Beranda

Aksi Lampung Tarik Mandat, DPRD Tak Temui Massa

 
(15/06/2026) Aliansi Mahasiswa Lampung menyampaikan pernyataan sikap di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung. Perssukma.blogspot.com/Dok|Fitri Apriani


Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Lampung Tarik Mandat menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung, pada Senin, 15 Juni 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi kembali karena dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. 

Aksi ini diikuti oleh sejumlah lembaga, di antaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung, BEM Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO), serta berbagai elemen mahasiswa lainnya. 

Dalam aksi tersebut, massa secara bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti berbagai persoalan yang dinilai tengah dihadapi masyarakat. Mulai dari sektor pendidikan, kondisi perekonomian, hingga penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi isu yang mendapat perhatian dalam aksi tersebut. Aliansi Lampung Tarik Mandat membawa enam poin tuntutan, yaitu:

  1. Menjadikan pendidikan sebagai program prioritas, mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis.
  2. Menurunkan harga bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
  3. Hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (KOPDES).
  4. Merevisi Undang-Undang (UU) Polisi Republik Indonesia (POLRI) dan menghentikan militerisme di ranah sipil.
  5. Mendorong penerapan regulasi pajak kekayaan.
  6. Mewujudkan penegakan HAM yang sejati.

Muhammad Fachri Aulia Harbie, salah satu peserta aksi, mengungkapkan bahwa sejumlah kebijakan pemerintah perlu di evaluasi kembali karena dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. "Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah perlu untuk dievaluasi ulang, dalam pelaksanaan yang tentunya tidak relevan untuk dilanjutkan dengan kondisi ekonomi saat ini, alangkah lebih baik dihentikan dan di evaluasi," ungkapnya.

Fachri juga menilai bahwa kebijakan terkait bahan bakar minyak berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, masyarakat akan beralih menggunakan BBM bersubsidi yang saat ini ketersediaannya sudah terbatas, sehingga berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok. "Justru masyarakat akan pindah ke BBM subsidi yang faktanya bahwa hari ini pun tanpa dinaikan pun sudah sangat langka. Tentunya akan merambat ke nilai ekonomi, naiknya harga barang pokok. Yang mana ekspedisi dan perusahaan dilarang memakai BBM subsidi," nilainya.

Situasi demonstrasi sempat diwarnai ketegangan, ketika mahasiswa berusaha memasuki Gedung DPRD Provinsi Lampung untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada anggota dewan. Penolakan akses oleh aparat keamanan memicu aksi saling dorong antara kedua belah pihak. Massa aksi kemudian memutuskan mundur dari area gerbang DPRD hingga kondisi kembali kondusif.

M. Tarehsyah, Jenderal Lapangan (Jenlap) mengatakan bahwa gerakan yang dilakukan tidak akan berhenti pada aksi kali ini. Mereka akan terlebih dahulu menyelesaikan konsolidasi internal sebelum melanjutkan konsolidasi dalam skala yang lebih besar. "Setelah konsolidasi internal selesai, maka kami akan melanjutkan konsolidasi akbar," ujarnya.

Hingga aksi berakhir, tidak ada perwakilan dari DPRD Provinsi Lampung yang turun untuk mendengarkan aspirasi massa secara langsung. Aksi kemudian ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dari seluruh di depan gerbang Gedung DPRD.

Fachri berharap pemerintah dapat memberikan respons yang lebih konkret terhadap tuntutan yang disampaikan mahasiswa. "Tentunya harapannya lebih konkret ya. Responsnya lebih konkret, lebih jelas, lebih nyata. Tidak hanya sekadar normatif saja. Diterima, diterima, diterima namun tidak ada kabarnya sampai dengan hari ini. Seperti yang sudah-sudah," tutupnya. (*) 

Reporter: Fitria Apriani, Adzra Rizka Andini DwiPutri

Penyunting: Dian



Talent Show Menuju Grand Final DK Polinela

Finalis DK Polinela menampilkan bakat pada Talent Show 2026 di Gedung Sakura |Perssukma.blogspot.com/ Bila Anjani


Sabtu, 13 Juni 2026, Duta Kampus (DK) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Talent Show DK Polinela 2026 di Gedung Sakura Polinela. Ajang ini merupakan indikator penilaian penting bagi dewan juri untuk mengukur mentalitas, kreativitas, dan kesiapan para finalis menjelang babak Grand Final, di mana mereka mengombinasikan unsur budaya lokal tradisional dengan sentuhan modern melalui berbagai penampilan.

Muhammad Zaky, Mentor DK 2026 mengungkapkan bahwa perpaduan budaya tradisional dan unsur modern menjadi cara efektif untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda. “Anak muda zaman sekarang menyukai hal-hal yang modern. Dengan adanya kombinasi ini, budaya tradisional bisa diperkenalkan dengan cara yang lebih menarik,” ungkapnya.

Helidatasa Utami, Dewan Juri Talent Show DK Polinela 2026 menjelaskan bahwa penampilan bakat menjadi salah satu aspek penting dalam proses penilaian DK karena mampu menggambarkan karakter, kreativitas, dan kesiapan mental peserta. “Melalui Talent Show ini, kita bisa melihat bagaimana kepercayaan diri mereka saat tampil di depan umum, bagaimana mereka mengemas pertunjukan, serta cara mereka mengatasi rasa gugup. Hal itu menjadi salah satu poin penting dalam penilaian,” jelasnya.

Seluruh finalis menyajikan ragam bakat di atas panggung yang meliputi seni tari tradisional, tari modern, pertunjukan musik, baca puisi, storytelling, monolog, hingga aksi bela diri. Setiap peserta membawakan variasi penampilan yang berbeda dengan mengemas potensi masing-masing. Keberagaman jenis pertunjukan tersebut ditampilkan secara berurutan untuk memenuhi rangkaian kriteria dalam proses penilaian kompetisi.

Muhammad Hafiz Al-Mubarak, Finalis DK mengatakan ajang ini sebagai wadah penting bagi para finalis untuk menunjukkan potensi diri. “Duta Kampus tidak hanya dinilai dari wawasan akademis, tetapi juga dari kemampuan mengeksplorasi potensi diri. Kegiatan ini melatih kepercayaan diri dan kesiapan mental untuk tampil di hadapan banyak orang,” katanya.

Tia Aprilia, Penonton berharap agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai sarana pengenalan budaya lokal di lingkungan kampus, sekaligus memberikan dukungan moral bagi seluruh finalis yang akan bersaing di tahap berikutnya. “Sebagai generasi muda, kita perlu ikut melestarikan budaya tradisional agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman, dan semoga seluruh peserta DK 2026 tetap semangat serta menjaga kesehatan menuju malam puncak nanti,” tutupnya. (*) 


Reporter: Bila Anjani,Resti Jannysa Ulandari

Penyunting: Akbar


Aksi Sambil Piknik, Terdapat Kritik Tata Kelola Kota

 

(09/06/2026) Kritik sosial hadir di tengah suasana santai |Perssukma.blogspot.com/ Adzra Rizka



Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung bersama Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi massa di depan Kantor Walikota Bandar Lampung, dalam rangka “Aksi Sambil Piknik” memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pada Selasa, 9 Juni 2026.

Aksi ini diikuti oleh sejumlah Aliansi Masyarakat antara lain, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Forum Literatur Lampung, Masyarakat Hukum Sayangi Alam (Mahusa) Universitas Lampung (Unila), Mahasiswa Pencipta Alam (Mapala) Universitas Tulang bawang (UTB), Unit Kegiatan Bidang Seni (UKMBS) Unila dan sebagainya. 

Aksi piknik tersebut mengangkat tema “Krisis Keadilan Iklim, Desak Keadilan Ekologis” yang menyuarakan sejumlah tuntutan kepada pemerintah sebagai bentuk respons terhadap berbagai persoalan lingkungan yang dinilai masih terjadi di Lampung. Adapun tuntutan yang disampaikan, yaitu:

  1. Menuntaskan Permasalahan lingkungan struktural yang menyebabkan Bencana ekologis.
  2. Sediakan Ruang Publik dan Ruang Hijau yang layak dan cukup.
  3. Menjamin Akses Ruangan Publik yang Inklusif dan Gratis.
  4. Stop seluruh aktivitas dan Perizinan yang menyebab kerusakan lingkungan.

Kegiatan piknik ini merupakan cara damai untuk menunjukkan bahwa masyarakat Kota Bandar Lampung membutuhkan ruang publik yang bukan sekedar layak tetapi juga membutuhkan ruang hijau yang cukup.

Mustakim, Staf Advokasi Walhi Lampung menjelaskan bahwa konsep piknik kali ini dipilih sebagai salah satu bentuk kampanye protes tidak adanya tempat berkumpul, tidak ada tempat berdiskusi yang aman, gratis dan terbuka. “Kita sudah banyak berulang kali melakukan kegiatan-kegiatan protes terkait dengan lingkungan tetapi sejauh ini tidak ada perubahan, yang ada kondisinya semakin parah, jadi kita memilih untuk melakukan piknik didepan kantor pemerintah itu sendiri,’’ jelasnya.

Ruang terbuka hijau semakin sempit di Kota Bandar Lampung, menurut Undang-Undang (UU) No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, mewajibkan minimal 30% di setiap kota, namun saat ini Kota Bandar Lampung hanya tersisa 4,5%.

Mustakim memaparkan sejumlah persoalan ekologis yang terjadi, di antaranya peristiwa banjir, pengelolaan limbah yang kacau, dan aktivitas pertambangan tak berizin. “Kami menilai tidak adanya keseriusan sendiri dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungan yang ada di Kota Bandar Lampung, kemudian banyaknya kasus banjir yang sudah terjadi belakangan ini, kurangnya tata kelola sampah yang belum teratasi sampai detik ini, dan juga perusahan ekstraksi seperti tambang ilegal yang masih terus berjalan,’’paparnya. 

Tera, salah satu anggota UKMBS Unila mengungkapkan terkait pentingnya ketersediaan fasilitas publik yang representatif bagi para pelaku seni dan budaya di daerah tersebut. “Sebagai orang yang bergiat di kebudayaan jujur merasa butuh ruang terbuka hijau, karena gua suka bingung kalau misalkan mau cari inspirasi dimana,” ungkapnya.  

Trimelian, Staf PKBI mengatakan kekhawatirannya terkait dengan kondisi di Kota Bandar Lampung. “Kita melihat fakta lapangan bahwa lingkungan hidup kita hari ini sudah tidak baik-baik saja, kita juga mempunyai tanggung jawab dan kesadaran yang sama,” katanya.

Mustakim berharap bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi, tetapi juga mampu mendorong perubahan cara pandang para pemangku kebijakan terhadap isu lingkungan. “Kegiatan atau gerakan ini bisa mengubah pola pikir pemangku kebijakan, terutama pemerintah tekait dengan isu lingkungan. Memperbaiki lingkungan, kemudian memberikan fasilitas penunjang publik kepada masyarakat secara aman, gratis, dan iklusif,” tutupnya. (*)

Reporter : Adzra Rizka Andini Dwi Putri, Jhon Hanan Sipakkar 

Penyunting : Dina

Polinela Hospitality Career, Ubah Mindset Kerja Gen Z

 

(08/06/2026) Belajar langsung dari praktisi untuk menyambut dunia kerja hospitality |Perssukma.blogspot.com/Akbar Bethara Imani

Senin, 08 Juni 2026, Program Studi (Prodi) Pengelolaan Perhotelan, Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Polinela Hospitality Career 2026 di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela, mengusung tema “Lulus Langsung Kerja: Strategi Membangun Karir dan Personal Branding untuk Gen Z di Industri Pariwisata dan Hospitality” yang dipillih karena relevan dengan tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini.

Kegiatan ini menghadirkan M. Agusman Ajijaya, Lerarning & Development Supervisor (SPV) & Responsible Business Coordinator Southeast Asia, and the Pacific (SEAP), Radison Lampung Kedaton dan Sutsina, General Manager (GM) Hotel Emersia Bandar Lampung untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta strategi dalam menghadapi dunia kerja.

Ilham Dwi Wiranto, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menjelaskan bahwa kegiatan ini penting karena membuka wawasan peserta agar dapat melangkah lebih jauh dalam mengenali industri pariwisata dan hospitality. “Menurut saya itu sangat penting, karena dapat membuat mindset melangkah lebih jauh lagi dan bisa lebih mengenal terkait industri diluar sana, baik di pariwisata maupun di hospitality,” jelasnya.

M. Agusman menyampaikan tentang personal branding dan memaparkan dua elemen kunci, “Kalo mau bikin personal branding, harus mempersiapkan antara kontribusi dan komunikasi,” sampainya.

Sutisna mengungkapkan melalui perjalanan karirnya bahwa di industri hospitality tidak ada yang namanya jalur instan. “Tidak mungkin setelah lulus dari perhotelan langsung menjadi supervisor, impossible, perlu pengalaman, perlu waktu dan latihan attitude. Bukan cuma mengandalkan knowledge dan skill saja,” ungkapnya.

Sevina, Peserta mengaku tertarik hadir karena tema yang diangkat berkaitan langsung dengan persiapan karir. “Temanya membahas soal karir, jadi saya tertarik untuk datang. Ia mengaku mendapat kesan tersendiri dari materi yang disampaikan, khususnya soal strategi mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Kita jadi tahu kalau mau kerja enak itu ada strateginya. Kegiatan ini sangat membantu saya memahami peluang kerja di bidang hospitality,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ilham berharap agar kegiatan ini memberikan dampak positif yang nyata bagi peserta. Karena tema tersebut disiapkan untuk memberi pembekalan nyata bagi generasi muda.  “Harapannya peserta bisa mengambil pesan positif dari kegiatan ini, karena dari tema yang sudah diambil, yaitu memberikan bekal bagi mahasiswa dan generasi muda untuk kesiapan kerja, sehingga setelah lulus mereka bisa langsung terjun ke industri,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Resa Nurvia, Akbar Bethara Imani

Penyuting: Bila

 

Kompetisi Nasional PKSE Diumumkan pada Start-Up Summit 2026

 

(07/06/2026) Peserta mendengarkan sesi pemaparan materi dalam kegiatan Start-Up Summit 2026 yang diselenggarakan di GSG Polinela|Perssukma.blogspot.com/ Dian Savitri 

Paguyuban Karya Salemba Empat (PKSE) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menggelar Start-Up Summit 2026 pada Sabtu, 7 Juni 2026, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Kegiatan ini mengusung tema “Digital Synergy: Accelerating Sustainable Innovation for Lampung’s Future Economy” yang ditujukan khusus bagi mahasiswa Polinela serta para Calon Penerima Beasiswa (Cabeswan) PKSE untuk mengembangkan ide usaha kreatif berbasis digital di era transformasi digital.

Hendra Agus Sarieko, Ketua Umum (Ketum) PKSE Polinela menjelaskan bahwa esensi dari tema tahun ini adalah menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengeksplorasi ide-ide startup yang sempat tertunda karena kendala teknis. “Kegiatan ini berfungsi menggerakkan startup yang dibangun oleh kalangan mahasiswa. Melalui acara ini, mahasiswa yang sebelumnya telah memiliki ide namun belum menemukan solusi atas masalahnya, dapat mengembangkan ide usaha tersebut,” jelasnya.

Acara ini menghadirkan Rio Patria Sanjaya, Pemilik Usaha Mr. Geprek, sebagai pemateri utama yang menyampaikan materi Business Model Canvas (BMC) serta pengalaman praktis dalam merintis usaha. Selain sesi seminar, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan workshop interaktif. Dalam sesi tersebut, setiap kelompok peserta diminta untuk memetakan masalah, menentukan solusi, dan menyusun kerangka startup menggunakan media karton.

Riansa Fitri, Peserta mengungkapkan bahwa tema kewirausahaan yang diangkat memberikan pemahaman baru mengenai platform digital. “Saya tertarik karena temanya tentang entrepreneurship. Materi pemasarannya, seperti strategi berjualan di GoFood dan ShopeeFood, memberikan informasi yang sebelumnya belum saya pahami. Melalui praktik pembuatan BMC, saya mendapat gambaran untuk menyusun struktur usaha yang sedang saya rintis,” ungkapnya.

Selain seminar, Lampung Start-Up Summit 2026 juga menjadi agenda pengumuman pemenang Essay and Poster Competition 2026 tingkat nasional yang sebelumnya diadakan. Kompetisi tersebut diikuti oleh 56 peserta untuk kategori poster dan 68 peserta untuk kategori esai, yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Lampung, Sumatera Selatan, hingga Pulau Jawa.

Agung Adi Candra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela menyampaikan catatan mengenai ketentuan media publikasi digital serta tujuan utama dari perlombaan bagi mahasiswa. “Di era digital, flyer atau poster harus eye-catching dan memuat sesuatu yang akan dijual, namun publikasi harus memuat edukasi terlebih dahulu baru penjual. Melalui lomba, mahasiswa dilatih menuangkan hasil brainstorm pikiran mereka dalam bentuk tulisan yang dinilai langsung oleh juri kompeten di bidangnya,” sampainya. 

Agung berharap agar ke depan kompetisi ini dapat terus ditingkatkan skalanya agar memberikan dampak konektivitas yang lebih luas bagi institusi. “Saya berharap suatu saat nanti event ini dapat berkembang menjadi kompetisi berskala nasional bahkan internasional. Bukan soal siapa yang menjadi juara, tetapi melalui konektivitas tersebut kita dapat melihat sejauh mana kualitas Mahasiswa Polinela. Kalau kita cukup bagus berarti kita akan lebih semangat, kalau kita kurang berarti harus minimal sama dengan itu,” tutupnya. (*)


Reporter:Rahma Yuliyanti,Dian Savitri

Penyunting :Akbar




KMHIPO Jaga Kelestarian Budaya Hindu Melalui Kompetisi

 

(06/06/2026) Kompetisi KMHIPO menjadi wadah pelestarian budaya Hindu bagi generasi muda |Pressukma.blogspot.com/Dok. UKM Pers SUKMA

Sabtu, 06 Juni 2026, Keluarga Mahasiswa Hindu Politeknik Negeri Lampung (KMHIPO) menggelar Dharma Wiksa Bhakti di Gedung Serba Guna (GSG) Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Ajang ini memperlombakan tiga cabang utama, yaitu Tari Cendrawasih, Tapel Ogoh-Ogoh, dan Sketsa Ogoh-Ogoh dengan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga umum.

Acara ini dibuka oleh Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela, dan jajaran pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Lampung, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Lampung, Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI), I Gede Darma Putra, Pembina KMHIPO, Made Yuda Saputra, Ketua Umum (Ketum) KMHIPO, I Gusti Ketut Riko Paradipa, Ketua Pelaksana (Ketuplak).

Kompetisi ini mengusung tema “Waring Ing Budaya, Telenging Yuga” bermakna sebagai upaya memadukan bahasa tradisional masa lalu dengan era modern, agar eksistensi budaya Hindu tetap lestari, tidak tergerus oleh perkembangan zaman, serta menjadi wadah untuk membangun keberanian dan mental tampil generasi muda.

Made Yuda menjelaskan bahwa pemilihan cabang perlombaan didasarkan pada hasil riset potensi dan minat di kalangan pelajar, serta dikemas secara santai agar peserta dapat tampil percaya diri. “Kami memilih lomba ini tidak hanya asal-asalan, tetapi kita riset sendiri ke kalangan pelajar untuk melihat potensi lomba apa yang bakal diminati. Seperti tari cendrawasih yang banyak ditekuni, serta tapel ogoh-ogoh yang peminatnya banyak tapi sangat sedikit diselenggarakan oleh pihak lain,” jelasnya.

Mengenai teknis pelaksanaan, kategori perlombaan Tari Cendrawasih dan Tapel Ogoh-Ogoh diikuti oleh 23 peserta dan digelar secara langsung untuk lingkup Provinsi Lampung guna efisiensi akomodasi fisik. Sementara itu, kategori Sketsa Ogoh-Ogoh dibuka secara Dalam Jaringan (Daring) berskala nasional untuk memfasilitasi para konten kreator dari luar pulau, termasuk peserta dari Bali.

Ni Putu Septa Ayu Anggraini, Peserta dari Sanggar Taksu Saraswati mengungkapkan bahwa motivasi utamanya mengikuti ajang ini adalah demi menjaga eksistensi seni tari tradisional Hindu-Bali agar tetap bertahan di tengah perkembangan tren modern. “Motivasi terbesar saya adalah untuk menjaga kelestarian seni tradisional agar tidak punah di tengah tren modern seperti dance. Apalagi masyarakat suku Bali termasuk salah satu mayoritas di Provinsi Lampung ini,” ungkapnya.

I Gede mengatakan bahwa kegiatan ini penting sebagai wujud komitmen mahasiswa dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya Nusantara dan Hindu di tengah arus modernisasi. Selain sebagai wadah berkumpul internal mahasiswa Hindu untuk mendiskusikan masalah keumatan, keterlibatan masyarakat umum dalam acara ini juga berfungsi sebagai sarana promosi untuk mengenalkan institusi Polinela kepada publik luas. “Di tengah perubahan zaman yang luar biasa ini, mahasiswa harus berkomitmen tetap menjaga nilai-nilai luhur budaya Nusantara yang sudah diletakkan oleh pendahulu kita. Kegiatan ini untuk mempertahankan budaya, khususnya di bidang agama Hindu, sekaligus mendukung Polinela dalam mengenalkan kampus ke dunia luas melalui kehadiran masyarakat umum,” katanya.

Made Yuda berharap penyelenggaraan kompetisi ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi rasa percaya diri generasi muda dalam melestarikan kebudayaan daerah. “Harapan saya untuk para peserta agar berani untuk mencoba dan berani untuk tampil, jangan takut untuk kegagalan. Harapan kami juga agar budaya Hindu yang ada di Lampung ini agar tetap terus dilestarikan dan tidak tergerus dengan kemajuan zaman,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Heidy Putri Shafira, Missel Keisya

Penyuting: Bila


Seminar Ecofish Marine, Tingkatkan Kesadaran Sumber Daya Laut

 



(06/06/2026) Blue Revolution untuk masa depan maritim berkelanjutan |Perssukma.blogspot.com/ Yudistira Falahulhelmi


Sabtu, 6 Juni 2026, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan dan Kelautan (PK) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menyelenggarakan seminar Ecofish Marine bertema “Blue Revolution”, dengan menghadirkan Juli Nursandi sebagai pemateri. Seminar ini membahas transformasi sektor perikanan dan kelautan melalui konsep ecofish sebagai upaya mewujudkan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan serta mendukung Indonesia sebagai pusat maritim dunia.

Alvin Agustian, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menjelaskan bahwa tema yang diangkat dilatarbelakangi oleh meningkatnya kerusakan ekosistem laut dan perikanan. ”Tema Ecofish Marine Blue Revolution dipilih karena ekosistem laut dan perikanan saat ini semakin rusak. Melalui tema ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya menjaga ekosistem alam dari pencemaran limbah serta bagaimana memanfaatkan teknologi secara bijak untuk pelestarian tersebut,” jelasnya.

Muhammad Ansor, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Budidaya Perikanan, mengungkapkan ketertarikannya mengikuti seminar karena tema Blue Revolution dinilai relevan dengan perkembangan sektor perikanan saat ini. ”Saya tertarik mengikuti seminar ini karena konsep Ecofish berfokus pada pembangunan sektor perikanan yang lebih maju melalui penerapan budidaya berkelanjutan yang tetap menjaga kelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga kelestarian laut melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini. Melalui konsep Blue Revolution, kegiatan ini diarahkan sebagai langkah transformasi sektor perikanan dari sistem tradisional menuju tata kelola modern yang inovatif, baik pada sektor perikanan tangkap maupun budidaya.

Juli mengatakan bahwa sinergi transformasi perikanan tangkap dan budidaya merupakan fondasi pembangunan maritim berkelanjutan. Transformasi perikanan tangkap berperan menjaga warisan alam, sementara transformasi perikanan budidaya menciptakan pangan masa depan. Konsep Ecofish Marine Blue Revolution menjadi kunci Indonesia untuk menjadi pusat maritim dunia,” katanya.

Khoerul Fatoni, Pembina PK Polinela berharap seminar ini menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk melestarikan lingkungan dan berpartisipasi langsung dalam memajukan sektor perikanan. “Harapannya, mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melahirkan inovasi efisien, serta menjadi pelaku perikanan modern dan wirausahawan yang mampu mengembangkan bisnisnya hingga tingkat nasional maupun internasional,” tutupnya. (*)

 

ReporterYudishtira Falahulhelmi, Dina septiyani

Penyunting: Bila

XCode Training Bekali Mahasiswa Pemahaman AI Agent

 


(05/06/2026) Webinar X-Code Training yang membahas pemanfaatan AI dalam dunia teknologi |Perssukma.blogspot.com/ Eka Nursani

Jumat, 5 Juni 2026, XCode Training menggelar webinar yang membahas perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya mengenai AI Agent. Kegiatan yang dilaksanakan secara Dalam Jaringan (Daring) ini diikuti oleh mahasiswa dan peserta umum, dengan membahas konsep, cara kerja, dan penerapan AI Agent dalam industri teknologi.

Menghadirkan David Setiawan sebagai pemateri dan dipandu oleh Kresna Abrori, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Informatika (MI) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) sebagai moderator. Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan cara kerja AI Agent, serta implementasi dalam berbagai kebutuhan industri teknologi saat ini.

Dalam pemaparannya, David menjelaskan bahwa AI Agent memiliki kemampuan yang lebih kompleks dibandingkan chatbot biasa. AI Agent tidak hanya mampu menjawab pertanyaan pengguna, tetapi juga dapat mengeksekusi multi-step task, berinteraksi dengan tools dan Application Programming Interface (API) eksternal, menyimpan dan mengambil konteks dari memori, serta berkolaborasi dengan sistem multi-agent. “Jadi ketika kita memberikan suatu case ataupun memori terhadap AI, sistem tersebut dapat menyimpan dan mengambil kembali konteks yang sudah diberikan pengguna. Selain itu, AI Agent juga dapat berkolaborasi dengan sistem multi-agent,” jelasnya.

David memperkenalkan arsitektur LangCore sebagai salah satu komponen penting dalam pengembangan AI Agent, karena memungkinkan sistem untuk mendengarkan instruksi pengguna, bertindak berdasarkan perintah yang diberikan, serta mengamati hasil yang diperoleh sebelum memberikan respons lanjutan.

Kresna mengatakan bahwa webinar yang diselenggarakan oleh XCode Training memberikan dampak positif, terutama bagi mahasiswa di bidang TI. Menurutnya, materi yang disampaikan dalam webinar maupun program pelatihan lainnya sering kali membahas topik yang belum dipelajari secara mendalam di lingkungan perkuliahan. “Kegiatan webinar yang diadakan oleh XCode Training pastinya memiliki dampak yang baik terutama bagi mahasiswa di bidang TI, karena webinar ini layaknya sebuah kelas di dunia TI yang belum tentu diajarkan oleh perguruan tinggi. Maka dari itu webinar seperti ini sangat penting, baik untuk kalangan umum maupun mahasiswa yang bergerak di bidang TI karena dapat menambah wawasan yang lebih mendalam di bidang ilmunya,” katanya.

Atha Thalita, Peserta dari Prodi MI, mengungkapkan bahwa ia mengikuti webinar tersebut untuk meningkatkan kemampuan di bidang pemrograman yang dinilainya relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. “Kalau aku pribadi ikut karena ingin menambah skill di bidang TI karena sangat relevan dengan dunia kerja sekarang. Apalagi di era globalisasi saat ini teknologi terus berkembang, jadi sayang banget kalau kita tidak memanfaatkan kesempatan belajar seperti webinar ini,” ungkapnya.

Atha juga berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan dengan topik yang semakin beragam dan mengikuti perkembangan teknologi terkini. “Semoga webinar seperti ini makin sering diadakan, terus topiknya semakin beragam dan mengikuti perkembangan zaman. Durasi sesi tanya jawabnya juga bisa lebih diperpanjang supaya kita lebih bisa mengeksplor materi yang disampaikan,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Eka Nursani,  Ilham Miftahul Huda

Penyuting: Dian