Beranda

Tradisi Unik Iduladha di Berbagai Negara

Ilustrasi Keberagaman tradisi Iduladha menjadi warna indah persatuan umat Muslim dunia |Perssukma.blogspot.com/Dok UKM Pers SUKMA

 Hai, Sobat Madilen! 

Ternyata, perayaan Iduladha di berbagai negara memiliki tradisi yang unik dan berbeda-beda, loh! 

Ada yang merayakannya dengan suasana meriah, ada juga yang punya kebiasaan khas yang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Beberapa di antaranya bahkan terdengar cukup unik dan jarang ditemukan di beberapa negarasampai bikin banyak orang penasaran saat mendengarnya.

1. Indonesia, terdapat banyak tradisi kedaerahan, salah satunya di daerah Pasuruan, yaitu Manten Sapi yang mengarak sapi kurban berkalung bunga serta di Banyuwangi, yaitu tradisi Mepe Kasur (menjemur kasur massal) menjelang Iduladha untuk menolak bala.
2. Arab Saudi, salah satu tradisi khas Iduladha adalah penyembelihan unta sebagai hewan kurban. Daging kurban kemudian dibagikan tidak hanya kepada masyarakat setempat, tetapi juga dikirim ke berbagai negara sebagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi.
3. Turkimasyarakatnya merayakan Iduladha selama 4 hari dan menyebutnya Kurban Bayrami. Sebelum disembelih, hewan kurban biasanya dihias dengan henna dan pita warna-warni untuk memeriahkan suasana.
4. Pakistan, masyarakatnya memiliki kebiasaan memandikan, memotong bulu dengan pola artistik, dan memakaikan kalung bunga serta henna pada hewan kurban sebelum disembelih sebagai tanda penghormatan.
5. Nigeria, Iduladha dirayakan dengan tradisi Hawwan Sallah, yaitu parade kuda yang dihias dengan aksesoris warna-warni dan ornamen tradisional. Tradisi ini menjadi simbol kemeriahan dan kegembiraan saat menyambut hari raya. Setelah parade, masyarakat berkumpul untuk berkurban, berbagi daging, dan menikmati hidangan bersama keluarga.
6. InggrisIduladha dijuluki Savory Eid atau “Eid Gurih” karena identik dengan hidangan bercita rasa gurih seperti kebab, nasi biryani, dan haleem. Perayaan biasanya ditutup dengan makanan manis seperti baklava dan kue khas Timur Tengah.

Meski tradisinya berbeda-beda, Iduladha tetap mengajarkan kita arti keikhlasan, kebersamaan, dan indahnya berbagi dengan sesama. Dari berbagai tradisi di dunia, kita bisa melihat bahwa perbedaan justru membuat hari raya terasa semakin berwarna.

Selamat Hari Raya Qurban! (*) 

Reporter: Fitria Apriani

Penyunting: Akbar

Polinela Buka Peluang Global, Melalui Kursus Bahasa Mandarin


(25/05/2026) Polinela buka jalan ke dunia internasional lewat kursus Mandarin gratis  |Perssukma.blogspot.com/Dok. UKM Pers SUKMA

Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menyelenggarakan program kursus bahasa Mandarin secara gratis sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi peluang global. Program ini merupakan hasil kerja sama dengan lembaga internasional, yaitu Hope International dari China dan Intact Base dari Taiwan, yang sudah berjalan sejak 30 Maret hingga 26 Juni mendatang.

Anwar Rahman, Inisiator Kerja Sama menjelaskan bahwa program kursus bahasa Mandarin ini dilatarbelakangi oleh semakin luasnya pengaruh China dalam berbagai sektor global. Hal ini mendorong kebutuhan akan kemampuan bahasa Mandarin, khususnya bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi maupun bekerja di luar negeri. “Program kursus bahasa Mandarin dilatarbelakangi oleh luasnya ekspansi dan kerja sama global China, sehingga penguasaan bahasa Mandarin selain bahasa Inggris menjadi penting untuk mendukung studi, kerja sama perguruan tinggi, serta peluang karier di China dengan kemampuan minimal level B2 pada Common European Framework of Reference for Languages(CEFR),” jelasnya.

Nabila Hiffasya Gunawan, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) mengungkapkan ketertarikannya dalam mengikuti kursus bahasa Mandarin karena melihat pentingnya peran bahasa tersebut di tingkat global. Menurutnya, banyak peluang karier yang membutuhkan kemampuan bahasa Mandarin. “Saya tertarik mengikuti kursus bahasa Mandarin karena perannya yang semakin penting secara global. Banyak peluang karier yang membutuhkan kemampuan ini, sehingga bahasa Mandarin menjadi sangat berguna pada bidang bisnis, teknologi, dan ekonomi,” ungkapnya.

Program kursus ini terbagi menjadi dua skema, yaitu kerja sama dengan China dan Taiwan. Pada program yang bekerja sama dengan Hope International dari China, pembelajaran dilaksanakan secara Dalam Jaringan (Daring) dengan pengajar langsung dari China dan telah berjalan sejak akhir Maret.Sementara itu, program yang bekerja sama dengan Intact Basedari Taiwan dilaksanakan secara Luar Jaringan (Luring), di mana pengajar hadir langsung dan berinteraksi dengan peserta selama proses pembelajaran berlangsung.

Halim Fathoni, Pelaksana Kerja Sama sekaligus Perwakilan Intact Base di Lampung menjelaskan bahwa program ini mendukung peluang mahasiswa untuk melanjutkan studi dan magang di Taiwan melalui skema 2 plus 2, sekaligus membuka kesempatan ke luar negeri, mengembangkan diri, dan menjadi tenaga kerja profesional sesuai bidangnya. “Program ini diarahkan untuk membuka peluang mahasiswa melanjutkan studi dan magang di Taiwan melalui skema 2 plus 2, sehingga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mencoba pengalaman ke luar negeri sekaligus mengembangkan diri dan berpotensi menjadi tenaga kerja profesional sesuai bidangnya,” jelasnya.

Nabila berharap program kursus bahasa Mandarin dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi para peserta. “Harapan saya, program ini dapat terus berlanjut dan berkembang dengan peningkatan kualitas materi serta metode pembelajaran, yang dapat membantu lebih banyak peserta belajar bahasa Mandarin secara mudah dan menyenangkan, serta menyediakan jenjang lanjutan agar kemampuan bahasa dapat berkembang lebih mendalam,” tutupnya. (*) 

 

Reporter : Yuki Elisabeth Hutabarat, Ilham Miftahul Huda

Penyunting : Akbar

 


Ternyata Bahagia Nggak Selalu Tentang Validasi

Ilustrasi seseorang yang perlahan belajar bahagia tanpa menggantungkan dirinya pada penilaian orang lain |Perssukma.blogspot.com/Dok UKM Pers SUKMA

Kadang kita ngerasa harus dipuji atau diterima orang lain dulu agar merasa berharga. Sampai akhirnya, bahagia kita bergantung dengan validasi orang lain.

Padahal, kalian tau nggak sih apa itu validasi?

Validasi dalam psikologi, diartikan sebagai bentuk pengakuan, penerimaan, dan penghargaan terhadap perasaan, pikiran, maupun pengalaman yang dimiliki seseorang.

Bahagia itu nggak harus divalidasi dulu.

-    Pujian orang naik turun: Hari ini dipuji, besok bisa dikritik. Kalau bergantung sama omongan orang, emosi kita bakal capek sendiri kayak roller coaster.

-   Validasi mandiri lebih awet: Menghargai usaha diri sendiri jauh lebih bikin tenang, adem, dan gak gampang kedaluwarsa.

-  Bisa nikmatin proses: Begitu lepas dari beban "kata orang", kita bisa bener-bener enjoy ngelakuin apa pun dengan tulus.

Validasi memang bisa membuat seseorang merasa dihargai. Namun, tanpa sadar kita sering menjadikan validasi orang lain sebagai penentu kebahagiaan dan nilai diri.

Berhenti sejenak dan sadari bahwa nilai dirimu tidak ditentukan oleh komentar, pujian, atau seberapa banyak orang menyetujui pilihanmu.

Mencintai diri sendiri adalah:

-       Menerima kekurangan tanpa membenci diri sendiri.

-       Menghargai proses tanpa membandingkan perjalananmu dengan orang lain.

-       Memberi ruang untuk bertumbuh tanpa tekanan untuk selalu sempurna.

Tidak semua orang harus memahami dirimu, dan itu tidak menjadi masalah. Karena saat kamu berhenti mencari validasi, kamu mulai menemukan ketenangan.(*)

Reporter : Rayi Solehah

Penyuting : Bila

 



Satgas PPKPT dan BEM Tangani Dugaan Pelecehan Mahasiswa Polinela

 

Ilustrasi Penanganan dugaan kasus pelecehan seksual di Polinela menjadi perhatian mahasiswa | Perssukma.blogspot.com/ Dok. UKM Pers SUKMA

Dugaan kasus pelecehan oleh salah satu Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela) berinisial R menjadi sorotan baru-baru ini setelah akun anonim Instagram @bocoraluspolinela mengunggah sebuah postingan pada 19/05/2026. Postingan tersebut berisi tangkapan layar terkait keterangan pelapor tentang pelecehan yang telah dilakukan oleh salah satu Mahasiswa Polinela.

Kasus ini telah mendapat atensi dari berbagai kalangan mahasiswa hingga berbagai pihak terkait seperti Lembaga Eksekutif dan Legislatif serta Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Polinela.

Kasus ini sedang diproses oleh Satgas PPKPT Polinela bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Polinela sejak pelapor melapor pada 19/05/2026. 

Satgas PPKPT dan BEM KBM Polinela, telah memberikan press release pada Rabu, 20 Mei 2026, bahwa kasus tersebut sedang dalam proses penanganan sesuai dengan prosedur Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi  (Permendikbudristek) No. 55 Tahun 2024. Satgas PPKPT sangat menjaga identitas pelapor dan memberikan pendampingan serta tindak lanjut secara objektif dan profesional. 

Marlinda, Ketua Satgas PPKPT mengatakan bahwa Satgas PPKPT belum dapat diwawancarai karena masih fokus dalam penanganan kasus tersebut. ”Kami masih fokus penanganan kasus,” katanya.

BEM KBM Polinela melalui story Instagram mengundang secara terbuka kepada pihak terlapor, pada 22/05/2026, untuk melakukan mediasi internal guna memberikan keterangan yang sebenarnya, serta memberikan ruang bagi seluruh pihak untuk menyampaikan penjelasan terkait kasus ini.

Alifia Safitri, Presiden Mahasiswa (Presma) mengatakan bahwa mediasi internal ini dilakukan untuk melindungi identitas pelapor, khawatir jika terbuka secara umum akan membuat pelapor tidak nyaman. ”Ketentuan dari satgas sudah seperti itu. Kita menjaga privasi pelapor, khawatir kalau dibuka nanti dia makin down,” ujarnya. 

M. Berlian Syasmita, Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Advokesma) menjelaskan bahwa mediasi internal ini dilakukan melalui prosedur yang berlaku, sebagai upaya agar tidak adanya intervensi dari pihak luar yang menyebabkan terganggunya penyelidikan dalam kasus tersebut. ”Agar tidak ada intervensi dari pihak manapun, jadi informasi yang kami dapat konkret dan tidak ada gangguan dari pihak lain,” jelasnya. 

Alifia menegaskan bahwa perkembangan kasus ini akan terus dipantau dan diberitahukan kepada publik, dengan mempublikasikan berita acara dari Advokesma. ”Apapun segala bentuk perkembangannya pasti bakal kita beritahu ke publik melalui media. Dengan adanya berita acara dari Advokesma,” tegasnya. 

Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) per tanggal 22 Mei 2026, juga turut membuat sebuah postingan Instagram, dengan judul “Kampus Darurat Pelecehan Seksual” yang menegaskan bahwa kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan kampus bukan isu yang bisa dianggap sepele. Oleh karenanya, mereka berpihak pada keadilan dan kemanusiaan untuk menciptakan ruang pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan seksual.

Berlian mengatakan bahwa akan ada konsolidasi akbar bersama seluruh sivitas akademika setelah semua bukti dan juga investigasi yang valid, guna memberikan transparansi kepada seluruh pihak. ”Untuk konsolidasi yang akan kami adakan setelah melalui banyak pertimbangan dan kemungkinan, jadi pasti akan kami adakan,” tutupnya.

Hingga berita ini diterbitkan, kami belum bisa meminta konfirmasi langsung dari pelapor dikarenakan pihak yang menangani kasus tersebut merahasiakan identitas pelapor guna menjaga keamanan dan kenyamanan selama proses penanganan kasus ini berlangsung. (*)

 

Reporter : Nayla Putri Syafira, Dina Septiyani

Penyunting : Bila


Himagro Polinela Gelar Seminar dan Workshop Kreativitas Digital

 

(23/05/2026) Seminar Kreativitas Digital Himagro Polinela: gratis, seru, dan penuh ide kreatif | Perssukma.blogspot.com/Rayi Solehah

Sabtu, 23 Mei 2026, Himpunan Mahasiswa Agroindustri (Himagro) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menyelenggarakan Seminar dan Workshop Kreativitas Digital bertema “Harmonisasi Estetika Inovasi” di Gedung QB Polinela. Kegiatan ini terbuka secara gratis bagi mahasiswa maupun masyarakat umum dengan menghadirkan seniman digital, Holiq Bae sebagai pemateri utama.

Jovian Fatur Rohman, Ketua Himpunan Mahasiswa (Kahim) Himagro, mengatakan bahwa seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk upaya dalam membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan di bidang kreativitas digital yang saat ini sangat dibutuhkan di era perkembangan teknologi. “Acara ini diinisiasi karena masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam membuat desain yang eye-catching, dan mudah dipahami pembaca. Oleh karena itu, kami membuka seminar ini secara gratis untuk umum agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” katanya.

Ardiansyah Saputra, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memahami keseimbangan desain, pemilihan warna, hingga estetika visual dalam dunia digital. Kegiatan ini juga menghadirkan sesi praktik sehingga peserta dapat menuangkan kreativitasnya. “Dalam penerapannya, pemateri akan memberikan contoh sekaligus mengajak peserta langsung mempraktikkan proses mengedit desain sesuai kreativitas masing-masing,” jelasnya.

Holiq mengungkapkan bahwa kunci utama agar kualitas karya tetap terjaga dan tidak tertinggal adalah aktif mencari referensi. "Mencari referensi itu penting dan merupakan skill yang paling utama, karena kita harus bisa menyesuaikan standar kualitas para desainer yang lain. Jadi, kalau kita tidak punya standar kualitas, kita akan kalah dengan desainer-desainer yang lebih maju," ungkapnya.

Metode Amati, Tiru, Modifikasi (ATM) diterapkan untuk membantu desainer pemula menyelaraskan standar kualitas dengan referensi luar tanpa meniru karya secara utuh. Melalui pendekatan ini, desainer diarahkan untuk tetap membangun ciri khas dan identitas visual sendiri agar menghasilkan karya yang berkarakter. 

Holiq menekankan bahwa konsistensi dalam membangun identitas visual sangat penting di dunia kreatif. Menurutnya, ketika sebuah karya yang berkarakter kuat sudah terpublikasi luas, masyarakat akan langsung mengenali pembuatnya bahkan tanpa perlu melihat adanya sematan nama. “Sejago apa pun kalian, seprofesional apa pun kalian skill desainnya, tapi tidak kalian publikasikan sepertinya tidak akan ada yang tahu kalau kamu jago. Nah, yang pertama itu kalian coba publikasikan desain-desain kalian, dan coba untuk membuka jasa design yang memang ranahnya masih kecil-kecil dulu,” tambahnya.

Jane Bintang, Koordinator Acara mengungkapkan bahwa seminar gratis tersebut tetap mampu memberikan pengalaman belajar yang maksimal bagi peserta. “Selain mendapatkan ilmu baru, peserta juga memperoleh konsumsi, tempat yang nyaman, serta materi dari pemateri yang sangat berwawasan,” tutupnya. (*)

Reporter: Rika Hastuti, Rayi Solehah

Penyuting: Akbar

PKA Polinela Adakan Kuliah Umum Event Promoter

(20/5/2026) Ketua Jurusan Ekonomi Bisnis menyampaikan sambutan pembuka acara |Perssukma.blogspot.com/ Ajeng Restu Prahamita

Program Studi (Prodi) Pengelolaan Konvensi dan Acara (PKA) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menyelenggarakan kuliah umum bertema “Event Promotor: Digital Marketing dan Concert Branding” serta penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau Penandatanganan Kerja Sama (PKS). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Eks Perpustakaan pada Rabu, 20 Mei 2026 ini dibuka langsung oleh Dwi Puji Hartono, Direktur Polinela.

Dwi menegaskan dalam sambutannya bahwa prodi vokasi harus sesuai dengan kebutuhan industri atau selaras dengan kebutuhan dunia kerja. “Saya sering menekankan bahwa prodi vokasi sifatnya adalah industrial-driven. Kita tidak bisa berdiri sendiri dalam proses pembelajaran maupun aktivitas akademik, melainkan harus bersinergi dan mendekatkan diri dengan dunia industri,” tegasnya.

Edi Syafril, Pemateri menjelaskan bahwa industri event nasional memiliki potensi pasar yang besar. Menurutnya, menjadi seorang event promoter berbeda dengan Event Organizer (EO). Promotor bergerak mandiri sebagai inisiator yang mengambil risiko finansial penuh, mulai dari tahap perumusan ide, pendanaan, hingga strategi penjualan tiket massal. “Ada keadaan yang berbeda antara promotor dan EO. EO itu biasanya by order, secara umum ada perusahaan atau pemerintah yang menyediakan uang melalui acara lalu diserahkan ke EO, sehingga secara finansial dia lebih pasti menilai risikonya,” jelasnya.

Ia menambahkan pentingnya riset pasar dan penggunaan data digital, seperti analisis grafik streaming Spotify, untuk menentukan talent yang akan didatangkan. Di era digital saat ini, promotor juga dituntut memanfaatkan fenomena psikologis penonton seperti Fear of Missing Out (FOMO) melalui kemasan konten video pendek untuk menarik minat Generasi Z (Gen Z), serta menyediakan fasilitas kenyamanan experience yang diminati kelompok milenial. “Jangan membeli artis hanya karena menyukainya, gunakan analisis untuk mengecek benar-benar, misal buka Spotify. Kita juga harus mengambil sudut pandang FOMO. Kalau targetnya Gen Z, mereka lebih melihat short video dan lebih cepat mengikuti trend. Sementara kalau Milenial, dia carinya tiket yang mahal tapi nyaman,” tambahnya.

Haryo Mataram, Mahasiswa Prodi Akuntansi Bisnis Digital (AKBD) mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan memberikan gambaran mengenai cara merencanakan dan mengatur sebuah acara besar. “Lewat kuliah umum ini, kami jadi tahu bagaimana cara merencanakan dan mengatur sebuah acara atau event besar agar bisa berjalan dengan matang dan lancar. Mulai dari mencari ide sampai menentukan tema dan konsep,” ungkapnya.

Kuliah umum ini secara teknis membahas pelaksanaan serta ilmu praktis mengenai perencanaan bisnis konser, mulai dari proses mencari ide, penentuan konsep, hingga strategi pemasaran untuk menarik sponsor dan penonton. (*)


Reporter: Ajeng Restu Prahamita, Ramzi Hadi Saputra

Penyunting: Dian


Kuantitas Tidak Menjadi Hambatan Jalannya Garda Fair 2026



(16/05/2026) Garda Fair 2026, Bukti Semangat Berkarya| Perssukma.blogspot.com/Dok. UKM Pers SUKMA

Sabtu, 16 Mei 2026, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Garda Kedisiplinan Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Garda Fair 2026 tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA) se-Provinsi Lampung, dengan mengusung tema ”Kreativitas tanpa batas dan bersatu untuk meraih keberhasilan”. Kegiatan tahunan ini menjadi ajang perlombaan bagi pelajar sekaligus wadah melatih kerjasama tim dan kedisiplinan di tengah menurunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. 

Garda Fair 2026 menghadirkan beberapa cabang perlombaan, di antaranya Lomba Peraturan Baris Berbaris (LPBB) Variasi Formasi (VARVOR), Lomba Formasi Pengibaran Bendera (LFPB), Joget Komando (JOKOM), dan Yel-Yel.

Ridho Akmal Sembiring, Ketua Umum (Ketum) UKM Garda Kedisiplinan mengatakan bahwa Garda Fair 2026 menjadi sarana memperkenalkan Polinela serta Garda Fair kepada pelajar SMA maupun SMK. “Tujuannya ini memperkenalkan Polinela sekaligus acara kita. Event kita ini kan bisa di bilang perlombaan ya, perlombaan itu bukan berarti hanya individu, melainkan kerja sama tim. Di situlah kami menganggap acara ini penting,” katanya. 

Bima Maroza, salah satu Perwakilan Tim dari MAN 1 Lampung Timur mengungkapkan bahwa timnya mengikuti dua cabang perlombaan dalam kegiatan tersebut. Ia menilai Garda Fair 2026 memberikan pengalaman baru serta mempererat kebersamaan antaranggota tim. “Yang diambil dari perlombaan ini, besar keseruan, kebersamaan dan kekompakan teman-teman,” nilainya.

Ridho menjelaskan bahwa Garda Fair 2026 memiliki perubahan dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini panitia menggunakan juri yang berbeda dan dinilai lebih sesuai dengan bidang perlombaan. “Tahun ini kita buat perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama pada sistem dan juri perlombaan. Mulai dari sistem juri, kita pakai di luar dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), ” jelasnya. 

Di tengah menurunnya minat mahasiswa mengikuti organisasi, Ridho mengaku jumlah anggota UKM Garda tidak terlalu banyak. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan dalam pelaksanaan Garda Fair 2026. “Terkait Sumber Daya Manusia (SDM), sebenernya SDM di Garda itu tidak terlalu banyak ya. Jadi, kami fokus terhadap tugas masing-masing. Setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing. Dari situlah tugas dijalankan sesuai pembagian kerja,” jelasnya. 

Jamaludin Adimiharja, Pembina UKM Garda Kedisiplinan mengapresiasi kinerja dan kekompakan anggota aktif selama mempersiapkan acara. Meski jumlah anggota tidak terlalu banyak, seluruh persiapan hingga pelaksanaan kegiatan tetap dapat berjalan dengan baik melalui pembagian tugas antar anggota. “Acara ini sudah disiapkan dua bulan sebelum kegiatan. Dan kegiatan ini semua dilaksanakan oleh anggota aktif. Jadi tidak ada bantuan dosen terjun ke lapangan,” ungkapnya. 

Jamaludin menuturkan meskipun jumlah anggota tidak banyak, kualitas anggota menjadi hal utama dalam organisasi sehingga Garda tetap mampu menjalankan kegiatan berskala besar. “Tunjukkan bahwasannya dengan sedikit anggota kalian tetap berkualitas,” tuturnya. 

Garda Fair 2026 tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga membuktikan bahwa semangat kerja sama, kedisiplinan, dan tanggung jawab mampu melahirkan kegiatan besar yang berdampak positif. Di tengah menurunnya minat mahasiswa berorganisasi, UKM Garda Kedisiplinan Polinela menunjukkan bahwa kualitas, kekompakan, dan komitmen anggota tetap menjadi kunci keberhasilan. Melalui Garda Fair 2026, diharapkan semangat berorganisasi dan jiwa kepemimpinan generasi muda terus tumbuh serta mampu menciptakan prestasi tanpa batas. (*) 

Reporter: Rizqia Asya Dewi, Novita Syifa Azahra

Penyunting: Akbar

Nobar Film Dokumenter Pesta Babi Digelar di Tugu Adipura

(13/05/2026)
Suasana nobar Film dokumenter Pesta Babi di Tugu Adipura |Perssukma.blogspot.com/ Fitria Apriani 

Pemutaran film dokumenter Pesta Babi melalui kegiatan Nonton Bareng (Nobar) di Tugu Adipura,Bandar Lampung, Selasa 13 Mei 2026, menarik perhatian masyarakat dan mahasiswa. Film tersebut menjadi sorotan karena mengangkat isu konflik masyarakat adat Papua Selatan dan sempat viral di berbagai platform media sosial.

Film dokumenter ini, disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Dale dan bekerja sama dengan berbagai organisasi, seperti WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.idGreenpeach, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Merauke. Film ini berfokus pada perjuangan suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, yang melawan proyek besar pemerintah dan korporasi yang mengubah hutan serta tanah adat menjadi kawasan industri sawit, tebu, dan proyek pangan skala besar. 

Film dokumenter Pesta Babi tengah menjadi perbincangan publik setelah sejumlah acara nobar di berbagai daerah dilaporkan dibubarkan. Dilansir dari IDN Times, Selasa (12/5/2026) sedikitnya terdapat dua kegiatan nobar yang menjadi sorotan publik dilaporkan mengalami pembubaran, karena pemutaran di Universitas Mataram dan di wilayah Ternate Tengah. 

Berdasarkan data yang dihimpun WatchDoc, sedikitnya terdapat 21 kasus intimidasi selama pemutaran film berlangsungBentuk intimidasi yang dilaporkan meliputi tekanan agar acara dibatalkan, panggilan dari pihak keamanan, pengawasan oleh intelijen aparat, hingga permintaan identitas penyelenggara dan pembubaran acara secara paksa. 

Rio, salah satu anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menanggapi maraknya pembubaran pemutaran film dokumenter tersebut. Ia menilai tindakan tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. “Ketika ada pembubaran sebuah film, hal itu patut dipertanyakan, ada apa dengan pembubaran tersebut, apa yang ditakutkan oleh aparatur negara dengan tayangnya film itu?” nilainya.

Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), TB Hasanuddin menilai perbedaan pandangan terhadap isi film seharusnya disampaikan melalui diskusi terbuka dan argumentasi, bukan dengan menghentikan kegiatan pemutaran. “Kalau ada pihak yang menilai isi film tidak tepat atau provokatif, maka seharusnya dibantah dengan data, klarifikasi, dan argumentasi, bukan dengan pembubaran kegiatan,” tuturnya IDN Times, Senin (11/5/2026).

Rio mengatakan bahwa film dokumenter tersebut memperlihatkan kondisi masyarakat Papua yang jarang diketahui publik luas. Menurutnya, sebagian besar masyarakat akan memberikan respons positif setelah menonton film tersebut karena dapat menumbuhkan rasa simpati terhadap masyarakat adat Papua. “Film ini memperlihatkan kondisi-kondisi yang ada di Papua, sehingga masyarakat bisa ikut merasakan apa yang dialami masyarakat di sana,” katanya.

Di tengah ramainya perdebatan dan pembubaran pemutaran film di berbagai daerah, nobar Pesta Babi di Tugu Adipura menunjukkan bahwa ruang diskusi publik tetap hidup. Pemutaran film ini justru memperlihatkan tingginya rasa ingin tahu masyarakat terhadap isu sosial yang jarang dibahas secara terbuka serta menjadi pengingat bahwa film dokumenter masih memiliki kekuatan untuk menggugah kesadaran publik. (*)

Reporter: Fitria Apriani

Penyunting: Dina

Teknologi Pangan Halal, Terapkan Prinsip Kehalalan Islam


Ilustrasi Mahasiswa menguji keamanan produk halal dengan metode laboratorium terkini |  Perssukma.blogspot.com/Dok. Rinto Irawan


Politeknik Negeri Lampung (Polinela) resmi membuka Program Studi (Prodi) Sarjana Terapan (S1 Terapan) Teknologi Pangan Halal sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus mendukung penerapan kewajiban sertifikasi halal oleh pemerintah pada Oktober 2026. Prodi ini merupakan pengembangan dari Prodi Teknologi Pangan (Tepa) yang tidak hanya berfokus pada aspek pengolahan dan keamanan pangan, tetapi juga mengintegrasikan prinsip kehalalan Islam secara menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga sistem manajemen.

Kurnia Rimadhanti Ningtyas, Ketua Jurusan (Kajur) Teknologi Pertanian (Tektan) mengungkapkan bahwa pembukaan Prodi Teknologi Pangan Halal bertujuan menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkompeten bagi pelaku usaha serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini juga mendukung kewajiban sertifikasi halal pemerintah yang mulai berlaku pada Oktober 2026. “Salah satunya untuk mendukung program pemerintah. Sertifikasi halal akan diwajibkan pada Oktober 2026 bagi pelaku bisnis pangan dan UMKM. Untuk menunjang program tersebut, maka kami membuka Prodi Teknologi Pangan Halal,” ungkapnya.

Kurnia menambahkan, saat ini sertifikasi halal bukan lagi sekadar kebutuhan umat Muslim, tetapi sudah menjadi standar kepercayaan konsumen secara umum. “Sekarang sertifikasi halal itu bukan hanya kebutuhan orang Muslim, pelaku bisnis non-Muslim pun sudah banyak yang mengajukan sertifikasi halal untuk meningkatkan citra produk dan kepercayaan masyarakat,” tambahnya.

Liana Verdini, Koordinator Program Studi (Kaprodi) Teknologi Pangan Halal menjelaskan bahwa konsep pembelajaran di prodi ini mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu teknologi pangan, hukum Islam, dan manajemen mutu. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori syariat, tetapi juga dibekali kemampuan teknis menggunakan teknologi laboratorium modern. “Teknologi Pangan Halal mengintegrasikan tiga pilar utama, yaitu teknologi pangan, hukum Islam, dan manajemen mutu. Tidak hanya mempelajari aspek syariat, tetapi juga dibekali kemampuan teknis menggunakan alat laboratorium modern seperti polymerase chain reaction (PCR) untuk memastikan kehalalan suatu produk secara akurat,” jelasnya.

Prinsip halal yang diajarkan akan diterapkan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses produksi, peralatan industri, hingga sistem manajemen halal. Nantinya alumni diharapkan mampu menjadi pendamping sekaligus pengawas dalam proses sertifikasi halal di industri maupun UMKM.

Kurnia mengatakan bahwa tenaga pengajar telah memenuhi kualifikasi, baik dari segi jumlah maupun kesesuaian bidang ilmu. Beberapa dosen juga telah memiliki sertifikat kompetensi sebagai auditor halal untuk mendukung kualitas pembelajaran. “Alhamdulillah dari segi dosen tercukupi dan sesuai dengan bidang ilmunya. Beberapa dosen juga sudah memiliki sertifikat kompetensi sebagai auditor halal,” katanya.

Hana Aurora Sianturi, Mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) menilai kehadiran S1 Terapan Teknologi Pangan Halal sangat relevan dengan ke butuhan industri saat ini. Menurutnya, penggabungan antara pengolahan pangan dan prinsip syariat menjadi nilai tambah utama bagi lulusan. “Kehadiran prodi ini sangat relevan karena isu halal di Indonesia merupakan hal utama dengan peluang yang jelas. Kombinasi antara teknologi pangan dan prinsip halal menjadi keunggulan tersendiri, sehingga lulusannya tidak hanya menguasai teknik produksi, tetapi juga memahami aturan serta standar kehalalan yang kini semakin disadari konsumen,” nilainya. (*)


Reporter: Resa Nurvia, Tika Sri Wahyuni

Penyunting: Dian 


Kenalkan Produk Herbal, TEFA Polisunce Edukasi Siswa SD


(05/05/2026)
Eksplorasi siswa belajar dan bereksperimen |Perssukma.blogspot.com/ Dok. UKM Pers SUKMA 

Selasa, 5 Mei 2026, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Penta Helix yang didukung oleh Teaching Factory (TEFA) Polisunce Polinela, untuk mengedukasi siswa Sekolah Dasar (SD) Islam Az-Zahra, dalam pembuatan hand cream dan sabun berbahan herbal, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. 

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata implementasi pembelajaran vokasi berbasis praktik sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Produk hand cream dan sabun yang dihasilkan telah melewati rangkaian uji laboratorium, mencakup parameter organoleptik, viskositas, serta densitas

Dalam pelaksanaannya, standar kualitas produk tersebut dipengaruhi oleh konsistensi teknik pengadukan, sehingga mahasiswa berperan memastikan proses tersebut berjalan sesuai prosedur meskipun dilakukan oleh anak-anak.

Fadian Farisan Silmi, Koordinator Program Studi (Kaprodi) TRKI Polinela menjelaskan bahwa pengolahan bahan alami dalam kegiatan Penta Helix ini merupakan perwujudan dari visi Prodi TRKI. “Salah satu visi dari Prodi TRKI adalah bagaimana Prodi ini menonjolnya teknologi konversi biomassa. Jadi, teknologi konversi biomassa ini nantinya tentu saja berdasarkan keilmuan kami, yaitu mengubah bahan baku mentah menjadi produk jadi dengan kualitas ekonomi yang lebih tinggi,” jelasnya.

Galang Abdul Auni, Ketua Himpunan (Kahim) Prodi TRKI menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga berdampak langsung. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa TEFA bukan hanya tempat praktik, tetapi juga ruang kolaborasi untuk menghasilkan produk yang bermanfaat sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.

Windia Hanifah, Dosen Prodi TRKI Polinela mengungkapkan bahwa kesadaran akan kesehatan harus dipupuk melalui pengenalan manfaat bahan-bahan organik. “Edukasi ini penting karena saat ini kita terlalu banyak terpapar bahan kimia, baik dari makanan maupun produk harian yang masuk ke dalam tubuh. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa bahan organik memiliki banyak manfaat dan mampu menjadi alternatif pengganti bahan kimia sintetis secara efektif,” ungkapnya.

M. Nabil Fakhri Ali, Ketua TEFA Polisunce Polinela mengakui adanya tantangan dalam menjelaskan istilah teknis kepada anak SD, yang memiliki bahasa yang rumit. “Tantangannya menjelaskan istilah seperti surfaktan kepada anak-anak agar mereka mengerti bahwa bahan sabun bisa berasal dari herbal. Namun kami senang karena bisa membuktikan bahwa teknik kimia tidak sesusah yang dibayangkan dan bisa dipraktikkan secara simpel,” jelasnya.

Ria Anggreyni Roshera, Wakil Kesiswaan SD Islam Az-Zahra menilai bahwa metode pembelajaran langsung ini merupakan cara yang efektif untuk memicu gairah akademik sejak usia dini. “Minat dan rasa ingin tahu siswa harus dibangun sejak dini melalui cara-cara menarik seperti ini agar ke depannya sains dan teknologi menjadi hal yang menyenangkan, bahkan mampu mencetak ilmuwan masa depan. Di sekolah kami sendiri terdapat ekstrakurikuler Science Club yang aktif melakukan berbagai percobaan, dan karena pembuatan produk ini merupakan hal baru, kami berencana mengintegrasikannya ke dalam program tersebut agar anak-anak dapat mengeksplorasi proses yang lebih kompleks,” ungkapnya.

Windia berharap kedepannya muncul sinergi yang lebih luas dengan mitra industri agar inovasi mahasiswa ini dapat dipasarkan secara profesional sekaligus menjadi peluang kerja bagi para lulusan. “Harapan ke depannya tentunya ada kerja sama dengan mitra industri agar produk ini bisa dipasarkan secara profesional. Selain itu, melalui kegiatan ini dapat menciptakan peluang kerja bagi para lulusan, sehingga mereka tidak hanya memiliki kemampuan teknis tetapi juga jiwa kewirausahaan yang siap bersaing di masyarakat,” tutupnya. (*)


Reporter: Jhon Hanan Sipakkar, Rayi Solehah

Penyunting: Dian

UKM SMART Polinela Perkuat Literasi Melalui Webinar Kepenulisan

(03/05/2026) Pemateri menyampaikan materi kepenulisan dalam webinar UKM SMART Polinela via Zoom Meeting | Perssukma.blogspot.com/ Zelma Mustari


Minggu, 3 Mei 2026, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Studi Mahasiswa Riset Terapan (SMART) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar webinar kepenulisan bertema “Mentransformasi Ide Menjadi Karya Tulis yang Solutif di Era Digital”. Kegiatan yang dibuka oleh Agung Adi Candra, Wakil Direktur (Wadir) III Bidang Kemahasiswaan Polinela, ini bertujuan untuk mendorong Generasi Z agar lebih berani menuangkan gagasan kreatif menjadi karya tulis yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital.

Ahmad Ramadhan, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul sebagai respons atas tantangan literasi yang dihadapi mahasiswa saat ini. Ia menekankan bahwa penguasaan kepenulisan merupakan elemen penting yang harus dimiliki setiap mahasiswa untuk menunjang kompetensi mereka. “Webinar ini diselenggarakan untuk mengatasi rendahnya minat dan kepercayaan diri mahasiswa dalam menulis karya ilmiah maupun non-ilmiah. Hal ini krusial bagi mahasiswa vokasi yang kini dituntut menyelaraskan keterampilan praktis dengan kemampuan menuangkan inovasi secara tertulis,” jelasnya.

Panitia menyusun sesi webinar yang dinamis dan tidak monoton untuk menjaga fokus audiens. Selain itu, penggunaan strategi promosi yang inklusif serta pemilihan tema yang bersifat umum terbukti efektif menarik minat mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan untuk mendalami dunia kepenulisan. Antusiasme peserta terlihat dari motivasi mereka dalam mengasah kompetensi literasi sebagai penunjang karier profesional.

Jovanka Alfaredzy, peserta sekaligus Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Elektronika (TRE) menilai penguasaan tata tulis bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kebutuhan strategis. “Alasan utama saya adalah kesadaran bahwa kemampuan menulis merupakan soft skill fundamental yang menjadi jembatan antara pemikiran akademis dan implementasi di dunia nyata. Saya ingin memahami bagaimana merangkai ide yang kompleks menjadi sebuah narasi yang solutif dan mudah diterima,” nilainya.

Wangi Pusva Kartini, narasumber menjelaskan bahwa hambatan mahasiswa dalam manajemen waktu dan kepenulisan sering kali dipicu oleh gangguan digital serta minimnya analisis terhadap fenomena sekitar. Untuk menghasilkan karya yang berdampak, mahasiswa harus mampu mentransformasi keresahan sosial menjadi gagasan yang terstruktur. “Menulis tidak perlu jauh-jauh mencari ide, mulailah dari pengalaman pribadi atau keresahan di lingkungan sekitar agar tulisan terasa lebih hidup. Namun, di era digital ini, kita harus mampu menyaring informasi dan mengamati masalah secara mendalam agar ide yang kita tangkap tidak hanya sekadar melintas di pikiran, tetapi bertransformasi menjadi tulisan yang solutif dan valid, bukan sekadar mengikuti tren tanpa proses analisis yang benar,” jelasnya.

Jovanka berharap adanya ruang evaluasi yang lebih mendalam untuk memperbaiki kualitas karya tulis mereka secara profesional. “Saya berharap akan ada sesi pelatihan lanjutan yang lebih spesifik, seperti writing clinic atau mentoring progresif di mana draf tulisan kami bisa dibedah langsung oleh pakar. Selain itu, mengadakan kompetisi menulis esai atau artikel populer yang berfokus pada pemecahan masalah akan menjadi wadah yang sangat baik untuk melatih konsistensi dan keberanian kami dalam berkarya,” tutupnya. (*)

Repoter: Zelma Mustari, Ramzi Hadi Saputra

Penyunting: Dina

May Day Lampung Soroti Ketenagakerjaan dan Upah Buruh

Bersatu di jalan, menyuarakan hak buruh Lampung tak lagi diam. |Perssukma.id/Dok. UKM Pers SUKMA

Jumat, 1 Mei 2026, Aliansi Perjuangan Rakyat Lampung (PPRL) menggelar aksi massa di Tugu Adipura Bandar Lampung, dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional. Aksi ini diikuti oleh buruh, mahasiswa, petani, Non-Governmental Organization (NGO), Konfederasi Serikat Nasional (KSN), Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unila dan sebagainya. 

Massa aksi melakukan long march dari Masjid At-Taqwa ke Tugu Adipura sebagai titik untuk penyampaian orasi politik. Orasi dilakukan secara bergantian dari berbagai perwakilan massa. Dalam orasi politik, massa menyoroti sejumlah persoalan ketenagakerjaan yang dinilai masih belum berpihak pada buruh, mulai dari sistem kerja kontrak dan outsourcing, rendahnya upah, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) hingga minimnya perlindungan sosial bagi pekerja di berbagai sektor.

Yohanes Joko Purwanto, Koordinator Umum aksi, menyampaikan bahwa lemahnya pengawasan menjadi salah satu faktor utama banyaknya pelanggaran ketenagakerjaan di Lampung. “Pegawai pengawasnya cuma kurang lebih 60 orang, sehingga kepatuhan perusahaan terhadap pelaksanaan undang-undang itu hampir tidak terawasi,” ujarnya. 

Kondisi pengupahan di Lampung juga menjadi sorotan dalam aksi tersebut. Banyak pekerja yang telah bekerja dalam jangka waktu lama masih menerima upah setara Upah Minimum Provinsi (UMP) tanpa penyesuaian yang memadai, sehingga dinilai belum mencerminkan upah layak. Kondisi tersebut dinilai tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh para pekerja. Selain itu, kurangnya evaluasi terhadap struktur dan skala upah di sejumlah perusahaan juga menjadi sorotan, karena dianggap belum sepenuhnya mengakomodasi prinsip keadilan bagi pekerja.

Sistem kerja kontrak dan outsourcing juga disorot karena dianggap tidak memberikan kepastian kerja serta minim jaminan sosial bagi buruh. Kondisi ini dinilai memperburuk kesejahteraan pekerja dan menjadi salah satu alasan utama massa mendesak adanya perubahan kebijakan ketenagakerjaan.

Dalam aksi tersebut, PPRL membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Adapun tuntutan yang disampaikan meliputi:

1. Sahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan yang pro buruh dan melibatkan serikat buruh. 
2. Hapuskan sistem kerja fleksibel (kontrak dan outsourcing). 
3. Berikan perlindungan dan jaminan sosial bagi pekerja platform digital, pekerja media, pekerja medis, pekerja maritim, pekerja kebun, tenaga pendidik, dan kurir. 
4. Wujudkan upah layak nasional dan kerja layak bagi buruh. 
5. Hapuskan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di tempat kerja. 
6. Tuntaskan konflik agraria dan wujudkan reforma agraria sejati. 
7. Hentikan intimidasi, represifitas, dan kriminalisasi atas kritik rakyat. 
8. Berikan jaminan pendidikan gratis dan kesehatan gratis untuk rakyat. 
9. Sahkan RUU Sisdiknas yang pro rakyat dan melibatkan rakyat. 
10. Usut tuntas kasus Andrie Yunus dan adili pelaku di peradilan umum. 
11. Cabut Undang-Undang (UU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan kembalikan militer ke barak. 
12. Hentikan perang, kembalikan Indonesia ke Non-Blok dan keluar dari perjanjian militer. 
13. Cabut Hak Guna Usaha (HGU) PT Bumi Sentosa Abadi (BSA) dan kembalikan tanah kepada masyarakat adat. 
14. Batalkan rencana pembangunan Resimen Induk Kodam  (Rindam) yang dinilai merampas tanah rakyat. 
15. Tuntaskan permasalahan banjir di Bandar Lampung dan penuhi hak korban banjir. 
16. Sediakan ruang terbuka hijau bagi masyarakat minimal 30 persen. 
17. Penuhi hak-hak normatif pekerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Lampung. 
18. Penuhi seluruh hak buruh PT San Xiong Steel Indonesia yang belum dibayarkan

Prabowo Pamungkas, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, menegaskan bahwa peringatan Hari Buruh tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial tetapi menjadi momentum untuk memperjuangkan hak atas pekerjaan dan upah yang layak. “Kita memperingati hari buruh sebagai momentum mendapatkan kerja dan upah yang layak, tapi pada kenyataannya tuntutan kita tidak pernah didengar,” ungkapnya. 

Isu perlindungan terhadap pekerja perempuan dan kelompok rentan juga turut disinggung oleh massa. Mereka menilai masih terdapat berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi di lingkungan kerja dan belum mendapat penanganan yang memadai.

Aldy dari Konfederasi Serikat Nasional (KSN) berharap bahwa RUU ketenagakerjaan yang pro kepada buruh segera disahkan. “Undang-Undang ketenagakerjaan yang kita kerjakan hari ini, itu mesti berefektif terhadap keadilan para buruh,” harapnya.

Aksi kemudian ditutup dengan tertib. Massa aksi menyatakan akan terus mengawal berbagai tuntutan yang telah disampaikan kepada pemerintah serta mendorong adanya kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan buruh dan masyarakat.(*

Reporter: 

Fitria Apriani

Adzra Rizka Andini

Penyunting:

Akbar