![]() |
| Dokumentasi narasumber hari kedua bersama dengan sivitas akademika |Perssukma.id/ Nando Atmajaya |
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menggelar Seminar Nasional bertema “Peran Mahasiswa dalam Inovasi Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat, 16–17 Oktober 2025, di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.
Seminar
ini dihadiri oleh delapan narasumber dari berbagai instansi, di antaranya
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Staf Ahli Bidang Maritim Kementerian
Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., ORGP., CGRE., serta
perwakilan dari Badan Pelatihan Pertanian, Dr. P. Adi Destriadi Sutisna, S.P.,
M.P. Kegiatan tersebut membahas program ketahanan pangan nasional yang menjadi
prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, salah satunya melalui
pengembangan Program Swasembada Pangan.
Yogi Saputra, Menteri Pendidikan BEM KBM Polinela sekaligus Steering Committee pelaksana, mengatakan bahwa latar belakang kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa harus memiliki pemahaman dan kontribusi nyata terhadap isu pangan nasional. “Latar belakang dari kegiatan ini, yaitu kami ingin kita sebagai mahasiswa harus paham tentang apa itu ketahanan pangan. Dalam hal ini, sama saja kita sudah berkontribusi kepada pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Kegiatan ini menyoroti bahwa isu ketahanan pangan telah menjadi bagian dari kebijakan strategis pemerintah. Hal ini tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga mengembangkan program prioritas bernama KSPP (Kawasan Sentra Produksi Pangan) atau Lumbung Pangan yang tersebar di berbagai daerah. Program ini dijalankan secara lintas sektor dan lintas stakeholder, melibatkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat kemandirian pangan nasional.
Menurut Yogi, generasi muda memiliki peran strategis dalam mendukung visi Indonesia Emas. Ia menegaskan bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan yang harus mampu berinovasi dalam bidang pertanian dan pangan. “Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya pangan, dan generasi muda adalah salah satu tonggak dari Indonesia Emas 2045. Kita adalah agent of change yang harus bisa berperan dalam ketahanan pangan,” tegasnya.
Sementara itu, Sugeng Santoso, perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, menjelaskan bahwa program ketahanan pangan Presiden Prabowo merupakan bagian dari perencanaan strategis nasional. “Program ini mencakup pengembangan KSPP dan penerapan blue economy yang mengintegrasikan sektor darat dan laut. Tujuannya meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian serta memperkuat indeks ketahanan pangan nasional dari waktu ke waktu,” jelasnya.
Sugeng menambahkan bahwa pemerintah melihat sektor laut dan darat memiliki peran yang sama pentingnya dalam mendukung ketahanan pangan di Indonesia. “Pemerintah melihat bahwa sektor laut dan darat memiliki peran yang sama pentingnya. Salah satu aspek yang dijaga adalah ketersediaan protein, terutama protein hewani dari laut, yang berperan besar dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat,” tambahnya.
Meski menyambut baik rencana tersebut, Yogi mengakui bahwa terdapat tantangan fundamental di lapangan yang dapat menghambat inovasi. Ia menilai bahwa kendala infrastruktur menjadi hambatan terbesar bagi mahasiswa dalam mengembangkan ide dan inovasi di sektor pangan. “Menurut saya, tantangan terbesar dalam mendukung hal ini di kalangan mahasiswa adalah keterbatasan akses seperti jalan dan fasilitas lainnya,” pungkasnya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa persoalan ketahanan pangan bukan hanya soal produksi dan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menyangkut kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Dukungan terhadap pendidikan, riset, serta penerapan teknologi di bidang pertanian menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, perlu adanya sinergi antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat agar berbagai inovasi yang dihasilkan mahasiswa dapat diterapkan secara nyata di lapangan dan memberikan dampak berkelanjutan bagi ketahanan pangan Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan oleh Maulana Fauzan, mahasiswa peserta seminar yang menilai bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa jauh lebih kompleks, mencakup faktor iklim, pertumbuhan penduduk, hingga minimnya dukungan pengetahuan masyarakat. “Kendala paling krusial, menurut saya, adalah kesejahteraan pengetahuan, karena kebanyakan rakyat Indonesia masih minim pendidikan dan pemahaman tentang pangan. Ditambah lagi faktor iklim dan dukungan dalam pendidikan memengaruhinya,” paparnya.
Meski demikian, Maulana menjelaskan bahwa mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi pengamat, tetapi juga harus tampil sebagai agen perubahan yang membawa solusi nyata. “Mahasiswa dipandang sebagai agen perubahan yang dapat memberikan kontribusi signifikan, seperti menjadi inovator, pengembang teknologi, edukator, dan advokat. Menurut saya, kampus sudah cukup terbuka, seperti adanya Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan penyuluhan ke masyarakat. Namun, fasilitas ini tidak akan efektif tanpa inisiatif dari mahasiswa sendiri,” jelasnya.
Yogi berharap hasil seminar ini tidak berhenti di ruang diskusi, melainkan dapat diterapkan secara nyata. “Harapan saya, para peserta mampu melek terhadap isu pangan dan mulai mendorong munculnya inovasi baru yang bisa dikembangkan. Bisa dimulai dari desanya masing-masing,” tutupnya. (Rizky)
Penulis: Nando Atmajaya, Shafiyah Azzahra Izzatina
Penyunting : Rizky

Tidak ada komentar:
Posting Komentar