Beranda

Sosialisasi PPKPT, Polinela Wujudkan Kampus Aman dan Inklusif

Pernyataan sikap menolak kekerasan di lingkungan kampus |Perssukma.id/Nayla putri syafira

Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengadakan Sosialisasi PPKPT di Ruang Sidang Utama Eks Perpustakaan pada Rabu, 29 April 2026, yang bertujuan meningkatkan kesadaran serta menciptakan suasana akademik yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan di tengah sorotan publik terhadap kasus pelecehan seksual  yang membawa beberapa nama kampus ternama di Indonesia.

Sosialisasi tersebut dibuka oleh Agung Adi Candra, Wakil Direktur (Wadir) III Bidang Kemahasiswaan Polinela, dan Marlinda Apriyani sebagai Ketua Satgas PPKPT Polinela sekaligus Pemateri, serta mengundang seluruh perwakilan dari masing-masing Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Polinela.

Agung menjelaskan bahwa Satgas PPKPT tidak menghukum tetapi mengedepankan aspek edukasi sebagai langkah utama dalam pencegahan kekerasan. Edukasi tersebut tidak dapat berjalan satu arah, oleh karena itu Ormawa menjadi titik awal dalam menyebarkan pemahaman tersebut. “Yang dilakukan oleh Satgas PPKPT bukan menghukum tetapi mengedukasi. Edukasi tidak bisa dari satu arah makanya kita awali dengan Ormawa,” jelasnya.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) No. 55 Tahun 2024 tentang PPKPT, terdapat 6 bentuk kekerasan yang diatur, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung kekerasan.

Marlinda mengatakan bahwa Satgas PPKPT memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif bagi seluruh sivitas akademika. “Satgas PPKPT diamanahi untuk mewujudkan perguruan tinggi yang aman dan inklusif, artinya tidak membeda-bedakan ras, agama, disabilitas, jenis kelamin, serta terbebas dari kekerasan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa korban kekerasan tidak perlu merasa takut untuk melapor. Setiap laporan yang masuk akan ditangani serta diberikan pendampingan secara menyeluruh selama proses penanganan berlangsung. Selain itu, kerahasiaan identitas juga menjadi prioritas utama untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pelapor. “Kerahasiaan korban itu akan dijaga betul, karena korban harus dijaga supaya korban bisa terus kuliah sampai lulus,” tegasnya.

Putra Maulana Akbar, perwakilan dari Permata Shalawat berharap bahwa kegiatan sosialisasi serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada penyampaian materi semata. “Untuk sosialisasi ini bisa dilaksanakan lagi di lain waktu dan bisa diterapkan, karena percuma kalau cuma sosialisasi tapi realita di lapangan tidak ada,” harapanya.

Kampus tidak seharusnya menjadi ruang bagi pelaku kekerasan dalam bentuk apa pun. Sebaliknya, perguruan tinggi merupakan tempat bagi mahasiswa untuk belajar, mengasah kemampuan diri sebagai bekal menghadapi masa depan agar melahirkan generasi untuk memimpin negeri. (*)

 

Reporter:

Nayla Putri Syafira 

Novan Alhafis

Penyunting : Bila


 

Mini Bazaar Prodi PW Polinela, Kolaborasi Mata Kuliah

Mahasiswa beraksi di stan makanan dengan semangat kebersamaan.
 | Perssukma.id/Tika Sri Wahyuni

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Perjalanan Wisata (PW) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengadakan program Mini Bazaar pada Rabu, 29 April 2026, di Area Teaching Factory (Tefa) Agroedutourism Polinela. Kegiatan ini menjadi ajang pembuktian integrasi kurikulum vokasi dalam implementasikan Project Based Learning (PBL) yang mengkolaborasikan tiga Mata Kuliah (MK) yaitu, Studi Kelayakan Bisnis, Pemasaran Pariwisata dan Kewirausahaan Pariwisata. 

Meyliana Astriyantika, Koordinator Program Studi (Kaprodi) PW sekaligus Dosen Pengampu MK Studi Kelayakan Bisnis menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori di kelas, tetapi juga mampu menghadapi realita pasar. “Kita di vokasi tidak bisa hanya memberikan materi saja. Melalui kegiatan ini, mahasiswa menguji kesiapan mereka mulai dari tahap perencanaan, promosi, hingga teknik pelayanan konsumen,” jelasnya.

Produk yang dipasarkan dalam bazar ini, mulai dari kuliner hingga aksesoris yang telah melalui proses Quality Control (QC) dengan ketat oleh dosen dan teknisi. Mahasiswa diwajibkan melakukan presentasi sampel dan revisi berkali-kali terkait rasa, kemasan, hingga kecocokan harga agar tetap terjangkau di kantong mahasiswa.

Soffa Al Marwah, Mahasiswa Prodi PW yang berjualan mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam kegiatan ini adalah mengasah kerja sama tim dan manajemen diri di tengah persiapan teknis serta manajemen waktu yang padat. “Pelajaran paling berharga adalah bagaimana caranya kita dapat bekerja sama dengan tim karena ini adalah kelompok, jadi tidak boleh egois dan harus saling mengerti. Tantangan yang paling terasa adalah saat menyiapkan bahan-bahan karena prosesnya benar-benar padat,” ungkapnya.    

I Komang Ari Wijaya Saputra, Mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) sekaligus pengunjung mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengemas produk yang dijual. Ia menilai bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar bazar biasa, tetapi juga memiliki peluang pengembangan industri pariwisata lokal. “Produknya menarik dan kreatif, terutama makanan tradisional seperti risoles dan pisang coklat yang ditampilkan dengan inovasi baru. Kegiatan ini punya potensi bisnis besar, apalagi jika dipromosikan melalui foto atau video di Media Sosial (Medsos) agar lebih luas jangkauannya,” nilainya. 

Meyliana berharap acara ini menjadi strategi soft marketing melalui ribuan mahasiswa untuk memperluas publikasi kampus dan mendapat dukungan penuh dari pihak institusi, terutama dalam hal sistem pengelolaan, keamanan, dan kebersihan agar lokasi bazar menjadi pusat keramaian yang nyaman bagi pengunjung luar. “Harapan kami, acara ini menjadi strategi soft marketing melalui partisipasi mahasiswa dalam membagikan momen kegiatan ini sehingga orang tahu dan tertarik untuk datang ke Polinela,” tutupnya. (*) 

Reporter: Heidy Putri Shafira, Akbar Bethara Imani

Penyuting: Bila

 

Krisis Energi Global Picu Kebijakan WFH

 


Polinela berlakukan WFH Jum’at untuk kurangi mobilitas dan hemat energi |Perssukama/Resa Nurvia


Di tengah ketegangan konflik antara Iran-Amerika yang menyebabkan lonjakan harga minyak global dan krisis energi, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik berskala internasional, maka Politeknik Negeri Lampung (Polinela) resmi memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) dan apel pagi Dalam Jaringan (Daring) setiap hari Jumat bagi seluruh sivitas akademika untuk menekan penggunaan mobilitas.

Agung Adi Candra, Wakil Direktur (Wadir) III Bidang Kemahasiswaan menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons adaptif kampus terhadap kondisi global yang memicu perlunya efisiensi energi. “Dasar kebijakannya berawal dari kondisi global di Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat dan Iran, yang akhirnya berpengaruh pada kebijakan di Indonesia. Salah satunya adalah program penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM),” jelasnya. 

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) No 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja di Lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi dan Penyesuaian Penyelenggaraan Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi.

Didik Kuswadi, Wadir I Bidang Akademik mengungkapkan bahwa aturan WFH sebenarnya tidak hanya di hari Jumat saja. Jika tidak ada jadwal di kampus pada hari lain, dosen dan karyawan tetap bisa bekerja dari rumah. “Prinsipnya konsentrasi pengaturan ini ada di hari Jumat, tetapi bisa kita perluas. Jika dosen atau karyawan tidak memiliki jadwal mengajar atau praktik di hari Senin sampai Kamis, mereka diperbolehkan bekerja dari rumah untuk mengurangi pergerakan di kampus,” ungkapnya.

Salah satu dampak langsung dari kebijakan WFH ini adalah perubahan skema Apel Pagi Jumat yang semula luring menjadi daring. Agung menegaskan bahwa penyesuaian ini diambil demi mencapai tujuan utama dalam mengurangi mobilitas mahasiswa dan pegawai. “Dengan adanya WFH di hari Jumat, maka secara otomatis tidak mungkin kita mengharuskan berangkat hanya untuk apel. Itu bertentangan dengan tujuannya mengurangi mobilitas,” tegasnya.

Meskipun beralih ke ruang virtual, standar kedisiplinan tetap dijaga ketat. Mahasiswa diwajibkan masuk ke ruang pertemuan sejak pukul 06.30 Waktu Indonesia Barat (WIB) untuk proses presensi menggunakan teknologi attendance tracker yang mampu memantau waktu kehadiran hingga hitungan menit. Peserta juga tetap diwajibkan mengenakan seragam lengkap dan menyalakan kamera sebagai bentuk profesionalisme akademik.

Yusuf Al Fikri Jayasena, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Informatika (MI) menanggapi bahwa meskipun teori bisa dilakukan dari mana saja, namun apel dan praktikum punya standar tersendiri yang sulit digantikan secara daring. “Apel daring dinilai kurang efektif untuk melatih kedisiplinan karena besarnya celah ketidaksiapan peserta, mulai dari penampilan yang tidak rapi hingga alasan kendala jaringan yang sulit diverifikasi. Sementara WFH masih relevan untuk materi teori, kegiatan praktikum harus tetap dilakukan secara luring agar lebih maksimal,” tanggapannya

Didik menambahkan bahwa kampus telah membagi skema belajar berdasarkan kebutuhan kompetensi tiap angkatan untuk memastikan target akademik tetap tercapai. “Kami tetap menjaga kualitas vokasi. Untuk mahasiswa semester awal (1-4), pembelajaran tetap diutamakan luring karena mereka butuh pembimbingan intensif. Sedangkan semester 5 ke atas atau tingkat akhir, kita arahkan ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan bimbingan daring karena kompetensi dasarnya sudah kuat,” tambahnya.

Sebagai penutup, Didik berharap agar kebijakan ini tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan dapat dipahami oleh seluruh sivitas akademika sebagai langkah nyata dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Ia menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga efisiensi tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. “Harapan kami, meskipun ada fleksibilitas melalui WFH ini, semua pihak tetap memiliki komitmen tinggi terhadap tanggung jawab masing-masing. Semoga kondisi global segera stabil sehingga kita bisa kembali mengoptimalkan seluruh sumber daya kampus dalam keadaan normal,” tutupnya. (*)

 

Reporter:

Heidy Putri Shafira

Juan Aditio Kurniawan

Istighosah, Perkuat Makna Dies Natalis Ke-42

Istighosah Dies Natalis Polinela, penuh doa untuk keberkahan dan kemajuan bersama |Perssukama/ Fitria Apriani

Jumat, 17 April 2026, telah dilaksanakan kegiatan istighosah di Masjib Al-Bana Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Kegiatan ini diikuti seluruh sivitas akademika. Doa bersama yang diisi zikir dan permohonan kepada Allah SWT, menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari jadi Polinela ke-42, sebagai upaya memohon keberkahan bagi perjalanan kampus ke depan. Dengan menghadirkan KH. Eef Syaifullah sebagai pemimpin doa.

M. Muhayin A. Sidik, koordinator kegiatan keagamaan Dies Natalis Polinela menjelaskan bahwa istighosah memiliki makna sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT melalui doa dan zikir bersama. Acara ini sengaja ditempatkan di akhir rangkaian Dies Natalis sebagai penutup yang sarat makna, agar seluruh rangkaian kegiatan yang telah berlangsung memperoleh keberkahan. “Istighosah merupakan momen berkumpul untuk melantunkan doa dan zikir, memohon kepada Allah SWT atas hajat yang diharapkan, sekaligus menjadi doa penutup agar seluruh rangkaian Dies Natalis mendapatkan keberkahan,” jelasnya.

Selain sebagai ungkapan syukur atas usia Polinela yang telah mencapai 42 tahun yang dinilai sebagai fase kematangan, kegiatan ini juga menjadi momen untuk mendoakan para tokoh yang berjasa bagi kampus. Di antaranya almarhum Beni Hidayat, Wakil Direktur (Wadir) II  salah satu pendiri Polinela, serta para dosen dan tenaga kependidikan yang telah mendahului.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini telah melalui proses perencanaan dan koordinasi antara panitia, pihak Hubungan Masyarakat (Humas), serta organisasi mahasiswa diantaranya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Albana dan Permata Sholawat Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan tertib.

Arif Makhsun, Dosen Program Studi (Prodi) Akuntansi Bisnis Digital (AKBD) mengungkapkan bahwa kegiatan keagamaan ini masih menghadapi tantangan, khususnya dalam menarik minat mahasiswa. “Secara umum kegiatan keagamaan itu penting untuk membangun mental rohani, tapi memang tantangannya bagaimana membuatnya lebih menarik dan sesuai dengan generasi sekarang,” ungkapnya.

Adinda Anggreani, Mahasiswa Prodi Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura (TPTH) menilai acara ini tidak hanya sebagai bentuk kegiatan keagamaan, istighosah ini dinilai mampu memberikan ketenangan batin dan menjadi ruang refleksi diri. “Istighosah ini bukan cuma sekadar kegiatan, tapi menjadi momen refleksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi dalam rangka Dies Natalis ke-42 Polinela, menjadi pengingat bahwa perjalanan Polinela sampai sekarang tidak lepas dari doa dan keberkahan,” ungkapnya.

Adinda berharap perkembangan Polinela ke depan setelah kegiatan istighosah dapat membangun lingkungan yang berkarakter dan religius. “Harapan saya semoga Polinela semakin maju, tidak hanya dalam hal prestasi akademik, tapi juga dalam membangun lingkungannya yang berkarakter dan religius,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Fitria Apriani, Ajeng Restu Prahamita

Penyuting: Dina

  

Sport Competition, Seleksi Menuju Porseni Medan

Seleksi Porseni Medan berlangsung penuh semangat | Doc.UKM Pers SUKMA


Penyelenggaraan Dies Sport Competition 2026 dalam rangka Dies Natalis ke-42 Politeknik Negeri Lampung (Polinela) digelar pada tanggal, 13 sampai 17 April 2026 oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKMO). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan sportivitas, kebersamaan, dan prestasi di lingkungan kampus, sekaligus seleksi akhir atlet yang akan mewakili Polinela pada Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Politeknik se-Indonesia di Medan pada Juni hingga Agustus mendatang. 

Soleh Ade Kusuma, Pembina UKMO Polinela mengungkapkan bahwa pelaksanaan tahun ini memiliki nilai lebih karena setiap pertandingan menjadi ajang pembuktian dari rangkaian seleksi teknik dan fisik yang telah berlangsung sejak awal tahun. “Dies Sport tahun ini sekaligus menjadi bagian dari seleksi menuju Porseni. Atlet yang bertanding telah melewati seleksi tahap pertama dan kedua. Peraih juara di tingkat kampus masih harus mengikuti tes lanjutan untuk memastikan kesiapan fisik sebelum berlaga di tingkat nasional,” ungkapnya.

Habib Ishaq Annazar, Ketua Umum (Ketum) UKMO Polinela menjelaskan perbedaan Dies Sport tahun ini dengan tahun sebelumnya, yaitu terletak pada cabang lomba. “Tahun lalu kami hanya mengadakan tiga cabang olahraga, sementara tahun ini, kami menambah beberapa cabang, yakni futsal, badminton, tenis meja, catur, serta bela diri,” jelasnya.

Keseruan kompetisi terlihat di berbagai cabang, terutama bulu tangkis yang menjadi salah satu daya tarik utama. M Ridho, pemenang cabang perlombaan badminton ganda putra dari Prodi Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) mengungkapkan bahwa perjuangannya tidak mudah, terutama saat menghadapi perwakilan Jurusan Teknologi Informasi (JTI) di babak delapan besar. “Perasaan saya setelah meraih juara satu tentu sangat senang, apalagi bisa mewakili jurusan dan memberikan hasil terbaik. Di babak delapan besar saya cukup kesulitan karena lawannya sangat kuat, tetapi kunci utamanya adalah konsisten, banyak latihan, dan siap lelah,” ungkapnya.

M Gilang Ramandata, panitia kegiatan menyampaikan tantangan dalam mengelola acara berskala besar adalah mengkoordinasi waktu karena perbedaan jadwal tiap prodi. “Yang paling sulit adalah koordinasi dan pengaturan waktu, karena setiap prodi memiliki jadwal yang berbeda. Untuk mengatasinya, peserta yang tidak dapat hadir diwajibkan izin atau konfirmasi, atau menggunakan surat dispensasi agar kegiatan tetap berjalan lancar,” sampainya.

Soleh Ade berharap Dies Sport tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga terus berkembang sebagai wadah pembinaan atlet dan penguatan prestasi non-akademik mahasiswa. “Saya berharap Dies Sport ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah pembinaan atlet dan penguatan prestasi non-akademik mahasiswa. Ke depan, dukungan fasilitas olahraga akan terus ditingkatkan agar mahasiswa Polinela mampu bersaing dan mengharumkan nama kampus di tingkat nasional,” tutupnya. (*)


Reporter: Shofa Desmalia Putri, Nazwa Alica Qhoirul Rohim

Penyunting: Dian


Gantikan Jalan Pintas Mahasiswa, Polinela Kaji Akses Aman dan Terkontrol

 

Akses terkontrol tingkatkan keselamatan mahasiswa|Perssukma/ Doc : UKM Pers SUKMA 


Pihak kampus Politeknik Negeri Lampung (Polinela) tengah mengkaji rencana pembukaan jalur resmi di area Kesekretariatan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) guna menggantikan jalan pintas ilegal yang kerap digunakan mahasiswa. Langkah ini merupakan bagian dari penataan ulang infrastruktur demi menyediakan akses yang lebih cepat, aman, dan terkontrol bagi mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus.

Rusdianto, Satuan Pengamanan (Satpam) Polinela menjelaskan jalan tersebut merupakan jalur warga yang sudah ada sebelum kampus berdiri. Penutupan jalan saat kampus berdiri menciptakan kesenjangan infrastruktur yang kemudian diisi kembali secara informal oleh mahasiswa. “Sebenarnya sebelum kampus didirikan jalan tersebut sudah ada, jalan itu digunakan warga kampung sebagai akses menuju jalan besar. Setelah kampus didirikan, jalan itu ditutup, tetapi mahasiswa tetap melintasi jalan tersebut untuk mempersingkat jarak karena lebih dekat daripada harus berputar jauh,” jelasnya.

Karin Losa Tania, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Pangan (AGBP) mengatakan alasan praktis di balik penggunaan jalan pintas adalah efisiensi waktu dan tenaga. “Dengan adanya jalan pintas, kami bisa datang ke kampus lebih cepat dan menghemat tenaga, khususnya di tengah jadwal kuliah yang padat,” katanya.

Dwi Puji Hartono, Direktur Polinela menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya merupakan kesalahan mahasiswa maupun desain infrastruktur kampus. Ia menegaskan bahwa kampus sedang berinisiatif membuka jalur resmi yang lebih aman, meskipun dengan pengaturan waktu akses dan titik masuk yang terkontrol. “Sangat wajar mahasiswa mencari jalan pintas. Kami sedang mengkaji jalur langsung dari Gang Senen agar mahasiswa terfasilitasi. Namun tetap dengan titik masuk yang bisa kami kontrol keamanannya,” ungkapnya.

Rencana pembukaan akses legal yang terkontrol ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan sekaligus efisiensi mobilitas mahasiswa di lingkungan kampus. Keberhasilan kebijakan ini bergantung pada kajian teknis, seperti penentuan titik akses, sistem pengawasan, dan pemeliharaan infrastruktur secara berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu mengubah isu jalan pintas tidak resmi menjadi momentum perbaikan tata kelola fasilitas kampus.

Dwi menegaskan agar mahasiswa tidak lagi memanfaatkan jalur berbahaya karena memiliki risiko keselamatan yang tinggi. Mahasiswa diharap untuk menunggu realisasi pembangunan akses resmi. “Harapan saya, mahasiswa jangan lagi menggunakan jalur yang berbahaya seperti gorong-gorong atau sungai karena risikonya sangat tinggi. Kami sedang berupaya mencari solusi yang lebih realistis dengan menentukan titik akses paling aman, sehingga mobilitas mahasiswa terbantu tanpa mengabaikan faktor keamanan dan keselamatan,” tutupnya. (*)

Reporter: Nando Atmajaya, Resti Jannysa Ulandari

Penyunting:
Akbar

Marching-Band Meriahkan Kick-Off: Dies Natalis Ke-42 Polinela

 

Semangat dan warna memenuhi perayaan Dies Natalis ke-42 Polinela | Perssukma / Doc : UKM Pers SUKMA

Senin, 6 April 2026, telah dibuka Dies Kick-Off: Apel Bersama untuk memperingati Dies Natalis Ke-42 Tahun Politeknik Negeri Lampung (Polinela) yang berlangsung di Lapangan Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Acara ini dibuka oleh Dwi Puji Hartono, selaku Direktur Polinela dengan tema ”Mengembangkan Potensi, Menginspirasi Keunggulan, dan Berdampak”.

Acara ini berlangsung dari tanggal 6-19 April 2026. Dengan menghadirkan beberapa kegiatan diantaranya, Dies Content Viral Sosia Media, Dies Vibes: Semarak Umbul-Umbul, Dies Sidang Senat Terbuka, Sport Competition by Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKMO), Dies Talkshow/seminar, Dies Euforia Night, dan ditutup dengan Dies Fresh: Jalan Sehat.

Dwi mengungkapkan bahwa perayaan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas institusi, baik akademik maupun non-akademik. ”Hari ini kita memulai rangkaian kegiatan Dies Natalis yang ke-42 tahun, ini menjadi satu tonggak kita untuk terus meningkatkan kualitas proses kegiatan akademik dan non-akademik di Polinela,” ungkapnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Polinela mengundang Marching-Band Gita Taruna Bahari dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 6 Bandar Lampung untuk memeriahkan pembukaan Dies Natalis ke-42 tahun Polinela.

Andriyano, komandan Marching-Band Gita Taruna Bahari mengatakan bahwa mereka diundang Polinela untuk mengisi acara pembukaan Dies Natalis ke-42 tahun. ”Di sini kami di undangan Polinela untuk mengisi acara Dies Natalis ke-42 tahun Polinela, sekaligus menghibur kakak-kakak mahasiswa dengan penampilan Marching-Band kami,” katanya.

Rangkaian kegiatan pada acara ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga bertujuan memperkuat Visi Misi kampus yang tidak hanya sebatas jargon tetapi tujuan yang ingin di capai dengan berfokus pada modernisasi sarana-prasarana, penguatan kerjasama serta integritas digitalisasi sistem sebagai langkah menuju peningkatan mutu.

Dwi menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini bukan hanya sekedar euforia perayaan ulang tahun tetapi memaknai penguatan kepada seluruh sivitas akademika. ”Euforia ini tidak hanya sebatas perayaan ulang tahun, tetapi mengajak seluruh sivitas akademika untuk mendalami makna 42 tahun Polinela melalui penguatan visi dan misi,” jelasnya.

Shavina Naura Putri, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Internet (TRI) merasa bangga menjadi bagian dari Polinela. ”Sebagai mahasiswa Polinela, saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari kampus ini. Di usia ke-42 ini, semoga Polinela terus berkembang dan mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja,” ungkapnya.

Dwi berharap setelah rangkaian acara ini seluruh sivitas akademika menyadari akan pentingnya tanggung jawab tentang penguatan mutu baik kampus. ”Harapan saya selaku direktur setelah rangkaian kegiatan Dies Natalis selesai kita merasa bahwa penguatan mutu akademik dan non-akademik, penguatan tata kelola, modernisasi prasarana ini menjadi satu tanggung jawab besar kita semua. Sehingga kesadaran seluruh sivitas akademika terkait dengan pentingnya budaya mutu menjadi hal yang utama,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Syafiyyah Azzahra Izzatina, Novan Alhafia

Penyuting: Dina

 


HMJ TI Polinela Gelar Workshop AI dan Persiapan Prakerja

Antusiasme mahasiswa dalam seminar teknologi di Gedung Serba Guna | Perssukma / Rinto Irawan

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknologi Informasi (TI) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Workshop Artificial Intelligence (AI) dan persiapan prakerja pada Sabtu, 4 April 2026, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Kegiatan dalam rangka Road to Dies Natalis Polinela ini bertujuan meningkatkan keterampilan dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja di era digital. Workshop ini diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum, khususnya mahasiswa TI.

Muhammad Ananda Ramadhan, Ketua Pelaksana (Ketuplak)  menyampaikan bahwa workshop ini dirancang sebagai wadah pembekalan awal bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan pengetahuan praktis agar mahasiswa tidak mengalami kesenjangan antara dunia kampus dan dunia industri. “Kegiatan ini mempersiapkan mahasiswa agar tidak terkejut saat memasuki dunia kerja. Peserta juga dibekali pemahaman tentang sistem kerja serta penggunaan AI secara bijak,” ujarnya.

Muhammad Fari Madyan, Pemateri dari Komunitas Lampung Dev memberikan pandangannya mengenai dampak perkembangan AI terhadap dunia kerja. Ia menjelaskan bahwa AI telah membawa perubahan besar, khususnya di bidang teknologi. “Perkembangan AI sangat pesat. Dalam dunia software engineering, pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu satu bulan kini dapat diselesaikan hanya dalam satu minggu,” jelasnya.

Namun, ia juga menyoroti dampak lain dari kemajuan tersebut, yakni meningkatnya efisiensi tenaga kerja yang berujung pada berkurangnya kebutuhan pekerja di sejumlah sektor. Menurutnya, banyak industri kini melakukan penyesuaian dan efisiensi operasional seiring penerapan teknologi AI, yang berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja. Perubahan ini turut mendorong pengurangan tenaga kerja di beberapa sektor yang terdampak otomatisasi.

Ahmad Muhajir, peserta dari Program Studi (Prodi) Manajemen Informatika (MI) mengungkapkan mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ini. “Saya jadi lebih paham tentang AI dan lebih siap untuk menghadapi dunia kerja. Materinya sangat bermanfaat dan membuka wawasan saya,” ungkapnya.

Muhammad Fari berpesan kepada seluruh peserta agar tidak hanya berhenti pada pemahaman materi, tetapi juga mulai merencanakan langkah ke depan. Ia menekankan pentingnya mengenali potensi diri dan menentukan arah karier sejak dini. “Mahasiswa diharapkan mengetahui berbagai pilihan karier, kemudian mulai fokus dan mengambil tindakan sejak sekarang,” tutupnya. (*)

 

Reporter : Eka Nursani, Rinto Irawan

Penyuting : Dian