|
Pada Tahun
Ajaran (TA) 2025/2026, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) resmi menggunakan Google Classroom, sebagai media
pembelajaran daring. Pergantian ini dilakukan karena Learning Management System (LMS) sebelumnya kerap mengalami
gangguan, sehingga berdampak pada efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM).
Diketahui, LMS telah digunakan oleh Polinela sejak tahun 2019, tepatnya saat
Pandemi Corona Virus Disease
(COVID-19). Platform tersebut menjadi wadah bagi dosen dan mahasiswa, untuk
mengunggah materi serta tugas perkuliahan. Namun, seiring meningkatnya jumlah
mahasiswa, kapasitas server LMS menjadi penuh dan belum ada penambahan hingga
kini.
Halim
Fathoni, Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) Polinela menjelaskan bahwa permasalahan LMS tidak hanya
disebabkan oleh kapasitas server,
tetapi juga kendala listrik. “LMS itu dari tahun 2019 ketika pandemi. Seiring
berjalannya waktu sampai sekarang, kebijakan itu masih digunakan. Tapi
kendalanya sampai sekarang, server
yang dipakai LMS belum ada penambahan kapasitasnya. Sedangkan mahasiswa terus
bertambah ditambah listrik kita itu bermasalah, padahal bukan internet yang
mati, tapi listrik di ruangan server
yang padam,” jelasnya.
Sebagai
bentuk solusi, Polinela kini mengembangkan LMS baru sebagai langkah menuju
transformasi digital dalam mendukung KBM. LMS baru tersebut hadir menggantikan
sistem lama berbasis Moodle yang
telah digunakan selama beberapa tahun terakhir. Meskipun sistem lama masih
dapat diakses untuk menyimpan data sebelumnya, mayoritas dosen kini lebih
memilih beralih ke Google Classroom
karena dinilai lebih sederhana dan efisien.
Halim
menambahkan bahwa pihak kampus sebenarnya sudah melakukan sosialisasi
penggunaan LMS baru, namun sebagian besar dosen tetap memilih Google Classroom. “Sudah sosialisasi,
Cuma kita kasih opsi antara classroom
atau LMS dan kebanyakan dosen memilih menggunakan classroom. Dianggap lebih simple, ringan, cepat, dan tidak
membebani server kampus. Serta aman
karena data tersimpan di Google Drive
masing-masing pengguna karena lebih aman dan kuat,” ungkapnya.
Lebih
lanjut, Halim menuturkan bahwa LMS baru dirancang agar lebih ringan dan mudah
digunakan, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Namun, sistem tersebut masih dalam
tahap pengembangan hingga benar-benar siap digunakan secara penuh. “Dengan
sistem baru, mahasiswa cukup mengunggah tugas ke Google Drive lalu mengirimkan
tautannya. Hal ini meringankan beban server yang selama ini cukup berat. Namun
ini masih bertahap karena butuh waktu, tenaga, dan dana serta kami tidak ingin
kegiatan KBM terganggu. Jadi sambil menuggu kesiapan yang matang, Google Classroom menjadi pilihan yang
praktis,” tambahnya.
Dari sisi
mahasiswa, Siti Zahrotun Nisa, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengelolaan
Agribisnis (PAGB) mengaku masih belum memahami penggunaan LMS baru. “Kalau soal
LMS baru, saya kurang tahu karena baru sekali menggunakannya untuk join kelas
saja. Karena kebanyakan dosen masih menggunakan Google Classroom untuk mengunggah materi, terutama di awal
semester. Jadi, belum terlalu banyak pengalaman mengguanakn LMS baru ini.
Mungkin nanti setelah Ulangan Tengah Semester (UTS) akan lebih sering
digunakan,” ungkapnya.
Muhammad
Rifan Setiawan, Mahasiswa Prodi Manajemen Informatika (MI) berharap LMS baru
bisa lebih stabil dari sebelumnya. “Saya berharap LMS baru nanti lebih stabil
tidak lagi mengalami masalah seperti server
overload dan bisa diakses dengan lebih mudah, tanpa harus berulang kali
memasukkan username dan password seperti sebelumnya,” tutupnya.
(*)
Penulis :Arya Rohmatuloh, Andre Sofyan
Penyunting : Heidy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar