Beranda

Volume Kendaraan Bertambah, Polinela Tambah Area Parkir

 



Kondisi parkiran sesudah dan sebelum di area Gedung Lab Analisis | Perssukma.id/Dok. UKM Pers SUKMA

Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menambah area parkir untuk mengatisipasi meningkatnya volume kendaraan sivitas akademika khususnya mahasiswa. Penambahan tempat parkir tersebut dilakukan di beberapa titik terkhususnya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) dan Area Gedung Lab Analisis serta Gedung Seroja.

Kondisi parkiran yang padat menimbulkan akses kendaraan terhambat dan menimbulkan kemacetan di jam sibuk. Namun dalam proses peralihannya berbagai keluhan kian muncul dari mahasiswa. 

Contohnya di area Gedung Lab Analis, beberapa hari terakhir terganggu dikarenakan lahan parkiran yang sepenuhnya belum siap digunakan. Ditambah kondisi cuaca hujan sehingga membuat tanah pada parkiran tersebut menjadi basah dan licin.

Danica Felicia, Mahasiswi Program Studi (Prodi) Agribisnis Pangan (AGBP) mengatakan bahwa lebih efektif menggunakan jalur parkir yang lebih tertata dibandingkan yang baru.   “Menurut saya lebih efektif yang dulu di belakang Gerung Seroja. Karena lebih tertutup, lebih enggak kelihatan. Kalau disini seperti berantakan, terus lebih kelihatan sempit banget, jadi jalan akses ke gedungnya tuh kayak terbatas,” ujarnya. 

Elvina Destia, Mahasiswi Prodi AGBP juga menilai kondisi hujan membuat jalan yang berair dan berlumpur dapat menimbulkan risiko terpeleset dan membuat sepatu menjadi kotor.  “Kalau untuk motor kotor, sepatu kotor itu sudah terkena di kami, dan sangat membuat kami kesulitan mengeluarkan motor. Karena licin lebih rawan kepleset sih ya kalau mengeluarkan motor,” ujarnya.

Diketahui pihak Polinela menyadari masalah tersebut dan telah menerapkan sejumlah langkah cepat, untuk meminimalkan kendala. Polinela mulai menimbun area parkir dengan batu kerikil untuk mengurangi becek, sehingga kendaraan dapat keluar masuk dengan lebih aman. Namun padatnya aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) membuat mobil material belum bisa masuk secara leluasa, sehingga pengerjaan dilanjutkan secara bertahap.

Bambang, Wakil Ketua Keamanan Kampus menjelaskan bahwa lokasi parkiran yang becek dan berlumpur masih dalam pengerjaan, dikarenakan area yang penuh dengan kendaraan dan waktu kuliah yang padat belum bisa untuk memasukkan mobil pengantar batu. “Itu masih dalam pengerjaan, berhubung ini hujan lebat dan becek. Kasian juga parkir disitu jadi dialihkan, nah begitu hujan pertama itu saya langsung laporan keatas. Sudah ditimbun batu kerikil seperti di parkiran belakang GKB,” ungkapnya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa proses penataan parkiran masih membutuhkan waktu dan penyesuaian, terutama karena kondisi lapangan yang belum sepenuhnya siap. Meskipun demikian, pihak kampus terus berupaya mencari solusi sementara agar aktivitas mahasiswa tetap berjalan lancar, termasuk dengan melakukan pengalihan lokasi parkir dan menata ulang area yang terdampak hujan.

Bambang mengungkapan bahwa fasilitas parkir Polinela masih kurang memadai, sehingga perlunya kerja sama antar sesama sivitas akademika. “Fasilitas parkir Polinela masih kurang memadai, tata parkirnya belum teratur, dan tempatnya juga belum nyaman. Fasilitas memang sedang dibenahi sehingga kerja sama sangat diperlukan agar semuanya berjalan lancar,” ungkapnya.

Bambang juga berharap kepada sivitas akademika untuk dapat mengikuti arahan dari pihak keamanan dan mengikuti peraturan yang ditetapkan. “Tolonglah sesama sivitas akademika dapat menuruti arahan dari kami dalam memakir kendaraan dan dapat mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan,” tutupnya.(*)

 

Penulis : Nur Baiti, Jhon Hanan Sipakkar

Penyunting : Nayla

 

Pengenalan Potensi Wisata dan UMKM Desa Kelawi Melalui Fam Trip 2025

 

Pengrajinq Desa Kelawi memperagakan pembuatan sulam tapis kepada peserta Fam Trip | Perssukma.id /Natasya

Familiarization Trip (Fam Trip) Desa Wisata Kelawi yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Perjalanan Wisata (PW) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bersama Pusat Inkubator Bisnis (PIB) Polinela dan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Lampung, menghadirkan berbagai aktivitas pengenalan potensi wisata, seni budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini menjadi rangkaian terakhir dari program pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan desa wisata yang telah berlangsung selama enam bulan.

 

Program pendampingan tersebut melibatkan dua desa wisata, yaitu Desa Sungai Langka dan Desa Kelawi. Selama periode pendampingan dilakukan pelatihan, penyediaan fasilitas, serta peningkatan kapasitas pelaku UMKM dan penggerak wisata desa. Peserta Fam Trip terdiri atas media, pelaku tour and travel, dan Mahasiswa Prodi PW dari berbagai perguruan tinggi di Lampung.

 

Pada Fam Trip yang dilaksanakan Sabtu, 22 November 2025, di Desa Kelawi, rangkaian aktivitas yang diperkenalkan kepada peserta mencakup Agrowisata Alpukat Sipit Kelawi, Workshop UMKM Kreatif, eksplorasi hutan dan trekking Batu Alif untuk jalur paragliding, serta kunjungan ke Pantai Minang Rua sebagai salah satu wisata pesisir. Meskipun tidak seluruh aktivitas dilakukan pada kegiatan hari itu, rangkaian tersebut menjadi gambaran paket wisata yang akan dikembangkan pada tahap berikutnya.

 

Meyliana Astriyantika, Kepala Prodi (Kaprodi) PW Polinela menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk kolaborasi untuk mengembangkan potensi desa wisata berbasis UMKM dan ekonomi kreatif. “Tahun ini Prodi PW bekerja sama dengan BI Perwakilan Provinsi Lampung. Program ini merupakan pendampingan bagi UMKM dan penggerak wisata di dua desa wisata, yaitu Desa Sungai Langka dan Desa Kelawi,” ujarnya.

 

Pemilihan desa dilakukan oleh BI dengan pertimbangan potensi unggulan yang dimiliki masing-masing desa. Desa Sungai Langka dikenal dengan produk sulam jelujur, sedangkan Desa Kelawi telah berkembang hingga tingkat nasional dan masuk dalam Top 5 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023. Desa ini memiliki daya tarik berupa pantai, gua, air terjun, jalur trekking, serta UMKM Sulam se-Lampung.

 

Program pendampingan berlangsung sejak Juni hingga November 2025 dan menghadirkan narasumber nasional untuk memberikan pelatihan kepada pelaku wisata dan UMKM. Fam Trip menjadi agenda rangakaian terakhir sebelum dilaksanakan evaluasi dan monitoring bersama BI.

 

Farhan Habibullah, Peserta dan Mahasiswa Pariwisata Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberinya pemahaman langsung mengenai pengelolaan destinasi dan potensi lokal. “Saya mendapatkan pemahaman tentang daya tarik wisata Desa Kelawi, pengelolaan destinasi, serta interaksi langsung dengan masyarakat,” ungkapnya.

 

Ahmad Yandi, Ketua Muli Mekhanai sekaligus pembina sanggar seni menjelaskan bahwa kelompoknya berupaya mempertahankan seni tradisional sebagai identitas desa. “Kami ingin kembali ke tradisional. Kalau untuk kemewahan, kami tidak sanggup dari sisi pendanaan. Cara supaya kami dilirik orang adalah kembali ke tradisional. Makanya kami membuat sulam tapis dan menampilkan tari-tarian,” jelasnya.

 

Tarian yang ditampilkan antara lain Tari Tupping dan Sigeh Pengunten. Kostum yang digunakan memiliki ciri khas Lampung Selatan karena dibuat dari kelaras pisang dan daun-daunan. Kelompok seni yang dipimpinnya beranggotakan sekitar 56 orang, terdiri atas pelajar hingga ibu-ibu. Pada peringatan 17 Agustus, kelompok tersebut dapat menampilkan hingga 18 pertunjukan secara sukarela.

 

Farhan berharap pada kegiatan selanjutnya dapat penambahan sesi diskusi dan semakin banyak kegiatan yang optimal. “Perencanaan waktu dapat lebih terstruktur, ada penambahan sesi diskusi, dan promosi yang lebih luas agar peserta semakin banyak dan kegiatan lebih optimal,” tutupnya.

 

Fam Trip Desa Wisata Kelawi menjadi sarana untuk menampilkan hasil pendampingan sekaligus memperlihatkan kolaborasi antara masyarakat, pelaku seni, akademisi, dan mahasiswa dalam mengembangkan pariwisata desa. Dengan kekayaan budaya, potensi alam, serta dukungan program pendampingan dari institusi pendidikan dan BI, Desa Kelawi memiliki peluang untuk berkembang sebagai salah satu destinasi unggulan di Provinsi Lampung. (*)

 

 

Penulis : Natasya Rohimah, Adit Indra Lesmana


Penyunting : Heidy

 

Mahasiswa Ekbis Polinela, Didorong Bangun Budaya Ilmiah

 

Suasana di dalam Gedung Serba Guna POLINELA | Perssukma.id/Novia

Jurusan Ekonomi dan Bisnis (Ekbis) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengadakan studium general di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Acara dengan tema “Budidaya Ilmiah Unggul: Fondasi bagi Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kampus Berdampak” ini diselenggarakan pada Jumat, 21 November 2025. Menghadirkan Prof. Ir. I Gede Wenten, M.Sc., Ph.D., Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek) bidang riset dan pengembangan, sekaligus Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

 

Marlinda Apriyani, Ketua Jurusan (Kajur) Ekbis Polinela menyampaikan bahwa tema yang diusung merupakan cita-cita bersama untuk membangun budaya unggul di lingkungan akademik. “Tema ini bukan sekedar slogan, tetapi bentuk pikiran kritis yang ingin kita wujudkan bersama. Budaya ilmiah yang unggul bukan hanya soal kemampuan menghasilkan penelitian, tetapi juga bagaimana cara berpikir yang kritis, integritas akademik, keberanian berinovasi, serta kesediaan untuk berkolaborasi,” ujarnya.

 

Integritas dan ilmu pengetahuan menjadi dasar dalam bertindak, sementara teknologi diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan solusi bagi masyarakat. Melalui penguatan budaya penelitian, kampus diarahkan menjadi lingkungan yang mampu melahirkan solusi ilmiah dan teknologi yang dapat diterapkan secara nyata. Acara ini dihadiri oleh Sivitas Akademika Polinela, khususnya mahasiswa semester 5 Jurusan Ekbis.

 

Dalam pemaparan materinya, I Gede Wenten menegaskan bahwa perlunya mengejar ketertinggalan dalam teknologi dan inovasi di dunia akademik. “Kita perlu mengejar ketertinggalan dalam teknologi dan inovasi melalui budaya ilmiah yang kuat, riset yang berkelanjutan, serta karya yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Didukung konsistensi, integritas, dan kerja berbasis hati dalam dunia akademik agar menghasilkan karya yang dapat diterapkan secara nyata,” tegasnya.

 

Eko Win Kenali, Wakil Direktur (Wadir) IV Polinela menjelaskan bahwa di era globalisasi dan Revolusi Industri 4.0, kesigapan menghadapi tantangan serta peluang menjadi sesuatu yang penting. “Untuk mencapai kemajuan ilmu, pengetahuan, dan teknologi yang bermanfaat. Dalam nilai globalisasi dan revolusi industri 4.0, kita harus siap menghadapi tantangan serta peluang yang ada. Harapannya kita memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks di dunia,” ujarnya.

 

Penguatan budaya ilmiah menjadi bagian penting dalam mendukung program Kampus Berdampak. Mahasiswa dan dosen didorong untuk terlibat dalam kegiatan penelitian, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Selain itu, peningkatan mutu pendidikan, pelatihan, dan fasilitas kampus tetap menjadi perhatian agar lulusan siap bersaing di dunia kerja.

 

Fadli Nur Ramadhani, Mahasiswa Prodi Akuntansi Bisnis Digital (AKBD) mengatakan bahwa materi tentang penulisan karya ilmiah sangat memotivasi dirinya untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas. “Materinya sangat memotivasi untuk menghasilkan penelitian yang baik. Walaupun contoh materi beliau tidak linear dengan penyelenggara karena banyak membahas teknik sementara penyelenggara berasal dari Ekbis, tetapi perjalanan hidup beliau dan cara beliau menyelesaikan masalah sangat menginspirasi,” tutupnya. (*)

 

 

Penulis : Natasya Rohimah, Novia Faradiba


Penyunting : Jhon


 

Dukung Kegiatan Akademik dan Infrastruktur, Polinela Hadirkan Fresh Market serta Pembaruan Fasilitas Kampus

 

Kondisi terkini pembangunan fasilitas yang akan menjadi tempat penjualan produk pertanian | Perssukma.id /Amanah

Jurusan Budidaya Tanaman Pangan (BTP) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) tengah menyelesaikan pembangunan fasilitas yang akan menjadi tempat penjualan produk pertanian sekaligus ruang belajar praktik nyata bagi mahasiswa. Fasilitas ini, akan dinamai Fresh Market, yang merupakan bagian dari Program Revitalisasi Perguruan Tinggi Vokasi yang diterima oleh jurusan tersebut. 

 

Tujuan didirikannya fasilitas ini untuk penjualan produk pertanian seperti menyediakan buah, sayur, dan produk olahan berkualitas bagi civitas akademika Polinela dan juga berfungsi sebagai Teaching Factory (Tefa) untuk mata kuliah, seperti Pasar Panen dan Pemasaran. Fasilitas ini tidak hanya ditujukan untuk produk Jurusan BTP, tetapi akan menjadi pusat produk dari berbagai jurusan lain di Polinela. 

 

Desi Maulida, Koordinator Jurusan BTP menjelaskan bahwa program ini merupakan salah satu inisiatif dari Repitalisasi Perguruan Tinggi Vokasi dan juga Program yang bertujuan untuk memproduksi buah dan sayur yang telah tersertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). "Ini sebenarnya adalah salah satu program dari Repitalisasi Perguruan Tinggi Vokasi. Kami akan memproduksi buah dan sayur, dan rencananya sebagian akan dijual termasuk sayuran organik yang telah tersertifikasi oleh LSO,” ujarnya.

 

Selain fasilitas Tefa, Polinela juga sedang menambah kapasitas area parkir mahasiswa untuk menyesuaikan peningkatan jumlah kendaraan di lingkungan kampus. Pekerjaan pembangunan diarahkan pada sejumlah titik yang selama ini mengalami kepadatan, termasuk area di sekitar Gedung Kuliah Bersama (GKB) dan lokasi lain yang berpotensi digunakan sebagai kantung parkir tambahan. Upaya penataan kembali ini dilakukan agar akses keluar-masuk kendaraan dapat berjalan lebih teratur serta mampu menampung kebutuhan parkir dari gedung-gedung yang berada di sekitarnya.

 

Agassi, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Hortikultura menuturkan bahwa lahan parkir saat ini belum ideal dikarenakan pada beberapa area parkir seperti di sekitar GKB dan Gedung Sakura yang berpotensi digunakan sebagai area parkir tambahan. “Penambahan area parkir diperlukan karena kapasitas parkir di GKB belum mencukupi, beberapa area yang tidak semestinya digunakan untuk parkir masih dimanfaatkan contohnya di depan kantin GKB, dan lokasi di belakang Gedung Sakura juga berpotensi menjadi area parkir tambahan bagi gedung-gedung di sekitarnya,”

 

Agassi berharap dengan adanya penambahan lahan parkir membuat mahasiswa nyaman dan bisa lebih tertib dalam memakirkan kendaraanya. “Diharapkan penambahan lahan parkir dapat meningkatkan kenyamanan mahasiswa dalam memarkir dan mengambil kendaraan, disertai dengan pengaturan yang lebih tertib seperti penandaan jalur, bantuan pengaturan arus kendaraan oleh satpam, serta penerapan arus dua arah pada titik rawan macet,” harapnya.

 

Pembangunan gazebo baru di beberapa titik kampus juga turut menambah ruang terbuka bagi mahasiswa. Fasilitas ini ditempatkan di area yang sebelumnya minim tempat duduk atau tempat berteduh, sehingga kini dapat dimanfaatkan sebagai ruang istirahat, lokasi diskusi, maupun belajar kelompok. Dengan penambahan ini, Polinela kini memiliki enam gazebo.

 

Jeza Frandika, Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) mengatakan sebelum adanya gazebo, polinela minim tempat duduk dan berteduh untuk mahasiswa beristirahat dan berdiskusi. “Sebelum ada gazebo, area tersebut minim tempat duduk, sehingga mahasiswa sering kesulitan mencari tempat nyaman untuk beristirahat atau berdiskusi. Kini gazebo menjadi fasilitas yang paling sering digunakan untuk belajar kelompok, mengerjakan tugas, hingga rapat kecil,” tutupnya.(*)

 

 

Penulis : Amanah F Zahra, Devi Damayanti


Penyunting : Heidy

 

 

Polinela Hadirkan Materi Biochar pada Rangkaian Kedua Coffee Education 2025

 

Suasana di dalam Paviliun Kopi Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim, Bandar Lampung | Perssukma.id/ Yunika

Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan (BTP) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) menggelar talkshow bertema “Pengelolaan Limbah Tanaman Kopi (Biochar)” dalam rangkaian Lampung Fest Coffee Education 2025. Kegiatan dilaksanakan Selasa, 18 November 2025, di Paviliun Kopi Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim, Bandar Lampung.

Talkshow menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, Sismita Sari, serta Dosen Pengelolaan Perkebunan Kopi (PPK) Polinela. Acara ini dihadirkan oleh Mahasiswa Jurusan Perkebunan Polinela, perwakilan instansi, dan masyarakat umum.

Bela Ayu Pratiwi, Dosen Jurusan BTP menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan keilmuan kopi secara menyeluruh kepada masyarakat. “Salah satu Program Studi (Prodi) kita adalah PPK. Jadi di sini kita mengenalkan kepada masyarakat, tentang pengetahuan kopi yang mana dapat dipelajari dari hulu sampai hilir,” jelasnya.

Bela mengatakan tema pada acara biochar dipilih karena masih banyak limbah kopi yang belum dimanfaatkan oleh petani. “Umumnya petani hanya memanfaatkan bijinya saja. Padahal limbah seperti kulit kopi dapat diolah menjadi biochar yang dapat menyuburkan tanah dan memperbaiki lahan,” jelasnya.

Bela juga memaparkan bahwa tantangan terbesar dalam penerapan biochar adalah kurangnya pengetahuan petani mengenai pengolahan limbah. “Tantangannya adalah bagaimana mendampingi petani agar mereka mengetahui bahwa limbah kopi itu punya nilai guna. Banyak petani belum mengetahui caranya, sehingga diperlukan kegiatan pengabdian untuk memberikan pengetahuan,” ungkapnya.

Bela menambahkan bahwa mahasiswa turut mempraktikkan hilirisasi kopi melalui berbagai produk turunan. “Mahasiswa bukan hanya membuat biochar, tetapi juga produk lain seperti sabun kopi dan teh dari ranting kopi. Praktik tersebut masuk dalam hilirisasi yang dipelajari langsung oleh mahasiswa,” tambahnya.

Rizky Felix Apyhan, peserta acara Talkshow menyampaikan bahwa materi biochar membuka wawasan baru baginya terkait pemanfaatan limbah pertanian. “Materi tentang biochar menarik karena membahas pengolahan limbah. Limbah pertanian itu banyak, dan kadang tidak dimanfaatkan. Dari acara ini saya tahu bahwa kulit kopi yang biasanya dibuang bisa menjadi biochar yang bernilai ekonomis dan bermanfaat bagi tanah,” ungkapnya.

Rizky juga mengharapkan ilmu yang diperolehnya dapat membantu petani dalam mengelola limbah kopi. “Saya berharap ilmu yang saya dapat bisa disampaikan kepada petani. Karena masih banyak petani yang membuang kulit kopi hasil pengeringan padahal limbah tersebut bisa dimanfaatkan,” harapnya.

Talkshow ini merupakan rangkaian kedua dari tiga materi dalam Lampung Fest Coffee Education 2025. Materi pertama membahas budidaya kopi organik, sedangkan rangkaian ketiga akan mengangkat topik hilirisasi kopi. (*)


Penulis : Yunika Maritasari, Natasya Rohimah

Penyunting : Nayla

 

Cleanup Campus, Dorong Kepedulian Lingkungan Polinela

Aksi nyata peduli lingkungan oleh mahasiswa|Dok. Duta Lingkungan Polinela

Duta Lingkungan Politeknik Negeri Lampung (Polinela) memimpin inisiatif pemeliharaan kebersihan melalui kegiatan Cleanup Campus. Aksi ini melibatkan sinergi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Politeknik Pencinta Alam Lampung (Poltapala) dan Agen Lingkungan Muda (Aglim). Aglim merupakan program volunteer Mahasiswa Polinela yang dinaungi oleh Duta Lingkungan Polinela. Cleanup Campus bertujuan untuk mengedukasi dan mendorong Mahasiswa Polinela dalam menjaga kebersihan khususnya di lingkungan kampus. 

Cleanup Campus telah berlangsung pertama kali Sabtu, 15 November 2025 dan akan berlangsung secara rutin selama dua bulan sekali. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut didukung oleh Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), serta komunitas-komunitas yang ada di Polinela. 

Siti Rosanah, Anggota UKM Poltapala mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan kampus. “Makna dari kegiatan ini adalah menumbuhkan kepedulian lingkungan, mengajak seluruh warga kampus untuk lebih peduli pada kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar, juga kampus yang bersih membuat mahasiswa lebih nyaman belajar, beraktivitas, dan berinteraksi,” ungkapnya. 

Pada kegiatan Cleanup Campus pertama ini, panitia melakukan peninjauan di sejumlah titik. Terkhususnya area dengan intensitas aktivitas mahasiswa tinggi dan lokasi yang kerap menjadi tempat penumpukan sampah, yang akhirnya menjadi dasar penentuan area pembersihan untuk menjadi acuan lokasi pembersihan.

A. Revany Nugraha Sesunan, Duta Lingkungan Polinela, menuturkan penentuan lokasi pembersihan dilakukan berdasarkan survei awal. “Ini adalah Program Kerja (Progja) dari Duta Lingkungan Polinela yang dimana insyaallah akan dilaksanakan dua bulan sekali. Hal ini dikarenakan banyak sekali sampah yang tidak dibuang pada tempatnya. Kami sempat survei ke beberapa spot contohnya kantin dan Sekret HMJ,” ujarnya. 

Revany juga menyinggung keberadaan tempat sampah yang minim di Polinela. “Mahasiswa terkadang ingin membuang sampah pada tempatnya, namun di Polinela sekarang minim tempat sampah. Jadi saya harap pihak akademik dapat memfasilitasi kotak sampah dan jika perlu diberikan stiker himbauan, agar mahasiswa tidak membuang sampah sembarangan,” singgungnya.

Inayatul Husna, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Pangan (AGBP) menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena menyadarkan mahasiswa untuk menjaga kebersihan lingkungan. “Sangat bagus kegiatannya karena banyak manfaat yang didapat. Serta dapat menyadarkan diri sendiri bahwa,” katanya.

Siti berharap kegiatan ini dapat membangun budaya peduli lingkungan di Polinela. “Semoga ke depannya Warga Polinela lebih peduli terhadap lingkungan kampus, tidak membuang sampah sembarangan. Pastinya menyadarkan kepada seluruh Warga Polinela bahwasannya lingkungan yang nyaman itu di ciptakan oleh warganya sendiri,” tutupnya. (*)

 

Penulis: Zaitun Nur Hannifah, Novia Faradiba

Penyunting: Jhon

 

Polinela Fair 2025 Berakhir, BTP Jadi Juara Umum

 

Foto bersama mahasiswa jurusan BTP di dalam GSG POLINELA | Perssukma.id/Dliyaul Haq

Acara tahunan Politeknik Negeri Lampung (Polinela) Fair 2025, sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa. Melalui berbagai perlombaan antar jurusan, kegiatan ini telah berakhir pada Jumat, 14 November 2025, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.

 

Iskandar Ibnu Failis, Wakil Presiden (Wapres) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Polinela sekaligus Penanggung Jawab (PJ) kegiatan ini mengatakan dampak terbesar yang dapat diperoleh adalah membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri. "Dampak terbesarnya, kita benar-benar membantu mahasiswa bagaimana caranya mereka percaya diri untuk mengikuti setiap event yang akan dilaksanakan ke depannya, karena pengalaman itu sangat penting," katanya.

 

Pada Polinela Fair 2025, Jurusan Budidaya TanamanPerkebunan meraih juara umum dan Berikut daftar lengkap pemenang lainnya:

 

Mobile Legends (ML):

- Juara I: Pariwisata (PW)

- Juara II: Manajemen Informatika (MI)

- Juara III: Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL)

 

Badminton:

- Juara I: Teknologi Pembenihan Ikan

- Juara II: Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura

- Juara III: Teknologi Pangan

 

Solo Song:

- Juara I: Rachel Ebennia

- Juara II: Vica

- Juara III: Dwi Ramdhan

 

Futsal:

- Juara I: Agribisnis Peternakan

- Juara II: Teknologi Rekayasa Elektro (TRE)

- Juara III: Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI)

 

Debat:

- Juara I: TRPL

- Juara II: Budidaya Tanaman Perkebunan

- Juara III: Agribisnis Pangan

 

Parade:

- Juara I: Budidaya Tanaman Perkebunan

- Juara II: Teknik

- Juara III: Perternakan

 

Iskandar menjelaskan bahwa ada salah satu momen paling berkesan dalam penyelenggaraan tahun ini, yaitu adanya lomba parade yang melibatkan jurusan- jurusan di Polinela. "Ada satu perlombaan yang memang berhasil kita adakan yaitu parade. Di tahun-tahun sebelumnya belum ada parade tersebut, tapi di tahun ini berhasil mengadakan dengan lima jurusan yang mengikuti," tambahnya. 

 

Fajri Rizki, Mahasiswa Program Studi (Prodi) TRKI mengungkapkan rasa syukurnya setelah berhasil meraih gelar juara ketiga futsal di Polinela Fair. "Tentunya sangat senang, apalagi ini semester terakhir kita di kampus. Alhamdulillah banget bisa dapat juara untuk Prodi ini, untuk semua mahasiswa TRKI khususnya,"  ujarnya.

 

Fajri juga memberikan masukan kepada panitia agar lebih mempersiapkan fasilitas dan peralatan perlombaan. "Semoga lebih dipersiapkan lagi untuk alat-alat seperti kemarin kami lomba futsal. Dipersiapkan lagi lebih matang untuk alat-alat bolanya dan sebagainya. Intinya ke depannya fasilitasnya lebih baik lagi," tambahnya.

 

Aitama Boda Sidabutar, Mahasiswa Prodi Produksi Manajemen Industri Perkebunan (PMIP) sekaligus juara dua lomba debat mengungkapkan rasa senang karena kemenangan, tetapi juga sempat merasa kurang percaya diri. "Rasanya pertama senang dan bersyukur. Di mana kita bersaing secara beda angkatan, jadi kadang kurang percaya diri juga karena lawan kita angkatan baru," ungkapnya.

 

Aitama menyarankan agar peserta yang belum beruntung tahun ini terus mengevaluasi setiap langkah. "Pertama, setiap langkah yang dilakukan kita evaluasi dan perbaiki. Yang kedua tetap semangat, jangan putus asa. Yang ketiga terus belajar dari apa yang sudah dilakukan, jadi suatu kesalahan kita belajar dari situ dan diperbaiki supaya langkah kita berikutnya lebih baik lagi," sarannya.

 

Polinela Fair 2025, sebagai ajang yang memfasilitasi pengembangan bakat mahasiswa, mempererat tali silaturahmi antar jurusan, dan memberikan pengalaman berharga yang tidak terlupakan bagi seluruh peserta dan panitia.

 

Iskandar mengucapkan terima kasih kepada seluruh KBM Polinela yang telah berpartisipasi dalam mengikuti kegiatan ini. "Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat seluruh Mahasiswa KBM Polinela yang telah ikut berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini, yang mana acara ini menyatukan kita dalam KBM, silaturahmi yang erat, serta bisa menjadikan acara-acara ke depannya lebih baik lagi," tutupnya. (*)

 

 

Penulis : Dliyaul Haq Subadra, Hafid


Penyunting : Heidy

Polinela Adakan GERMAS, Dorong Budaya Hidup Sehat di Kampus

 

Mahasiswa sedang antri untuk cek kesehatan di depan Gedung Kuliah Bersama POLINELA | Perssukma.id/Yudishtira


Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Pelantara Gedung Kuliah Bersama (GKB) sebagai pengganti Apel, pada Jumat, 14 November 2025. Kegiatan yang diikuti Jurusan Teknologi Informasi (TI) dan Jurusan Peternakan yang bertujuan menumbuhkan kesadaran sivitas akademika tentang pentingnya pola hidup sehat.

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Polinela dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045. Rangkaian kegiatan GERMAS ini mencakup senam bersama serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk memitigasi kondisi kesehatan mereka. 

 

Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) III Polinela mengatakan program ini bagian gerakan dari kementrian. “Program GERMAS sebenarnya merupakan gerakan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan sebagai insan pendidikan kita mendukungnya, salah satunya melalui ini. Insyaallah ke depan akan berlanjut ke jurusan-jurusan lainnya, baik di tingkat jurusan maupun unit lain, dan rangkaian kegiatannya sudah kita siapkan,” ujarnya.

 

Kegiatan ini merupakan yang pertama dilaksanakan. Pada pelaksanaannya Korps Sukarela (KSR) Polinela menjadi leading sector-nya karena dekat dengan bidang kesehatan dan bekerja sama dengan Klinik Polinela.

 

Agung memberikan pesan bahwa kesehatan merupakan salah satu investasi dan dari kegiatan ini dapat menyadarkan pentingnya hidup sehat. “Investasi kesehatan itu akan terasa mahal ketika kita sudah sakit, maka akan lebih bijak jika kita mempersiapkan sejak masih sehat. Mudah-mudahan kegiatan ini menyadarkan kita semua bahwa kita harus hidup sehat, banyak bergerak, dan menjaga tubuh,” pesannya.

 

Hendra Agus Loriko, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Informatika (MI) mengatakan kegiatan ini dapat membangun kebiasaan hidup sehat. “Kegiatan seperti senam dan pemeriksaan kesehatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Selain menjaga tubuh tetap aktif, ini juga membantu kami membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini,” katanya.

 

Aditya Tampubolon, Mahasiswa Prodi MI juga mengatakan bahwa kegiatan ini penting karena bermanfaat bagi kesehatan mahasiswa. “Kegiatan ini sangat penting karena bermanfaat untuk mengubah mindset mahasiswa agar lebih mau berolahraga. Olahraga ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga baik untuk kesehatan mental mahasiswa, sehingga secara keseluruhan berdampak positif bagi kebugaran dan kesehatan mahasiswa,” ujarnya.

 

Pelaksanaan GERMAS di Polinela, menandai langkah awal institusi dalam memperluas kegiatan promotif dan preventif di lingkungan kampus. Melalui sinergi antara KSR Polinela, Klinik Polinela, dan sivitas akademika lainnya, kegiatan ini rencananya akan menjadi bagian dari upaya rutin untuk mendukung kesehatan seluruh sivitas akademika.

 

Hendra berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan dua bulan sekali diselingi apel, agar tercipta lingkungan yang sehat antar mahasiswa. “Karena dilihat semester ini banyak sekali kegiatan yang melelahkan, alangkah baiknya jika kegiatan Apel Jumat diselingi dengan kegiatan olahraga ini. Dengan pola yang diselingi seperti itu, dapat tercipta lingkungan yang lebih sehat dan aktif di kalangan mahasiswa,” tutupnya. (*)

 

 

Penulis : Wahyu Sani, Adi Suti Martin


Penyunting : Nayla

Semangat dan Solidaritas, Bangkitkan Api Juang di Polinela Fair 2025

 

Suasana Pertandingan Badminton di Gedung Serba Guna POLINELAq | Perssukma.id/ Dok. BEM KBM Polinela

Ajang perlombaan tahunan Politeknik Negeri Lampung (Polinela) Fair 2025 kembali digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Polinela. Kegiatan ini berlangsung sejak Senin, 3 November hingga puncaknya nanti pada 13 November 2025. Mengusung tema “Bangkitkan Api Juang, Rajut Kebersamaan, Berbeda Langkah Satu Tujuan”, acara ini bertujuan untuk mencari bakat dan keterampilan mahasiswa, sekaligus memperkuat tali silaturahmi serta menjalin kebersamaan antar Program Studi (Prodi) maupun Jurusan di Polinela.

Handika Setiadi, Ketua Pelaksana (Ketuplak) Polinela Fair2025 menjelaskan bahwa tema tersebut diambil sebagai bentuk membangkitkan semangat mahasiswa. "Tema tersebut diambil untuk membangkitkan semangat membara mahasiswa muda dan menekankan pentingnya kerja sama tim dari setiap jurusan atau prodi. Dan juga untuk memperkuat tali silaturahmi serta merajut kebersamaan di KBM Polineladengan ajang mencari bakat dan keterampilan mahasiswa," jelasnya. 

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Olahraga (UKMO), Polinela Fairtahun ini dijalankan secara mandiri oleh BEM. Kegiatan tersebut menghadirkan tujuh cabang perlombaan, yaitu badminton, futsal, voli putra, solo song, debat, Mobile Legends, dan parade antar jurusan.

Iskandar Nufailis, Wakil Presiden (Wapres) KBM Polinela mengungkapkan bahwa Polinela Fair telah diselenggarakan secara tahun ke tahun. "Tahun ini Polinela Fair 2025 memiliki beberapa perbedaan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut yaitu menghadirkan perlombaan debat namun meniadakan orasi, yang sebelumnya ada pada Polinela Fair. Karena memang kita juga melihat permintaan juga dari beberapa Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) untuk melihat kekompakan dari jurusan-jurusan juga," ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama perlombaan, seperti tindakan anarkis atau perkelahian, panitia menetapkan peraturan tegas dengan sanksi diskualifikasi bagi pelanggar. Aturan mengenai suporter dan teknis perlombaan juga telah disepakati serta ditandatangani oleh Wakil Direktur (Wadir) III, Pembina BEM, dan Presiden Mahasiswa (Presma) sebagai bentuk komitmen menjaga ketertiban serta sportivitas acara.

Thomas Herbintang, Mahasiswa Prodi Prikanan Tangkap menilai kegiatan ini penting sebagai sarana kebersamaan dan penyegaran di luar kegiatan akademik. “Penting banget, karena di sini ada perlombaan juga kekeluargaannya. Ditambah ada juga yang ke kampus itu cuma kelas aja gada kegiatan atau kumpulan-kumpulan itulah ya kalau kayak gini lebih seru,” ujarnya.

Iskandar berharap kepada seluruh Mahasiswa Polinela untuk menjadi satu dalam menjaga kekompakan dan solidaritas. “Mau lembaga, mau UKM, semua itu sama. Kita harus benar-benar menjaga kekompakan dan solidaritas. Jangan sampai malah acara ini menimbulkan gesekan-gesekan yang tidak ada artinya. Intinya saya mau seluruh mahasiswa ini merasa bahwa kita ini benar-benar satu dan benar-benar kompak,” tutupnya. (*)

 

Penulis : Ningrum, Shofa Desmalia

Penyunting : Jhon

 

Jalan di Area Kampus Polinela, Mulai Diperbaiki

 

Perbaikan jalan di depan Gedung Serba Guna Polinela | Perssukma.id/Dok. UKM Pers Sukma 

Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mulai melakukan perbaikan jalan di area jalan utama kampus sejak 1 November 2025. Pengerjaan difokuskan pada titik-titik yang mengalami kerusakan parah dan dilakukan dengan metode tambal sulam.

Leo, salah satu pekerja lapangan menyampaikan bahwa kegiatan perbaikan ini sudah dimulai sejak awal bulan november dan ditargetkan rampung dalam waktu satu minggu. “Perngerjaannya mulai dari kemarin, baru dijalankan minggu ini dan rencananya akan selesai dalam waktu seminggu,” ujarnya.

Seperti diketahui, beberapa titik jalan utama di area kampus mengalami kerusakan yang cukup mengganggu aktivitas mahasiswa. Kondisi jalan yang berlubang dan berpasir kerap dikeluhkan pengguna kendaraan karena dapat membahayakan, terutama saat volume kendaraan tinggi.

Leo menjelaskan bahwa perbaikan ini hanya dilakukan di beberapa titik yang mengalami kerusakan parah, mulai dari jalur dua gerbang utama hingga jalur dua jalan baru di bagian belakang Polinela. “Perbaikan atau penambalan jalan ini dilakukan pada titik jalan yang memang sudah rusak parah, seputaran jalan ini sampai jalur dua yang bagus itu,” jelasnya.

Leo juga menambahkan bahwa perbaikan kali ini hanya bersifat tambal sulam, bukan pengaspalan ulang secara menyeluruh. “Ini tambal sulam saja, bukan benerin semua. Jadi yang rusak-rusak aja kita tambal,” tambahnya.

Naufal Arief Rahman, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) mengatakan bahwa metode perbaikan ini kurang maksimal. “Sebenarnya ini kurang maksimal karena kalau buat nambal jalan ini aja, nanggung sih kalau menurut saya. Mending sekalian aja dibongkar semua, diaspal ulang. Soalnya kalau ditambal itu kadang tidak rata, nanti rusak lagi juga,” ujarnya.

Berbeda dengan Naufal, Satria Divo Praditya, Mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Internet (TRI) justru menilai perbaikan jalan ini sebagai langkah positif yang dapat membantu mengurangi kemacetan saat jam padat. “Kalau menurut saya sangat baik sekali ya. Ini bisa jadi langkah perbaikan dan solusi. Soalnya kalau pas apel Senin atau Jumat, kendaraan kan membludak banget. Salah satu penyebab macet ya karena jalan,” ujarnya.

Menurut Leo, Perbaikan jalan ini merupakan program rutin yang diadakan setiap tahun di dalam lingkungan kampus. “Perbaikan jalan ini setau saya biasanya rutin tiap tahun, dan mungkin tahun depan juga paling ada lagi,” tambahnya.

Satria berharap perbaikan ini dapat meningkatkan kenyamanan dan kelancaran aktivitas di kampus. “Saya berharap dengan adanya perbaikan jalan ini, mobilitas mahasiswa jadi lebih baik lagi. Terutama pada saat volume kendaraan meningkat, dapat mempelancar dan mengurangi macet,” tutupnya. (*)

 

Penulis : Nando Atmajaya, Nayla Putri Syafira A


Penyunting : Rizky