Muhammad Zaky, Mentor DK 2026 mengungkapkan bahwa perpaduan budaya tradisional dan unsur modern menjadi cara efektif untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda. “Anak muda zaman sekarang menyukai hal-hal yang modern. Dengan adanya kombinasi ini, budaya tradisional bisa diperkenalkan dengan cara yang lebih menarik,” ungkapnya.
Helidatasa Utami, Dewan Juri Talent Show DK Polinela 2026 menjelaskan bahwa penampilan bakat menjadi salah satu aspek penting dalam proses penilaian DK karena mampu menggambarkan karakter, kreativitas, dan kesiapan mental peserta. “Melalui Talent Show ini, kita bisa melihat bagaimana kepercayaan diri mereka saat tampil di depan umum, bagaimana mereka mengemas pertunjukan, serta cara mereka mengatasi rasa gugup. Hal itu menjadi salah satu poin penting dalam penilaian,” jelasnya.
Seluruh finalis menyajikan ragam bakat di atas panggung yang meliputi seni tari tradisional, tari modern, pertunjukan musik, baca puisi, storytelling, monolog, hingga aksi bela diri. Setiap peserta membawakan variasi penampilan yang berbeda dengan mengemas potensi masing-masing. Keberagaman jenis pertunjukan tersebut ditampilkan secara berurutan untuk memenuhi rangkaian kriteria dalam proses penilaian kompetisi.
Muhammad Hafiz Al-Mubarak, Finalis DK mengatakan ajang ini sebagai wadah penting bagi para finalis untuk menunjukkan potensi diri. “Duta Kampus tidak hanya dinilai dari wawasan akademis, tetapi juga dari kemampuan mengeksplorasi potensi diri. Kegiatan ini melatih kepercayaan diri dan kesiapan mental untuk tampil di hadapan banyak orang,” katanya.
Tia Aprilia, Penonton berharap agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai sarana pengenalan budaya lokal di lingkungan kampus, sekaligus memberikan dukungan moral bagi seluruh finalis yang akan bersaing di tahap berikutnya. “Sebagai generasi muda, kita perlu ikut melestarikan budaya tradisional agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman, dan semoga seluruh peserta DK 2026 tetap semangat serta menjaga kesehatan menuju malam puncak nanti,” tutupnya. (*)
Reporter: Bila Anjani,Resti Jannysa Ulandari
Penyunting: Akbar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar