu) pada kompetisi Barista Manual Brew V60. Sementara itu, di bidang pariwisata, tim Prodi D3 PW yang terdiri atas Moch. Hidayat Nur Awaludin dan Kayla Olivia Khairunnisa meraih Juara 2 Kategori Ahli dalam Tour Package Competition National Tourism Vocational Skills Competitions NTVSC 2025 yang berlangsung pada 20 Oktober 2025. Tim ini menampilkan rancangan paket wisata edukatif dan berkelanjutan yang mendapatkan apresiasi tinggi dari dewan juri nasional.

Rangkaian capaian tersebut menambah daftar prestasi Mahasiswa Polinela pada tahun 2025 dan menunjukkan konsistensi kegiatan akademik serta pengembangan kompetensi mahasiswa di berbagai bidang. (*)

Penulis : Putri Anisah Ardiana, Yuki Elisabeth

Penyunting : Rizky 


Rekomendasi Artificial Intelligence (AI) untuk Belajar, Riset, dan Presentasi Lebih Efektif

 

Rekomendasi Artificial Intelligence (AI) untuk Belajar, Riset, dan Presentasi Lebih Efektif|Perssukma.id/Arya Rohmatullah


Rekomendasi Artificial Intelligence (AI) untuk Belajar, Riset, dan Presentasi lebih Efektif

 

Halo sobat SUKMA! Siapa sih yang gatau AI di zaman sekarang?

Kecerdasan Buatan atau AI adalah teknologi canggih yang bikin komputer bisa berpikir dan belajar layaknya manusia. Di dunia perkuliahan, AI jadi sahabat baru mahasiswa mulai dari bantu ngerjain tugas, bikin materi presentasi yang keren, sampai nyatet otomatis isi kuliah. Dengan AI, belajar jadi lebih gampang, seru, dan efisien. Mahasiswa bisa belajar sesuai gaya masing-masing dan nggak perlu repot lagi buat ngejar materi yang tertinggal.

Kali ini Minsuk punya beberapa rekomendasi AI yang bisa kalian gunakan dalam berkuliah maupun kehidupan sehari-hari, yuk simak bareng-bareng!.

 

• ChatGPT 

ChatGPT adalah chatbot berbasis AI yang serba bisa bantu menjawab pertanyaan, merangkum teks, menulis naskah, hingga jadi partner brainstorming ide kreatif. Keunggulan utamanya ada pada gaya percakapan yang natural dan kemampuannya menghasilkan berbagai jenis konten dengan cepat.

 

• Perplexity AI 

Perplexity AI berfokus pada penyajian jawaban yang akurat dan berbasis fakta, lengkap dengan sumber langsung dari web. Cocok digunakan untuk riset atau mencari informasi terbaru.

 

• Gamma AI 

Gamma AI adalah berperan sebagai asisten pembuat presentasi pintar. Alat ini dapat mengubah teks atau dokumen menjadi slide presentasi secara otomatis, sehingga mempersingkat waktu dalam menyiapkan materi yang menarik dan profesional.

 

• Slidesgo 

Slidesgo sama halnya seperti Gamma AI menyediakan template presentasi kreatif dan profesional, mudah digunakan oleh mahasiswa agar hasil slide menarik tanpa perlu desain rumit.

• Blackbook AI 

Blackbook AI membantu mahasiswa mengelola pengetahuan dan catatan dengan fitur AI yang memudahkan pengorganisasian dokumen serta efisiensi belajar.

• Grammarly 

Grammarly adalah alat koreksi tata bahasa dan ejaan otomatis yang penting untuk memastikan tulisan akademik bebas kesalahan dan mudah dipahami, meningkatkan kualitas tugas dan laporan.


Dengan menggunakan AI secara bijak, mahasiswa bisa menghemat waktu dan tenaga sekaligus meningkatkan kualitas hasil belajarnya. Namun, penting untuk tetap berpikir kritis dan menyeleksi setiap informasi yang diberikan AI. Teknologi ini seharusnya jadi partner belajar yang membantu proses berpikir, bukan menggantikan usaha dan pemahaman yang datang dari diri sendiri.

Reporter : Piji Tri Patriot

 

Motor Mahasiswa Hilang di Area Kampus Polinela, Pihak Keamanan: “Rasa Aman Itu dari Diri Sendiri Dulu”

 

Detik-detik motor Mahasiswa Polinela raib di area Albanna Baru | Perssukma.id /Dok. CCTV Kampus Polinela


Satu unit sepeda motor milik salah satu Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dilaporkan hilang pada Minggu, 26 Oktober 2025. Kejadian berlangsung di sekitar area Masjid Al-banna Baru, saat korban tengah menunaikan ibadah salat. Insiden ini terekam kamera Closed-Circuit Television (CCTV) dan langsung ditindaklanjuti oleh pihak keamanan kampus.

Korban, Ahmad Azka Al Farid, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (Bispro) menceritakan kronologi kejadian tersebut. “Waktu itu habis pertandingan catur Polinela Cup, saya salat Asar di masjid sekitar jam empat sore. Setelah salat, saya sempat ngobrol sebentar sama teman. Pas mau pulang, saya lihat ke arah parkiran, motor saya sudah tidak ada,” ungkapnya.

Azka mengatakan, ia langsung mencari di sekitar lokasi dan menanyakan ke beberapa orang. “Saya sempat tanya ke marbot sama beberapa orang yang duduk di depan masjid, tapi semuanya bilang enggak tahu. Akhirnya saya ke pos satpam bareng dua teman buat ngecek CCTV,” jelasnya.

Berdasarkan rekaman CCTV, terlihat seseorang membawa motor tersebut sekitar pukul 16.30 WIB. Menurut pemilik motor atau korban, ia baru menyadari kehilangan itu beberapa menit kemudian tepatnya menjelang pukul lima sore. Setelah mengetahui motornya hilang, ia segera mengecek sekitar lalu melapor kepada pihak keamanan dan menghubungi orang tuanya untuk memberi tahu kejadian tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa pihak keamanan langsung merespons dengan cepat. “Waktu itu juga langsung dicek sama satpam dan polisi datang. Mereka olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), terus malamnya saya lanjut bikin laporan resmi ke Kepolisian Sektor (Polsek) Kedaton,” katanya.

Meski begitu, Azka mengaku belum mendapat kabar lanjutan dari pihak kampus. “Kalau dari kampus belum ada yang ngontak langsung, cuma dosen prodi tahu dan ngasih dukungan,” ungkapnya.

Perwakilan Satuan Pengamanan (Satpam) yang ditemui menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada sore hari ketika kampus dalam kondisi sepi karena hari libur dan lokasi kejadian jauh dari pos keamanan. “Waktu itu hari libur, kami fokus di depan yang ada kegiatan resmi seperti Olahraga, English Club (EC), sama  Kartu Indonesian Pintar (KIP). Jadi memang tidak ada yang jaga di gedung Ki Hajar Dewantara (KHD) waktu itu. Posisinya dia bilang parkir jam setengah lima, tapi dari CCTV kelihatan udah dari jam setengah empat dia naruh motor. Posisi motor enggak dikunci stang dan parkirnya juga bukan di area resmi,” ujarnya.

Satpam menambahkan kasus kehilangan ini sudah dilaporkan secara resmi dan kini ditangani pihak kepolisian, atau dalam proses penyelidikan. “Begitu kejadian, kami langsung hubungi Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) wilayah Kedaton. Polisi datang ke lokasi, cek CCTV, dan orang tua korban juga sudah datang buat laporan resmi ke kantor polisi,” tambahnya.

Pihak keamanan juga menegaskan bahwa musibah ini menjadi pengingat, agar mahasiswa lebih berhati-hati dan tidak menyepelekan keamanan kendaraan. “Seburu-buru apa pun, periksa dulu kunci, tambah pengaman kalau bisa. Jangan nyalahin dulu keamanan kalau kitanya sendiri yang kurang waspada. Rasa aman itu muncul dari diri sendiri dulu,” tegasnya.

Menanggapi kejadian ini, Fitra Ditskiya, Mahasiswa Prodi Manajemen Informatika (MI), menyampaikan pendapatnya yang menurutnya mahasiswa juga harus lebih hati-hati dan aware. “Menurut saya enggak bisa nyalahin satu pihak aja, kejadiannya juga pas hari libur, jadi satpam juga pasti fokus di acara-acara yang lagi jalan. Tapi kita sebagai mahasiswa juga harus lebih hati-hati, lebih aware sama sekitar apalagi ini bukan yang pertama, jadi ya semoga bisa kita jadiin pelajaran. Satpam juga kan punya banyak tugas, bukan Cuma jagain motor mahasiswa aja,” ucapnya.

Satpam berharap mahasiswa bisa jadi lebih peduli dan menghargai kerja petugas keamanan. Menurutnya, keamanan bukan cuma tugas dari satpam, tetapi juga tanggung jawab bersama. “Kita di sini kalau hujan ya basah, panas ya kepanasan, tapi tetap jaga. Kadang cuma ingin dengar ucapan ‘makasih’ aja udah senang. Harapannya, mahasiswa juga dapat  sadar dan tidak menyepelekan aturan parkir,” tutupnya.

Dari pihak keamanan mengimbau kepada seluruh Mahasiswa Polinela, untuk selalu parkir di titik parkir kampus yang resmi seperti area KHD, Jembatan, Gedung B, Gedung Kuliah Baru (GKB), Seroja, dan Sakura. Karena di titik parkir yang resmi tersedia pos jaga, sehingga berada di dalam pantauan petugas. Sebagai Mahasiswa Polinela juga tetap harus waspada dan menjaga kendaraan masing-masing. (*)

 

Penulis : Adit indra Lesmana, Arya Rohmatuloh

Penyunting : Rizky

Kolaborasi AKBD dan AKTP Bahas Era Fintech

 

Suasana Studium Generale di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela | Perssukma.id/Novia Faradiba

Program Studi (Prodi) Akuntansi Bisnis Digital (AKBD) dan Prodi Akuntansi Perpajakan (AKTP) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) berkolaborasi dalam menyelenggarakan Studium Generale pada Kamis, 30 Oktober 2025, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Acara yang mengusung tema “Future Ready Graduates: Strengthening the Competence of Digital Bisnis Accounting Business Accounting and Taxation Students in Fintech Era” ini menghadirkan pemateri dari Politeknik METrO Betong Sarawak, Malaysia.

Dibuka oleh Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela, acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam tentang karier di bidang akuntansi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, penting untuk memahami kompetensi yang dibutuhkan dan potensi yang dapat dimanfaatkan di masa depan.

Norfaireza Binti Akil, pemateri Studium Generale mengatakan tujuan Financial Technology (Fintech) adalah untuk mempermudah layanan keuangan, membuatnya lebih cepat, lebih mudah dijangkau, serta lebih nyaman digunakan oleh masyarakat. “Fintech ada untuk mempermudah layanan keuangan lebih cepat dan mudah di jangkau. Ditambah Fintech juga semakin berkembang, membantu orang dan bisnis untuk menyimpan uang, meminjam, berinvestasi, serta melakukan pembayaran melalui genggaman tangan,” katanya.

Menurut World Bank, lebih dari 70% orang dewasa di seluruh dunia kini memiliki akses terhadap layanan keuangan digital melalui smartphone dan platform Fintech. Fintech memiliki hubungan yang erat dengan ekonomi digital modern karena mempercepat transisi dari sistem perbankan tradisional ke ekosistem keuangan digital. Dengan adanya Fintech, kini semua transaksi dapat dilakukan dari genggaman tangan tanpa perlu datang ke bank.

Norfaireza menambahkan bahwa Fintech juga berperan dalam hal pengetahuan, belajar serta interaksi lintas negara tanpa batasan jarak dan waktu. “Sebagai contoh, kegiatan seperti ini berbagi pengetahuan (sharing knowledge) antara Malaysia dan Indonesia merupakan bukti nyata bahwa teknologi digital. Dalam artian Fintech telah mempermudah interaksi lintas negara tanpa batasan jarak dan waktu,” tambahnya.

Najwa Putri Teisyani, Steering Committee (SC) Ketua Pelaksana (Ketuplak) acara ini mengatakan latar belakang diangkatnya tema ini karena kehadiran Fintech yang relevan dengan Prodi karena berfokus pada aspek bisnis digital dan penggunaan teknologi dalam akuntansi. “Kehadiran finansial teknologi seperti pembayaran digital, Peer-To-Peer (P2P) lending, dan blockchain itu telah mengubah cara bisnis beroperasi dan bertransaksi. Jadi hal ini menuntut lulusan akuntansi tidak hanya menguasai pembukuan konvensional tapi juga akuntansi digital dan perpajakan transaksi elektronik. Nah, untuk Prodi, ini relevan karena berfokus pada aspek bisnis digital dan penggunaan teknologi dalam akuntansi,” ujarnya.

Persiapan acara dilakukan secara bertahap karena kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara dua prodi. Prosesnya dimulai dengan pembentukan panitia gabungan, yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari kedua prodi ini. Dalam setiap tahap perencanaan, keputusan diambil secara musyawarah agar seluruh pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kelancaran dan keberhasilan acara tersebut.

Aufa Baladika Mohammad Nabil Karim, Mahasiswa Prodi AKTP mengatakan bahwa ia cukup takjub dengan adanya acara yang membangun hubungan internasional, antara Polinela dengan politeknik yang ada di negara lain. “Saya cukup takjub dengan adanya acara ini karena acara ini memberi kesempatan Polinela untuk membangun hubungan internasional antara Politeknik yang ada di negara lain seperti Malaysia” katanya.

Aufa juga menjelaskan acara ini menambah wawasan peserta tentang bagaimana cara mengelola keuangan di era digital dengan baik. “Akuntansi, pajak, dan teknologi finansial terhubung satu sama lain dengan satu objek penting, yaitu uang. Acara ini menambah wawasan peserta tentang bagaimana cara mengelola keuangan di era digital dengan baik, mengenali apa saja kelebihan serta kekurangannya, dan membantu penggunaan aplikasi Fintech menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Najwa berharap setelah diadakan acara ini Mahasiswa Akuntansi memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai implikasi Fintech, baik dalam akuntansi dan perpajakan. “Harapannya setelah diadakan acara ini, Mahasiswa AKBD dan AKTP  memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai implikasi Fintech terhadap akutansi dan perpajakan, serta termotivasi untuk menguasai keterampilan digital yang relevan. Selanjutnya, dosen dapat mengadopsi dan mengintegrasi wawasan baru dari Narasumber Internasional ke dalam materi kuliah, sehingga kurikulum prodi semakin relevan dengan perkembangan industri” tutupnya. (*)

 

Penulis: Natasya Rohimah, Novia Faradiba

Penyunting: Heidy


Polinela Siapkan LMS Baru, Google Classroom Jadi Solusi Sementara

 

LMS Baru Tahap Pengembangan Google Classrom Solusi Sementara|Perssukma.id/Dok.Ukm Pers SUKMA

Pada Tahun Ajaran (TA) 2025/2026, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) resmi menggunakan Google Classroom, sebagai media pembelajaran daring. Pergantian ini dilakukan karena Learning Management System (LMS) sebelumnya kerap mengalami gangguan, sehingga berdampak pada efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM). Diketahui, LMS telah digunakan oleh Polinela sejak tahun 2019, tepatnya saat Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19). Platform tersebut menjadi wadah bagi dosen dan mahasiswa, untuk mengunggah materi serta tugas perkuliahan. Namun, seiring meningkatnya jumlah mahasiswa, kapasitas server LMS menjadi penuh dan belum ada penambahan hingga kini.

Halim Fathoni, Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Polinela menjelaskan bahwa permasalahan LMS tidak hanya disebabkan oleh kapasitas server, tetapi juga kendala listrik. “LMS itu dari tahun 2019 ketika pandemi. Seiring berjalannya waktu sampai sekarang, kebijakan itu masih digunakan. Tapi kendalanya sampai sekarang, server yang dipakai LMS belum ada penambahan kapasitasnya. Sedangkan mahasiswa terus bertambah ditambah listrik kita itu bermasalah, padahal bukan internet yang mati, tapi listrik di ruangan server yang padam,” jelasnya.

Sebagai bentuk solusi, Polinela kini mengembangkan LMS baru sebagai langkah menuju transformasi digital dalam mendukung KBM. LMS baru tersebut hadir menggantikan sistem lama berbasis Moodle yang telah digunakan selama beberapa tahun terakhir. Meskipun sistem lama masih dapat diakses untuk menyimpan data sebelumnya, mayoritas dosen kini lebih memilih beralih ke Google Classroom karena dinilai lebih sederhana dan efisien.

Halim menambahkan bahwa pihak kampus sebenarnya sudah melakukan sosialisasi penggunaan LMS baru, namun sebagian besar dosen tetap memilih Google Classroom. “Sudah sosialisasi, Cuma kita kasih opsi antara classroom atau LMS dan kebanyakan dosen memilih menggunakan classroom. Dianggap lebih simple, ringan, cepat, dan tidak membebani server kampus. Serta aman karena data tersimpan di Google Drive masing-masing pengguna karena lebih aman dan kuat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Halim menuturkan bahwa LMS baru dirancang agar lebih ringan dan mudah digunakan, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Namun, sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan hingga benar-benar siap digunakan secara penuh. “Dengan sistem baru, mahasiswa cukup mengunggah tugas ke Google Drive lalu mengirimkan tautannya. Hal ini meringankan beban server yang selama ini cukup berat. Namun ini masih bertahap karena butuh waktu, tenaga, dan dana serta kami tidak ingin kegiatan KBM terganggu. Jadi sambil menuggu kesiapan yang matang, Google Classroom menjadi pilihan yang praktis,” tambahnya.

Dari sisi mahasiswa, Siti Zahrotun Nisa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengelolaan Agribisnis (PAGB) mengaku masih belum memahami penggunaan LMS baru. “Kalau soal LMS baru, saya kurang tahu karena baru sekali menggunakannya untuk join kelas saja. Karena kebanyakan dosen masih menggunakan Google Classroom untuk mengunggah materi, terutama di awal semester. Jadi, belum terlalu banyak pengalaman mengguanakn LMS baru ini. Mungkin nanti setelah Ulangan Tengah Semester (UTS) akan lebih sering digunakan,” ungkapnya.

Muhammad Rifan Setiawan, Mahasiswa Prodi Manajemen Informatika (MI) berharap LMS baru bisa lebih stabil dari sebelumnya. “Saya berharap LMS baru nanti lebih stabil tidak lagi mengalami masalah seperti server overload dan bisa diakses dengan lebih mudah, tanpa harus berulang kali memasukkan username dan password seperti sebelumnya,” tutupnya. (*)

Penulis :Arya Rohmatuloh, Andre Sofyan

Penyunting : Heidy

EPA 2025, Wadah Pengembangan Kompetensi Bahasa Inggris bagi Generasi Muda

 

Suasana di dalam Gedung Serba Guna Polinela | Perssukma.id/Juan


English Club (EC) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menggelar English Provincial Award (EPA) 2025 pada 26-27 Oktober 2025, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Kompetisi tahunan ini mempertemukan pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sederajat, Mahasiswa, dan Umum dalam ajang unjuk kemampuan berbahasa inggris. Acara ini mengusung tema "Survive the Game with the Power of Extraordinary Challenge".

Nur Laila Maharani, Ketua Pelaksana (Ketuplak) EPA 2025menjelaskan tema yang diangkat terinspirasi dari serial Squid Game, yang menggambarkan semangat peserta dalam menghadapi tantangan dengan cara yang luar biasa. “Tema ini kami ambil dari Squid Game karena menggambarkan perjuangan, kerja keras, dan strategi untuk bertahan dalam berbagai tantangan. Kami ingin peserta tidak hanya berkompetisi, tapi juga belajar beradaptasi dan menunjukkan potensi terbaiknya secara kreatif dan kompetitif,” jelasnya.

Laila menambahkan bahwa EPA merupakan kegiatan tahunan yang terus berkembang dari tahun ke tahun, baik dari segi konsep maupun jangkauan peserta. “Persiapannya cukup panjang, mulai dari Juli sampai Oktober. Untuk memikirkan bagaimana konsep tahun ini, karena pastinya berkembang dari tahun sebelumnya. Namun, tantangan terbesarnya adalah mencari peserta dari berbagai provinsi dan menyesuaikan jadwal lomba dengan kegiatan kampus. Tapi kami bangga karena EPA 2025akhirnya bisa terlaksana dengan sukses,” tambahnya.

Acara perlombaan ini menghadirkan empat cabang utama, yaitu Debate, Speech, News Casting, dan Scrabble Competition. Dari keempat cabang tersebut, Speech dan Scrabble menjadi yang paling diminati. Setiap cabang dirancang untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris, berpikir kritis, serta membangun rasa percaya diri peserta.

Hazel Aileen Renata Nababan, salah satu peserta dari SMA Yos Sudarso Metro mengatakan bahwa dalam mempersiapkan lomba Speech Competition, ia menjalani proses latihan yang cukup padat. Saya mengetahui lomba ini dari pelatih saya, kemudian mengikuti seleksi dan akhirnya lolos. Persiapannya cukup padat, saya mempelajari tema yang diberikan panitia, berlatih pronunciation, serta mengembangkan improvisasi dalam gaya berbicara,” ujarnya.

 

Hazel menambahkan pada sistem final yang dilakukan dengan pengacakan temamembuat kompetisi ini terasa lebih menantang. “Pas final itu temanya diacak, jadi harus hafal dua naskah sekaligus. Tapi justru karena hal tersebut membuat seru dan melatih kesiapan mental,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, EC Polinela menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kemampuan komunikasi internasional di kalangan pelajar dan mahasiswa. EPA 2025 bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran, kolaborasi, dan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkembang. (*Jhon)


Penulis : Juan Aditio Kurniawan, Eka Nursani


Penyunting : Jhon

Refleksi Satu Tahun Prabowo Gibran, Mahasiswa Lampung Suarakan Aksi Simbolik

 

Sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Lampung menggelar aksi simbolik memperingati satu tahun pemerintahan Prabowo dan Gibran | Perssukma.id/Arya

Sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Provinsi Lampung menggelar aksi simbolik memperingati satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Aksi yang bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda ini digelar di Bundaran Hajimena, Selasa 28 Oktober 2025, dengan tema “Refleksi 1 Tahun Prabowo–Gibran: Ke Mana Arah Negeri Ini?”.

Muhammad Dafa Alfitrah, Koordinator lapangan (Korlap) aksi mengatakan bahwa aksi ini merupakan momentum refleksi sekaligus pengingat bagi pemerintah agar tetap berpihak pada rakyat. “Yang melatarbelakangi aksi hari ini jelas, ini momentum satu tahun evaluasi kinerja Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Gibran Rakabuming Raka. Sekaligus juga karena hari ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, jadi kita ingin menyatukan semangat pemuda,” ungkapnya.

Dafa menyebut massa aksi yang hadir berasal dari berbagai kampus di Bandar Lampung. “Kurang lebih ada sekitar seratus massa yang ikut turun, diantaranya berasal dari Universitas Lampung (Unila), Politeknik Kesehatan Tanjung Karang (Polkestanka), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, dan beberapa kampus lainnya.” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, para mahasiswa membawa beberapa tuntutan yang dianggap penting untuk diperhatikan pemerintah yaitu :

1.     Mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar maksimal dalam pelaksanaannya

2.     Jadikan pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama

3.     Sahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) perampasan aset

4.     Bebaskan kawan-kawan kami para aktivis seluruh Indonesia yang menjadi tahanan politik saat ini

5.     Melakukan reformasi total terhadap Kepolisian Republik Indonesia (Polri) agar lebih berpihak pada rakyat serta mendesak Kapolri untuk mundur dari jabatannya 

6.     Memecat menteri problematik serta mengganti dengan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya

7.     Mendesak rezim Prabowo Gibran untuk merealisasikan janji kampanyenya

8.     Mendesak Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATRBPN) untuk mewujudkan reforma agraria sejati dengan poin:

-        Mengukur ulang Hak Guna Usaha (HGU) PT Sugar Group Companies (SGC)

-        Menyelesaikan permasalahan konflik anak tuha

-        Mengembalikan tanah masyarakat adat register 44

9.     Menantang Prabowo Gibran untuk berdiskusi secara langsung dengan Mahasiswa di Lampung

Dafa menyoroti sejumlah isu penting terkait kondisi di lapangan. “Kita sampaikan evaluasi soal program MBG, tapi bukan menolak programnya ya, kita kritik di bagian pengimplementasiannya di lapangan,” jelasnya

Dafa juga menyinggung isu konflik agraria yang menurutnya masih menjadi masalah besar di Provinsi Lampung. “Masih banyak saudara-saudara kita yang tinggal di tanah adat tanpa kejelasan hukum. Di Way kanan, Tulang Bawang, dan daerah lain masih banyak kasus sengketa tanah yang belum selesai,” katanya.

Bagus Eka saputra, Presiden Mahasiswa (Presma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polinela, menuturkan bahwa keterlibatan kampusnya dalam aksi ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa.“Satu tahun pemerintahan Prabowo dan Gibran ini masih banyak problematik yang belum terselesaikan. Kita ingin memberikan evaluasi supaya program pemerintah ke depan bisa lebih merata dan terasa manfaatnya,” ujarnya.

Menurutnya, isu yang paling krusial untuk dikawal adalah soal reformasi agraria. “Sampai sekarang reformasi agraria yang sempat dijanjikan belum terrealisasi. Di Lampung sendiri, kasus seperti register 44, petani di Anak Tuha, dan HGU PT Sugar Group Company masih banyak masalah,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masih percaya bahwa suara mahasiswa belum sepenuhnya diabaikan. “Kemarin waktu demo bulan Agustus, kita dari aliansi Badan Eksekutif Seluruh Indonesia (BEM SI) sempat audiensi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI). Jadi sejauh ini masih didengar, tapi kita harus terus jaga supaya suara mahasiswa nggak hilang,” jelasnya.

Sementara itu Lingga Syaputra, Presiden BEM IIB Darmajaya, menyoroti masalah pendidikan yang dinilainya masih jauh dari kata merata. “Kita melakukan evaluasi kinerja Prabowo dan Gibran karena pendidikan hari ini masih terasa eksklusif. Banyak masyarakat belum dapat akses pendidikan penuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan terdapat 2,9 juta orang di atas 10 tahun yang masih buta huruf,” ungkapnya.

Lingga juga mengingatkan bahwa di Lampung sendiri sekitar dua persen masyarakat belum bisa membaca dan menulis, angka yang menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah (PR) di bidang pendidikan. “Kalau pondasi utama kayak pendidikan aja masih diabaikan, gimana kita mau ngomong soal Indonesia Emas 2045?” ucapnya.

Menurut Lingga, suara mahasiswa memang kadang didengar, tapi belum benar-benar ditindaklanjuti. “Kadang cuma sebatas formalitas biar mahasiswa tenang. Tapi tindak lanjut dari tuntutan-tuntutan itu belum kelihatan. Jadi kita akan terus suarakan sampai ada hasil nyata,” tambahnya.

Bagus berharap agar tuntutan  tidak hanya berhenti di aksi serta menegaskan pentingnya konsistensi gerakan mahasiswa. “Harapan kami, aksi ini bukan berhenti di jalan, tapi terus berlanjut sebagai bentuk pengawasan. Kita akan terus konsisten menyuarakan apa yang belum dijalankan dengan benar,” katanya.

Dafa berharap aksi ini menjadi awal dari kepedulian yang lebih luas. “Kami membawa nama Aliansi Mahasiswa Lampung bukan cuma untuk kampus, tapi untuk masyarakat Lampung. Kami ingin masyarakat juga peduli dengan isu-isu politik dan sosial yang sedang terjadi,” tutupnya.

Di akhir aksi, para mahasiswa membacakan refleksi bersama sebagai penutup serta menyampaikan undangan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto agar bersedia berdiskusi langsung dengan mahasiswa Lampung. Mereka berharap pemerintah tidak hanya menjadikan suara mahasiswa sebagai formalitas belaka, melainkan sebagai dorongan nyata untuk perubahan. (*)

Penulis : Adit Indra Lesmana, Arya rohmatuloh

Penyunting : Rizki

GEMA KIP-K 2025, Sebagai Wadah Pengembangan Mahasiswa Penerima Beasiswa

 

Suasana foto bersama di ruang sidang Polinela | Perssukma.id/jhon

Gebyar Mahasiswa (GEMA) Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) 2025 resmi  diselenggarakan pada Minggu, 26 Oktober 2025, di Ruang Sidang dan Gedung Kuliah Bersama (GKB) Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Beasiswa Anak Negeri (Formaban) Polinela sebagai ajang pengembangan kreativitas dan inovasi bagi penerima beasiswa KIP se-Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Dengan mengusung tema “Membangun Indonesia Emas Melalui Kreativitas dan Inovasi Generasi Muda,” acara tersebut bertujuan mendorong semangat berkarya mahasiswa dalam menghadapi tantangan masa depan. 

M. Rhamanda, Ketua Pelaksana (Ketuplak) GEMA KIP-K menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun semangat dan motivasi akademik mahasiswa penerima bantuan pendidikan. “Acara ini bertujuan untuk membangun semangat, meningkatkan kreativitas, dan prestasi akademik penerima beasiswa KIP-K. Ditujukan sebagai bekal membangun masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Rhamanda menambahkan bahwa tema yang diangkat mencerminkan semangat generasi muda yang sebagai penggerak bangsa. “Tema yang diangkat, disesuaikan dengan generasi muda sebagai penggerak kemajuan dengan ide-ide kreatif dan inovasi bangsa. Hal ini selaras guna mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing di tahun 2045,” tambahnya.

Sementara itu, Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela menjelaskan bahwa Formaban merupakan wadah bagi Mahasiswa Polinela terkhususnya bagi penerima beasiswa di kampus. “Formaban adalah forum atau tempat yang mewadahi mahasiswa beasiswa yang ada di Polinela. Saat ini di Polinela, ada sekitar 3.000 mahasiswa penerima bantuan KIP-K dan Bantuan Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi). Dengan adanya GEMA KIP-K, kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena bisa menjadi ruang pengembangan diri dan prestasi mahasiswa,” ujarnya.

Sidiq Jaya Laksana, Ketua Umum (Ketum) Formaban Polinela menjelaskan bahwa GEMA KIP-K 2025 merupakan penyelenggaraan kedua yang kini dilaksanakan secara regional se-Sumbagsel, setelah sempat terhenti pada tahun 2024. “Sebenarnya GEMA sempat berhenti di kepengurusan 2024 dan alhamdulillah, di tahun 2025 ini bisa kembali dilaksanakan. Untuk menentukan konsepnya itu benar-benar ditentukan pada bulan Mei 2025, mulai dari melakukan rapat dan menentukan jenis perlombaan yang akan diadakan,” jelasnya.

Tahun ini terdapat empat cabang perlombaan utama, yaitu desain grafis, pidato, esai, dan solo song. Dari keempatnya, cabang solo song dan pidato menjadi yang paling diminati dengan puluhan peserta dari berbagai kampus di wilayah Sumbagsel.

Dela Handayani, Penanggung Jawab (PJ) Lomba desain grafis menjelaskan bahwa pemilihan cabang ini didasarkan oleh relevansinya terhadap perkembangan teknologi dan komunikasi masa kini. “Desain grafis ini sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan komunikasi saat ini. Kami ingin mendorong peserta menciptakan karya yang bermakna dan relevan dengan isu pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Wulan Nur Aisyah, Mahasiswi Universitas Lampung (Unila) berhasil meraih juara pertama pada kategori lomba esai dengan karya berjudul Lab Cauntion (laboratory collaboration). Ia menjelaskan bahwa idenya berupa situs web penghubung antara mahasiswa atau peneliti dengan laboratorium penelitian. “Saya membuat karya sebuah website yang mempermudah mahasiswa atau peneliti menemukan laboratorium, ini untuk menunjang penelitian. Idenya baru, belum ada pesaingnya dan saya sudah buat Prototype,” jelasnya.

Wulan juga menambahkan apresiasinga terhadap penyelenggaraan acara yang dinilai bagus, mulai dari fasilitas dan benefit yang ia dapati. “Menurut saya, acaranya bagus banget panitianya ramah tadi juga kita di jemput dan diantar pulang. Fasilitasnya juga lengkap, bahkan biaya pendaftarannya terjangkau dengan benefityang banyak,” tambahnya. 

Sidiq berharap kegiatan GEMA KIP-K dapat menjadi wadah pembuktian bagi mahasiswa penerima KIP-K bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berprestasi. “Dari kegiatan ini, harapannya bisa menunjukkan bahwa mahasiswa penerima KIP-K, yang datang dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu, mampu menjadi agen perubahan menuju generasi emas tersebut. Untuk seluruh panitia, semoga dari acara tahun ini kita bisa banyak belajar dan kepengurusan berikutnya bisa mempertahankan acara GEMA ini,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, Formaban Polinela menunjukkan komitmennya untuk terus menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan semangat kolaborasi di kalangan penerima KIP. Kegiatan ini juga menjadi ajang pengembangan potensi dan prestasi mahasiswa, sekaligus sarana memperkenalkan Polinela kepada masyarakat luas. (*)

Penulis : Jhon Hanan Sipakkar, Eka Nursani

Penyunting : Rizki

Polinela Cup 2025, Ajang Seleksi Mahasiswa Menuju Porseni 2026

 

Suasana perlombaan futsal di belakang Gedung Serba Guna Polinela | Perssukma.id/ Yudishtira

Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKMO) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar kompetisi olahraga tahunan bertajuk Polinela Cup 2025. Kegiatan ini berlangsung sejak Senin, 20 Oktober 2025 dan dibuka langsung oleh Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela. Dengan mengusung tema “Buktikan Jiwa Juaramu, Eratkan Rasa Keluargamu,” ajang ini juga menjadi wadah seleksi atlet berbakat kampus menuju Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) 2026 mendatang.

Rizqy Agus Salim, Ketua Umum (Ketum) UKMO Polinela menjelaskan bahwa Polinela Cup 2025 berfungsi sebagai ajang seleksi internal bagi mahasiswa yang memiliki potensi di bidang olahraga. “Polinela Cup ini merupakan program kerja UKM Olahraga yang bertujuan menyeleksi atlet-atlet dari mahasiswa Polinela. Kami ingin menciptakan wadah penyaringan pertama bagi atlet muda yang nantinya akan membawa nama kampus ke tingkat nasional,” katanya.

Tahun ini, Polinela Cup mempertandingkan tujuh cabang olahraga, yakni futsal, voli, basket, badminton, catur, tenis meja, dan e-sport Mobile Legends. Seluruh pertandingan dilaksanakan setiap sore usai kegiatan kuliah di lapangan belakang Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.

Salim menambahkan, tema besar kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kompetisi semata, tetapi juga mempererat hubungan antar-mahasiswa lintas jurusan. “Lewat tema tersebut, kami ingin menumbuhkan jiwa kompetitif di setiap mahasiswa sekaligus mempererat hubungan antar Program Studi (Prodi) atau Jurusan Polinela. Antusiasme teman-teman luar biasa, meskipun sedang masa Ujian Tengah Semester (UTS), mereka tetap menyempatkan diri menonton dan mendukung prodi masing-masing,” tambahnya.

Dika Nizar, Panitia Polinela Cup menuturkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan sejak satu bulan sebelumnya dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk sponsor utama Pocari Sweat. “Kepanitiaan dibagi ke beberapa divisi seperti acara, lapangan, dan sponsosorship. Tantangan terbesarnya ngatur waktu di lapangan dan tetap seimbang sama jadwal kuliah,” katanya.

Dika juga menambahakan ntusiasme peserta dan dukungan dari pihak kampus membuat semua kerja keras panitia terbayar. “Sebelum acara dimulai, kami sempat konsultasi ke Wadir III, Pak Agung. Beliau sangat mendukung karena acara ini jadi sarana seleksi atlet menuju Porseni dan dukungan kampus luar biasa,” ujarnya.

Selama persiapan, panitia melakukan sejumlah langkah teknis, seperti penjadwalan pertandingan, koordinasi fasilitas, dan pemenuhan kebutuhan perlengkapan. Setiap divisi melakukan rapat evaluasi rutin untuk memastikan kesiapan pelaksanaan kegiatan. Meskipun terdapat beberapa kendala seperti padatnya jadwal dan insiden kecil di lapangan, kegiatan tetap berjalan sesuai rencana berkat koordinasi panitia dan dukungan berbagai pihak. Para peserta juga berpartisipasi aktif dalam setiap cabang olahraga yang dipertandingkan.

Riyandi, peserta cabang lomba futsal turut membagikan pengalamannya mengikuti Polinela Cup tahun ini karena penasaran dan tertarik dengan perlombaanya. “Alasan saya ikut tahun ini karena saya masih penasaran dan tertarik dengan lomba-lomba yang diadakan Polinela Cup,” katanya. 

Ia mengaku belum sepenuhnya siap, tetapi tetap merasa bangga bisa mewakili jurusan di ajang tersebut. “Sebetulnya kami masih kurang dalam persiapan, jadi mengalami kekalahan. Target saya sebenarnya menang tahun ini, tapi mungkin belum tercapai. Tahun depan kami coba lagi,” ujar Riyandi.

Riyandi berharap ke depannya peraturan untuk suporter lebih diketatkan lagi dan perlombaan jni dapat memperkuat solidaritas Polinela. “Peraturannya di ketatatman lagi karena kadang masih ada yang memprovokasi atau berteriak hal-hal yang tidak seharusnya. Semoga Polinela Cup bisa memperkuat solidaritas antarjurusan dan mempererat kekeluargaan, karena kita semua di Polinela adalah satu,” tutupnya.(*)

 

Penulis : Bila Anjani, Yudishtira Falhulhelmi


Penyunting : Rizky