Beranda

Kolaborasi AKBD dan AKTP Bahas Era Fintech

 

Suasana Studium Generale di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela | Perssukma.id/Novia Faradiba

Program Studi (Prodi) Akuntansi Bisnis Digital (AKBD) dan Prodi Akuntansi Perpajakan (AKTP) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) berkolaborasi dalam menyelenggarakan Studium Generale pada Kamis, 30 Oktober 2025, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Acara yang mengusung tema “Future Ready Graduates: Strengthening the Competence of Digital Bisnis Accounting Business Accounting and Taxation Students in Fintech Era” ini menghadirkan pemateri dari Politeknik METrO Betong Sarawak, Malaysia.

Dibuka oleh Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela, acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam tentang karier di bidang akuntansi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, penting untuk memahami kompetensi yang dibutuhkan dan potensi yang dapat dimanfaatkan di masa depan.

Norfaireza Binti Akil, pemateri Studium Generale mengatakan tujuan Financial Technology (Fintech) adalah untuk mempermudah layanan keuangan, membuatnya lebih cepat, lebih mudah dijangkau, serta lebih nyaman digunakan oleh masyarakat. “Fintech ada untuk mempermudah layanan keuangan lebih cepat dan mudah di jangkau. Ditambah Fintech juga semakin berkembang, membantu orang dan bisnis untuk menyimpan uang, meminjam, berinvestasi, serta melakukan pembayaran melalui genggaman tangan,” katanya.

Menurut World Bank, lebih dari 70% orang dewasa di seluruh dunia kini memiliki akses terhadap layanan keuangan digital melalui smartphone dan platform Fintech. Fintech memiliki hubungan yang erat dengan ekonomi digital modern karena mempercepat transisi dari sistem perbankan tradisional ke ekosistem keuangan digital. Dengan adanya Fintech, kini semua transaksi dapat dilakukan dari genggaman tangan tanpa perlu datang ke bank.

Norfaireza menambahkan bahwa Fintech juga berperan dalam hal pengetahuan, belajar serta interaksi lintas negara tanpa batasan jarak dan waktu. “Sebagai contoh, kegiatan seperti ini berbagi pengetahuan (sharing knowledge) antara Malaysia dan Indonesia merupakan bukti nyata bahwa teknologi digital. Dalam artian Fintech telah mempermudah interaksi lintas negara tanpa batasan jarak dan waktu,” tambahnya.

Najwa Putri Teisyani, Steering Committee (SC) Ketua Pelaksana (Ketuplak) acara ini mengatakan latar belakang diangkatnya tema ini karena kehadiran Fintech yang relevan dengan Prodi karena berfokus pada aspek bisnis digital dan penggunaan teknologi dalam akuntansi. “Kehadiran finansial teknologi seperti pembayaran digital, Peer-To-Peer (P2P) lending, dan blockchain itu telah mengubah cara bisnis beroperasi dan bertransaksi. Jadi hal ini menuntut lulusan akuntansi tidak hanya menguasai pembukuan konvensional tapi juga akuntansi digital dan perpajakan transaksi elektronik. Nah, untuk Prodi, ini relevan karena berfokus pada aspek bisnis digital dan penggunaan teknologi dalam akuntansi,” ujarnya.

Persiapan acara dilakukan secara bertahap karena kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara dua prodi. Prosesnya dimulai dengan pembentukan panitia gabungan, yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari kedua prodi ini. Dalam setiap tahap perencanaan, keputusan diambil secara musyawarah agar seluruh pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kelancaran dan keberhasilan acara tersebut.

Aufa Baladika Mohammad Nabil Karim, Mahasiswa Prodi AKTP mengatakan bahwa ia cukup takjub dengan adanya acara yang membangun hubungan internasional, antara Polinela dengan politeknik yang ada di negara lain. “Saya cukup takjub dengan adanya acara ini karena acara ini memberi kesempatan Polinela untuk membangun hubungan internasional antara Politeknik yang ada di negara lain seperti Malaysia” katanya.

Aufa juga menjelaskan acara ini menambah wawasan peserta tentang bagaimana cara mengelola keuangan di era digital dengan baik. “Akuntansi, pajak, dan teknologi finansial terhubung satu sama lain dengan satu objek penting, yaitu uang. Acara ini menambah wawasan peserta tentang bagaimana cara mengelola keuangan di era digital dengan baik, mengenali apa saja kelebihan serta kekurangannya, dan membantu penggunaan aplikasi Fintech menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Najwa berharap setelah diadakan acara ini Mahasiswa Akuntansi memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai implikasi Fintech, baik dalam akuntansi dan perpajakan. “Harapannya setelah diadakan acara ini, Mahasiswa AKBD dan AKTP  memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai implikasi Fintech terhadap akutansi dan perpajakan, serta termotivasi untuk menguasai keterampilan digital yang relevan. Selanjutnya, dosen dapat mengadopsi dan mengintegrasi wawasan baru dari Narasumber Internasional ke dalam materi kuliah, sehingga kurikulum prodi semakin relevan dengan perkembangan industri” tutupnya. (*)

 

Penulis: Natasya Rohimah, Novia Faradiba

Penyunting: Heidy


Tidak ada komentar:

Posting Komentar