Beranda

Formaban Polinela Tegaskan Isu Iuran 500 ribu Hoaks


 
Penyebar Hoax Mengatasnamakan  Formaban Polinela | Perssukma.id/ Pers SUKMA


Sabtu, 27 September 2025, Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela), khususnya penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) skema 1, digemparkan dengan munculnya pesan permintaan iuran wajib Rp 500.000 ketika dana KIP-K cair. Pesan tersebut dibagikan melalui chat WhatsApp dan dikirimkan secara pribadi kepada Mahasiswa Polinela.

(sebagian) pesan tersebut berisi:

✨ Pemberitahuan kepada PENERIMA BEASISWA BIDIKSIDA KIP K POLINELA SKEMA 1 ANGKATAN 21,22,23,24,25 ✨

 Diwajibkan ‼️kepada teman -teman penerima beasiswa bidiksida KIP-k skema 1 untuk saling bekerja sama membayar   bela upah dari kami FORMABAN POLINELA Sebesar 500.000 pada saat pencairan melalui nomer di bawah 👇

Ttd.Ketua Umum Formaban 2024/2025

Menanggapi hal tersebut, Sidiq Jaya Laksana, Ketua Forum Mahasiswa Bantuan (Formaban) Polinela menegaskan bahwa bahwa isi pesan tersebut tidak benar atau hoax. “Yang pertama pasti kaget ya karna beredarnya chat yang mengatas nama kan formaban dalam melakukan tindakan yang tidak benar, dan untuk hal tersebut bisa kami dari formaban memastikan bahwasannya hal tersebut hoax. Serta, kami tidak pernah memiliki anggota atas nama Natasya Qisty yang mengaku sebagai anggota keuangan seperti yang ada di chat,” tegasnya.

Sidiq menambahkan, terkait iuran atau kas Formaban memang benar adanya, namun tidak sebesar nominal yang disebutkan, dan informasi resmi selalu disampaikan melalui Penanggung Jawab (PJ) tiap Program Studi (Prodi). “Kemudian kami juga tidak pernah memungut uang mahasiswa KIP-K sebesar Rp 500.000 yang menyebutkan ‘uang terimakasih’. Memang ada kas wajib yang harus dipenuhi oleh mahasiswa kip namun tidak sebesar itu, dan semua informasi terkait pemungutan kas wajib tidak pernah kami sampaikan secara pribadi melainkan melalui PJ Prodi masing-masing atau grup mahasiswa KIP-K nya langsung,” tambahnya.

Diketahui, kas wajib Formaban Polinela hanya sebesar Rp 75.000 tiap semester. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Formaban Polinela, dana tersebut digunakan untuk membiayai berbagai Program Kerja (Progja), seperti Sosma Peduli untuk membantu mahasiswa yang terkena musibah, Apresmatif sebagai bentuk penghargaan bagi mahasiswa berprestasi akademik maupun nonakademik, serta kegiatan pengembangan lain seperti seminar.

Sidiq juga mengimbau mahasiswa KIP-K Polinela agar lebih teliti dan berhati-hati terhadap informasi yang mengatasnamakan Formaban. “Untuk langkah yang diambil oleh formaban kami akan melakukan pencarian terkait pemilik nomor hp yang menyebarkan hoax tersebut, dan menghimbau kepada Mahasiswa KIP-K Polinela untuk dapat lebih teliti dan hati-hati terkait dengan informasi yang diterima yang mengatasnamakan Formaban Polinela,” tutupnya. (*)

Penulis : Novia Faradiba, Adit Indra Lesmana

Penyunting : Rizky

Generasi Z Polinela Disiapkan untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

 

Suasana di Lapangan Belakang Gedung Serba Guna Polinela | Perssukma.id/ Yudishtira

Jumat, 26 September 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar Seminar Kebangsaan Empat Pilar. Acara dengan tema “Kreatif, Inovatif, Berkarakter: Mahasiswa Polinela sebagai Pelopor Pengamalan Empat Pilar Kebangsaan” ini dilaksanakan di Lapangan Belakang Gedung Serba Guna (GSG) Polinela.

Acara dibuka oleh Agung Adi Chandra, Wakil Direktur (Wadir) 3 Polinela. Seminar ini menghadirkan Jihan Nurlela, Wakil Gubernur Provinsi Lampung, Putri Zulkifi Hasan, Wakil Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), serta Bagus Eka Saputra, Presiden Mahasiswa (Presma) Polinela. Diskusi berfokus pada empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Muhammad Fathur Risky Al Ghozy, Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) BEM KBM Polinela, menuturkan bahwa masih banyak mahasiswa yang belum memahami empat pilar kebangsaan. “Mahasiswa Polinela sekarang banyak yang masih kurang paham tentang empat pilar kebangsaan, Mahasiswa kurang kesadaran mengenai kedamaian NKRI,” ujarnya.

Menurut Ghozy, hal itu disebabkan berbagai tantangan yang harus dihadapi. “Tantangan pertama adalah mahasiswa sulit menghadapi arus informasi yang negatif. Kedua, melawan politik identitas dan korupsi. Ketiga, mengawal proses demokrasi. Dan terakhir, mempertahankan Bhinneka Tunggal Ika,” lanjutnya.

Dalam seminar tersebut, Jihan Nurlela menjelaskan bahwa Pancasila sebagai salah satu pilar harus diposisikan sebagai dasar yang tidak boleh dirusak dan ditinggalkan. Semua sila dalam Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ia berpesan agar Mahasiswa Polinela memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan. “Mahasiswa harus mengenal dengan menghafalkan dan mengimplementasikan empat pilar kebangsaan. Selama paham, kita dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang jelas Mahasiswa harus melakukan yang terbaik selama menjadi Mahasiswa. Jika di kemudian hari menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin yang hebat,” pesannya.

Raka Adhia, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) menilai acara ini sangat bermanfaat, terutama bagi Generasi Z (Gen Z) yang akan berperan penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Acara ini berguna, terutama untuk Gen Z, karena mungkin sangat dibutuhkan menuju Indonesia Emas 2045, mungkin membuat diri kita maju untuk kedepannya. Agar Indonesia tidak menjadi Indonesia Cemas,” ujarnya.

Raka menambahkan, seminar ini sangat tepat bagi Mahasiswa Baru (Maba) Polinela karena dapat membantu pembentukan karakter. “Perannya sangat penting untuk Mahasiswa dari banyak materi yang disampaikan, terutama Maba agar menjadi contoh yang baik dari Mahasiswa,” tutupnya. (*)

Penulis : Heidy Putri Shafira, Yudishtira Falahulhelmi

Penyunting : Rizky

Embung Polinela, Spot Healing Mahasiswa Polinela

 

Suasana Sore Hari di Embung Polinela |Perssukma.id/ Liyana


Embung Politeknik Negeri Lampung (Polinela) hadir sebagai ruang alternatif bagi mahasiswa untuk healing dan melepas penat dari rutinitas perkuliahan. Tidak hanya berfungsi sebagai sarana penampungan air, embung ini juga menjadi destinasi multifungsi yang dimanfaatkan civitas akademika sebagai tempat beristirahat, berdiskusi, hingga menyelesaikan tugas kelompok.

Tempat ini menghadirkan suasana tenang, jauh dari hiruk pikuk aktivitas ruang kelas. Mahasiswa kerap datang ke embung dengan berbagai tujuan. Ada yang sekadar duduk sambil menikmati pemandangan sawah dan gedung kampus, ada pula yang memanfaatkannya untuk berdiskusi santai maupun menyelesaikan tugas kelompok. Embung ini tidak hanya menjadi fasilitas penunjang, tetapi juga ruang terbuka yang berfungsi sebagai tempat pemulihan diri.

Setiap sore, embung terlihat ramai dikunjungi mahasiswa. Terlihat beberapa mahasiswa duduk santai di pinggir embung, berbincang ringan, atau menikmati pemandangan. Ada juga yang sekadar melamun atau ngopi sambil menunggu sunset, sehingga embung menjadi tempat favorit untuk melepas penat setelah perkuliahan.
Anggi Rahman, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengelolaan Agribisnis (PAGB) mengungkapkan bahwa dengan adanya area embung di kampus memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan akademik dan kesejahteraan dirinya serta mahasiswa lain. “Embung ini punya peran penting buat kegiatan akademik dan kesejahteraan saya serta mahasiswa di Polinela ini. Bukan cuma tempat biasa, embung ini juga ruang yang kasih ketenangan dan kesejukan. Cocok banget buat lari, ngerjain tugas, atau sekadar bersantai,” ujarnya.

Anggi juga menekankan pentingnya pengembangan fasilitas di area embung untuk meningkatkan kenyamanan, seperti menambahkan kursi di sekeliling embung sehingga mahasiswa bisa lebih mudah bersantai. “Saya harap fasilitas di embung bisa lebih dikembangkan. Misalnya, ditambahin kursi di sekelilingnya biar kita gampang kalau mau santai. Kalau bisa, ada lebih banyak penjual juga biar suasananya makin ramai dan hidup,” tambahnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Alif Adityansyah, Mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) yang mengatakan embung merupakan tempat yang sering ia kunjungi. karena menawarkan suasana yang tenang dan nyaman walau hanya sekedar ngopi atau melamun. “Embung adalah tempat yang sering saya kunjungi, bahkan setiap hari. Saya memilih tempat ini karena suasananya yang tenang dan nyaman, sangat efektif untuk mengurangi stres. Untuk menghilangkan penat, saya biasanya duduk santai, ngopi, atau bahkan melamun,” ujarnya.

Alif juga menyampaikan saran agar mahasiswa maupun pengunjung menjaga kebersihan embung. "Sarannya ya lebih dijaga saja kebersihannya buat embung ini. Seperti kita di sini kan bareng-bareng gitu pakainya, maksudnya fasilitas umum gitu. Dijaga aja kebersihannya sama jangan ngerusak fasilitas, itu aja.” jelasnya.

Lilik Setiono, pensiunan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Hortikultura yang kini mengelola kafe di sekitar embung menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan area embung.“Minimal, kita sebagai pengunjung bisa membawa kantong plastik untuk membuang sampah dengan benar. Sebagai upaya menjaga kebersihan, pihak pengelola telah memasang papan larangan membuang sampah sembarangan. Selain itu, diberlakukan aturan seperti larangan masuk kendaraan bermotor dan larangan duduk di pagar embung untuk menghindari potensi bahaya,” tekannya.

Buhori, Mahasiswa Prodi Budidaya Perikanan (BDP) berharap agar ke depannya diberikan tambahan fasilitas pendukung seperti gazebo atau pohon-pohon besar di sekitar embung. “Harapannya bisa ditambahkan fasilitas pendukung di pinggir embung seperti gazebo atau tempat duduk untuk berteduh karena belum ada pepohonan besar, jadi panas,” tutupnya.

Saat ini, pengelolaan embung belum memiliki petugas khusus. Namun, tanggung jawab perawatan berada di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun yang secara rutin melakukan pembersihan, seperti membabat rumput dan menjaga kerapian lingkungan embung. (*)

Penulis : Amanah F Zahra,Liyana Syafiqa

Penyunting : Nayla


Kopi Tujuan Akhir, Tempat Nongkrong Baru Mahasiswa Polinela

Suasana Kafe Tujuan Akhir, coffee shop baru yang dikelola mahasiswa Polinela|Perssukma.id/Yudishtira Falahul H


Berawal dari sebuah candaan dua Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengembangan Produk Agroindustri (PPA) Politeknik Negeri Lampung (Polinela), kini lahirlah "Tujuan Akhir". Sebuah coffee shop unik yang hadir di dalam kampus, bukan sekadar menjual kopi, kafe ini mengusung konsep konservasi hutan yang menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa tentang kopi dan pelestarian lingkungan.

Fitra Satria, salah satu pendiri kafe Tujuan Akhir menjelaskan bahwa ini bukan hanya sekedar kafe untuk nongkrong saja, melainkan sebagai media belajar. “Pohon kopi ditanam bersamaan dengan pohon-pohon lain tanpa menebang pohon yang ada. Jadi, bukan sekadar secangkir kopi yang kami jual, tetapi lebih dari itu dari Coffee dan Cerita, lalu Cinta dan Kasih. Tempat ini juga menjadi media belajar dan mengajar bagi pengunjung yang ingin mengenal kopi lebih jauh," jelasnya.

Kafe ini beroperasi setiap hari mulai pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) hingga 21.30 WIB, menyesuaikan dengan jadwal kuliah mahasiswa. Lokasinya yang berada di dalam Kampus Polinela, tepatnya di Kolam Pemancingan atau Agro Edutourism, Polinela. Memudahkan mahasiswa mengaksesnya tanpa harus pergi jauh, sekaligus tetap menjaga produktivitas akademik.

Ghalif Lamso Afrizal, Mahasiswa Agribisnis Peternakan (AGRIPET) memberikan tanggapan bahwa suasana tempat ini dibuat nyaman dan santai untuk mendukung produktivitas mahasiswa. “Suasana di sini nyaman dan santai. Saya bisa mengerjakan tugas, berdiskusi, dan tetap menikmati kopi dengan harga yang sesuai kantong mahasiswa. Ini sangat membantu bagi kami yang ingin tetap produktif di kampus,” ungkapnya.

Menu kopi dan makanan di Tujuan Akhir beragam, diantaranya Brown Sugar Coffee, Mix Platter, Iced Honey Latte yang memadukan kopi dan madu, serta Cascarala dari kulit kopi dan pala, serta menu spesial sesuai pilihan pengunjung. Kafe ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar sekaligus bersantai.

Achmad Rifaldi, pengunjung menilai bahwa kafe ini memberi tempat bersantai dan mengerjakan tugas yang nyaman. “Keberadaan kafe ini memberi alternatif bagi mahasiswa untuk nongkrong dan mengerjakan tugas dekat kampus. Semangat para pendiri yang merintis dari nol juga menginspirasi. Jika cita rasa dan dekorasi terus dikembangkan, saya yakin kafe ini akan semakin menarik pengunjung," ucapnya.

Fitra menambahkan bahwa tantangan utama mereka saat ini adalah promosi agar lebih banyak mahasiswa mengetahui keberadaan kafe.  “Kami ingin Tujuan Akhir tidak hanya dikenal sebagai tempat minum kopi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain tentang manajemen usaha dan pelestarian lingkungan. Kami belajar mengatur stok, melayani pelanggan, dan meningkatkan kedisiplinan serta manajemen dan komunikasi,” tutupnya.

Dengan hadirnya Tujuan Akhir, kini di Polinela semakin banyak pilihan coffee shop yang bisa dinikmati mahasiswa, selain Toone Coffee dan Pojok Coffee yang sudah lebih dulu ada. Kehadiran berbagai kafe ini tidak hanya menawarkan tempat untuk bersantai, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, hingga mengembangkan kreativitas. (*)

 

Penulis: M. Berlian Nurfadhilah, Ahmad Muhajir

Penyunting: Heidy

 

 

 


 

National Co-Oppreneur Fest, Inovasi Kreativitas Mahasiswa di Bidang Wirausaha

 

Suasana di dalam Gedung Serba Guna Polinela|Perssukma.id/Rika

Sabtu, 13 September 2025, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa Mandiri (KOPMA) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menggelar acara National Co-Oppreneur Fest 2025. Kegiatan ini merupakan perlombaan disertai dengan seminar nasional yang mengusung tema “Building the Future through Collective Entrepreneurship: Smart, Creative and Impactful Youth for Cooperative Excellence”. Berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela, acara ini dibuka oleh Kasmir, Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Polinela.

Acara ini merupakan agenda tahunan sekaligus program kerja dari UKM KOPMA. Kegiatan yang bergerak di bidang kewirausahaan dengan tujuan melahirkan ide-ide inovatif, gagasan kreatif, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan. Tema yang diusung mencerminkan bagaimana kreativitas generasi muda dapat menjadi motor penggerak lahirnya inovasi, sekaligus memberikan dampak nyata dalam memperkuat kewirausahaan berbasis koperasi. Jenis perlombaan dalam kegiatan ini meliputi business plan, infographics, dan Lomba Cepat Tepat (LCT).

Muhammad Ilhamsyah, Ketua Umum (Ketum) UKM KOPMA menjelaskan tujuan dalam menyelenggarakan seminar dan lomba nasional ini adalah untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan koperasi di kalangan muda. "Tujuan KOPMA menyelenggarakan seminar dan juga lomba nasional ini yang pertama untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan koperasi di kalangan generasi muda. Kedua sebagai ruang berbagi ilmu pengalaman, dan juga relasi karena acara ini di tingkat nasional yang diikuti berbagai kampus di seluruh Indonesia," jelasnya.

Ilham menambahkan bahwa dampak kegiatan ini sangat besar bagi peserta terutama pada keterampila. "Dampak acara ini bagi peserta untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam bidang kewirausahaan dan koperasi. Karena lomba yang kita adakan ini sesuai dengan koperasi dan kewirausahaan serta lahirnya inovasi bisnis baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” tambahnya.

Galang Alaqsa, Ketua Pelaksana (Ketuplak) menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh perguruan tinggi dari berbagai daerah di luar Lampung sehingga bersifat nasional. "Untuk peserta yang sekarang ini hadir adalah finalis, berasal dari perguruan tinggi dari berbagai provinsi. Kegiatan ini juga tidak hanya diikuti oleh perguruan tinggi saja tetapi kami juga membuka perlombaan untuk cabang Sekolah Menengah Atas (SMA)," ujarnya.

Galang juga menjelaskan alasan mengapa mengambil tema dan topik ini karena berdasarkan urgensi dan relevansi yang sedang dikembangkan. "Mengapa KOPMA mengambil tema ini untuk dijadikan topik karena kami dari koperasi mahasiswa tema yang kami angkat tentang koperasi dan kewirausahaan, jadi topik berdasarkan pada urgensi dan relevansi yang kita kembangkan sekarang," ucapnya.

Hatta Dewantara, peserta dari KOPMA Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Banten, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat menarik sekaligus bermanfaat karena menghadirkan pemateri berpengalaman. “Menurut saya pemateri pada seminar tadi juga sangat berpengalaman, karena beliau dari berjualan semasa menjadi mahasiswa hingga mempunyai produk sendiri dan itu menurut saya sangat menarik serta luar biasa,” ungkapnya.

Hatta juga menambahkan bahwa kegiatan ini sangat relevan karena cabang lomba yang mencerminkan bukan hanya secara teori tetapi secara praktik seperti di dunia nyata. “Sangat relevan acara ini karena yang pertama ada lomba lomba yang mencerminkan bukan hanya teori tetapi secara nyata itu seperti apa terutama bagi orang yang betul betul memiliki keinginan menjadi seorang entrepreneur sangat bagus acara ini mengikuti acara ini,” tutupnya. (*)

Penulis : Rika Rahmadani, Rika Hastuti

Penyunting : Tia

Aliansi Lampung Melawan Turun ke Jalan, Aksi Berakhir Kondusif

 

Suasana di depan Gedung DPRD Lampung | Perssukma.id/ Dok. UKM Pers SUKMA


Senin, 1 September 2025, Aliansi Lampung Melawan menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung. Setelah melalui beberapa kali konsolidasi, aksi ini digelar dengan tujuan menyampaikan keresahan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat.

Massa aksi terdiri dari berbagai aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat Lampung. Mereka membawa bendera, spanduk, serta berorasi, menuntut pemerintah agar lebih berpihak kepada kepentingan rakyat.
Adapun poin tuntutan yang dibawakan sebagai berikut:

1. Sahkan Undang-undang (UU) Perampasan Aset.

2. Potong Tunjangan dan Gaji Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

3. Tingkatkan Kualitas Gaji Guru dan Dosen.

4. Memerintahkan Prabowo Melakuakan Pemecatan Menteri-Menteri yang Problematik.

5. Meminta Ketua Partai yang Kadernya Berada di Eksekutif dan Legislatif untuk Diberhentikan atau Restrukturisasi.

6. Reformasi Total Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Adili Pelaku Pembunuhan Alm. Affan Kurniawan serta Evaluasi Kinerja Kepolisian Daerah (Polda) Lampung.

7. Tolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP).

8. Menolak Efisiensi terhadap Sektor Pendidikan dan Kesehatan.

9. Berhenti Menggunakan Pajak Rakyat untuk Menindas Rakyat.

10. Pembebasan Lahan untuk Petani Anak Tuha, Reformasi Agraria, Pembebasan Lahan di Lampung.

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (BEM KBM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) turut ambil bagian dalam aksi demonstrasi ini. Sebanyak lebih dari 100 mahasiswa Polinela ikut turun ke jalan membersamai Aliansi Lampung Melawan dan elemen masyarakat lainnya.

Iskandar Ibnu Failis, Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Polinela menyampaikan bahwa koordinasi BEM Polinela dengan Aliansi Lampung Melawan cukup baik, dan teknik lapangan (teklap) tertutup diadakan di Polinela. ”Koordinasi BEM cukup baik, kita juga mengikuti konsol-konsol yang Aliansi Lampung Melawan lakukan dan untuk teklap tertutupnya sebenarnya di Polinela yang cuma sedikit orang yang mengetahui,” jelasnya.

Dalam aksi demonstrasi tersebut, perwakilan massa berhasil masuk ke dalam Gedung DPRD sehingga seluruh Protokol dan Komunikasi Pimpinan Daerah (Prokopimda) Lampung turun menemui massa aksi dan mendengarkan langsung poin-poin tuntutan yang disampaikan.
Amar Fauzan, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Lampung (Unila) menyampaikan bahwa seluruh tuntutan yang di sampaikan massa aksi kepada pemerintah sudah disepakati. "Mereka menandatangani tuntutan yang membuktikan bahwa mereka menyepakati tuntutan-tuntutan kita untuk disampaikan kepada pusat,” ungkapnya.

Fokus utama dalam aksi demonstrasi kali ini adalah tuntutan pertama, yakni pengesahan UU Perampasan Aset. Permasalahan kasus korupsi yang marak dianggap memicu kekacauan di Indonesia. Masyarakat menilai penyelesaian harus dilakukan dari akarnya, yaitu melalui perampasan aset. Perampasan aset diyakini mampu menimbulkan efek jera bagi para pelaku korupsi. Selain itu, massa juga menyoroti dorongan kepada DPRD Lampung dan aparat penegak hukum agar bertindak lebih adil, khususnya terkait kejelasan penyelesaian kasus Affan Kurniawan serta transparansi penghasilan DPR.

Irjen Helmy Santika, Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Lampung menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang telah terjadi akhir-akhir ini, dan mengusahakan agar tidak membiarkan kejadian serupa terulang. “Kepada saudara kita, Affan di Jakarta dan sekaligus juga dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan permohonan maaf atas nama seluruh Polda Lampung, InsyaAllah kejadian itu tidak akan terjadi dan terulang lagi di Indonesia dan beri ruang seluas-luasnya kepada tim yang sedang bekerja untuk mengungkap ini setransparan mungkin ke publik sehingga bisa memenuhi rasa keadilan dari masyarakat, rekan-rekan ojol dan juga keluarga yang ditinggalkan," tutupnya.

Aksi demontrasi yang di gelar hari ini berakhir dengan kondusif, setelah beberapa perwakilan massa diterima untuk menyampaikan tuntutan-tuntutan kemudian ditandatangani oleh pihak DPRD dan instansi lain yang terkait, juga dibersamai langsung oleh Gubernur Lampung. (*)

Reporter : Yunika Maritasari, Ahmad Muhajir

Penulis : Nayla