Paguyuban Karya Salemba Empat (PKSE) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menggelar Start-Up Summit 2026 pada Sabtu, 7 Juni 2026, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Kegiatan ini mengusung tema “Digital Synergy: Accelerating Sustainable Innovation for Lampung’s Future Economy” yang ditujukan khusus bagi mahasiswa Polinela serta para Calon Penerima Beasiswa (Cabeswan) PKSE untuk mengembangkan ide usaha kreatif berbasis digital di era transformasi digital.
Hendra Agus Sarieko, Ketua Umum (Ketum) PKSE Polinela menjelaskan bahwa esensi dari tema tahun ini adalah menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengeksplorasi ide-ide startup yang sempat tertunda karena kendala teknis. “Kegiatan ini berfungsi menggerakkan startup yang dibangun oleh kalangan mahasiswa. Melalui acara ini, mahasiswa yang sebelumnya telah memiliki ide namun belum menemukan solusi atas masalahnya, dapat mengembangkan ide usaha tersebut,” jelasnya.
Acara ini menghadirkan Rio Patria Sanjaya, Pemilik Usaha Mr. Geprek, sebagai pemateri utama yang menyampaikan materi Business Model Canvas (BMC) serta pengalaman praktis dalam merintis usaha. Selain sesi seminar, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan workshop interaktif. Dalam sesi tersebut, setiap kelompok peserta diminta untuk memetakan masalah, menentukan solusi, dan menyusun kerangka startup menggunakan media karton.
Riansa Fitri, Peserta mengungkapkan bahwa tema kewirausahaan yang diangkat memberikan pemahaman baru mengenai platform digital. “Saya tertarik karena temanya tentang entrepreneurship. Materi pemasarannya, seperti strategi berjualan di GoFood dan ShopeeFood, memberikan informasi yang sebelumnya belum saya pahami. Melalui praktik pembuatan BMC, saya mendapat gambaran untuk menyusun struktur usaha yang sedang saya rintis,” ungkapnya.
Selain seminar, Lampung Start-Up Summit 2026 juga menjadi agenda pengumuman pemenang Essay and Poster Competition 2026 tingkat nasional yang sebelumnya diadakan. Kompetisi tersebut diikuti oleh 56 peserta untuk kategori poster dan 68 peserta untuk kategori esai, yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Lampung, Sumatera Selatan, hingga Pulau Jawa.
Agung Adi Candra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela menyampaikan catatan mengenai ketentuan media publikasi digital serta tujuan utama dari perlombaan bagi mahasiswa. “Di era digital, flyer atau poster harus eye-catching dan memuat sesuatu yang akan dijual, namun publikasi harus memuat edukasi terlebih dahulu baru penjual. Melalui lomba, mahasiswa dilatih menuangkan hasil brainstorm pikiran mereka dalam bentuk tulisan yang dinilai langsung oleh juri kompeten di bidangnya,” sampainya.
Agung berharap agar ke depan kompetisi ini dapat terus ditingkatkan skalanya agar memberikan dampak konektivitas yang lebih luas bagi institusi. “Saya berharap suatu saat nanti event ini dapat berkembang menjadi kompetisi berskala nasional bahkan internasional. Bukan soal siapa yang menjadi juara, tetapi melalui konektivitas tersebut kita dapat melihat sejauh mana kualitas Mahasiswa Polinela. Kalau kita cukup bagus berarti kita akan lebih semangat, kalau kita kurang berarti harus minimal sama dengan itu,” tutupnya. (*)
Reporter:Rahma Yuliyanti,Dian Savitri
Penyunting :Akbar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar