Sabtu, 06 Juni 2026,
Keluarga Mahasiswa Hindu Politeknik Negeri Lampung (KMHIPO) menggelar Dharma
Wiksa Bhakti di Gedung Serba Guna (GSG) Politeknik Negeri Lampung
(Polinela). Ajang ini memperlombakan tiga cabang utama, yaitu Tari Cendrawasih,
Tapel Ogoh-Ogoh, dan Sketsa Ogoh-Ogoh dengan peserta dari
kalangan pelajar, mahasiswa, hingga umum.
Acara ini dibuka oleh
Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela, dan jajaran pengurus Parisada
Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Lampung, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI)
Provinsi Lampung, Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC
KMHDI), I Gede Darma Putra, Pembina KMHIPO, Made Yuda Saputra, Ketua Umum
(Ketum) KMHIPO, I Gusti Ketut Riko Paradipa, Ketua Pelaksana (Ketuplak).
Kompetisi ini mengusung
tema “Waring Ing Budaya, Telenging Yuga” bermakna sebagai upaya memadukan
bahasa tradisional masa lalu dengan era modern, agar eksistensi budaya Hindu
tetap lestari, tidak tergerus oleh perkembangan zaman, serta menjadi wadah
untuk membangun keberanian dan mental tampil generasi muda.
Made Yuda menjelaskan
bahwa pemilihan cabang perlombaan didasarkan pada hasil riset potensi dan minat
di kalangan pelajar, serta dikemas secara santai agar peserta dapat tampil
percaya diri. “Kami memilih lomba ini tidak hanya asal-asalan, tetapi kita
riset sendiri ke kalangan pelajar untuk melihat potensi lomba apa yang bakal
diminati. Seperti tari cendrawasih yang banyak ditekuni, serta tapel
ogoh-ogoh yang peminatnya banyak tapi sangat sedikit diselenggarakan oleh
pihak lain,” jelasnya.
Mengenai teknis
pelaksanaan, kategori perlombaan Tari Cendrawasih dan Tapel Ogoh-Ogoh
diikuti oleh 23 peserta dan digelar secara langsung untuk lingkup Provinsi
Lampung guna efisiensi akomodasi fisik. Sementara itu, kategori Sketsa Ogoh-Ogoh
dibuka secara Dalam Jaringan (Daring) berskala nasional untuk memfasilitasi
para konten kreator dari luar pulau, termasuk peserta dari Bali.
Ni Putu Septa Ayu
Anggraini, Peserta dari Sanggar Taksu Saraswati mengungkapkan bahwa motivasi
utamanya mengikuti ajang ini adalah demi menjaga eksistensi seni tari
tradisional Hindu-Bali agar tetap bertahan di tengah perkembangan tren modern.
“Motivasi terbesar saya adalah untuk menjaga kelestarian seni tradisional agar
tidak punah di tengah tren modern seperti dance. Apalagi masyarakat suku
Bali termasuk salah satu mayoritas di Provinsi Lampung ini,” ungkapnya.
I Gede mengatakan bahwa kegiatan
ini penting sebagai wujud komitmen mahasiswa dalam menjaga nilai-nilai luhur
budaya Nusantara dan Hindu di tengah arus modernisasi. Selain sebagai wadah
berkumpul internal mahasiswa Hindu untuk mendiskusikan masalah keumatan,
keterlibatan masyarakat umum dalam acara ini juga berfungsi sebagai sarana
promosi untuk mengenalkan institusi Polinela kepada publik luas. “Di tengah
perubahan zaman yang luar biasa ini, mahasiswa harus berkomitmen tetap menjaga
nilai-nilai luhur budaya Nusantara yang sudah diletakkan oleh pendahulu kita.
Kegiatan ini untuk mempertahankan budaya, khususnya di bidang agama Hindu,
sekaligus mendukung Polinela dalam mengenalkan kampus ke dunia luas melalui
kehadiran masyarakat umum,” katanya.
Made Yuda berharap
penyelenggaraan kompetisi ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi rasa
percaya diri generasi muda dalam melestarikan kebudayaan daerah. “Harapan saya
untuk para peserta agar berani untuk mencoba dan berani untuk tampil, jangan
takut untuk kegagalan. Harapan kami juga agar budaya Hindu yang ada di Lampung
ini agar tetap terus dilestarikan dan tidak tergerus dengan kemajuan zaman,”
tutupnya. (*)
Reporter: Heidy Putri Shafira, Missel Keisya
Penyuting: Bila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar