Beranda

Inovasi Mahasiswa TRE Polinela, Ciptakan Alat Peringatan Dini Deteksi Banjir

Pemasangan alat peringatan dini deteksi banjir karya mahasiswa TRE Polinela di kawasan kampus | Perssukma.id/Fitria Apriani

Guna mengantisipasi banjir akibat tingginya curah hujan, Tim Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Elektronika (TRE) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menciptakan alat pendeteksi banjir berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan sensor ketinggian air yang dipasang di aliran sungai Polinela pada Rabu, 17 Desember 2025 sebagai sistem peringatan dini. Proyek ini dibuat karena kepedulian mahasiswa terhadap kondisi lingkungan sekitar yang rawan banjir akibat tingginya curah hujan dan tersumbatnya aliran sungai. 

Remko Fadillah Zaelani, Ketua tim proyek alat pendeteksi banjir menjelaskan bahwa ide pembuatan alat pendeteksi banjir ini muncul dari pengamatan langsung di lapangan. “Kami melihat curah hujan yang tinggi dan kondisi sungai sering terhambat oleh sampah, dari situ kami membuat sistem deteksi banjir atau water level untuk memberikan peringatan dini jika terjadi kenaikan air sungai,” jelasnya.

Remko mengungkapkan proses pengembangan alat pendeteksi banjir ini memerlukan waktu selama tiga bulan, yaitu dua bulan tahap perancangan dan satu bulan perangkaian sistem. Dalam teknis pembuatannya, tim mengintegrasikan sensor ultrasonik HolyCrap (HC) SR04 dengan mikrokontroler Espressif Systems (ESP) 32 untuk memantau fluktuasi ketinggian air secara real-time. “Sensor ultrasonik SR04 kami pilih karena komponennya mudah dicari dan harganya sangat terjangkau untuk mahasiswa, sementara ESP32 digunakan agar agar data ketinggian air bisa langsung terhubung ke internet lewat Wireless Fidelity (Wi-Fi) dan dipantau secara real-time,” ungkapnya.

Meskipun sempat terkendala angin dan proses kalibrasi, hasil uji lapangan menunjukkan performa alat yang solid dengan akurasi sekitar 85 persen. Dengan selisih pengukurannya hanya lima sentimeter dari ukuran manual, yang kemudian dikonversi menjadi status peringatan dini mulai dari level aman, waspada, hingga bahaya. Saat mencapai status bahaya, sistem akan secara otomatis mengirimkan notifikasi peringatan langsung ke ponsel atau email pengguna.

Ayu Sintianingrum, Dosen TRE Polinela menilai proyek ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa karena mendorong pembelajaran berbasis praktik. “Melalui Project Based Learning, mahasiswa menjadi faktor utama dalam merancang, mengaplikasikan, hingga menguji sistem yang mereka buat,” jelasnya. 

Alat pendeteksi banjir ini merupakan proyek baru yang dikerjakan pada semester ganjil Tahun Ajaran (TA) 2025/2026. Dalam pengembangannya, sistem pemantau level air tersebut melibatkan kolaborasi lintas semester, yaitu antara mahasiswa semester satu dan semester tiga.

Ade Intan, Mahasiswa Prodi Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura (TPTH) mengungkapkan bahwa adanya alat ini sangat bermanfaat, mengingat Polinela kerap terdampak banjir saat hujan deras. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mahasiswa, sehingga alat ini menjadi upaya penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan rasa aman di lingkungan kampus. “Alat ini sangat penting ya, apalagi Polinela ini pernah terkena banjir saat hujan deras, jadi kita sebagai mahasiswa khawatir pada saat hujan deras turun, jadi dengan adanya alat ini kita bisa waspada dan mempunyai rasa aman di lingkungan kampus,” ungkapnya.

Ayu berharap agar mahasiswa terkhususnya yang berada di bidang elektronika, untuk terus menghasilkan karya yang inovatif dan menuangkan ide-ide kreatif melalui bimbingan para dosen. “Saya harap mahasiswa terkhususnya di bidang elektronika bisa semakin menunjukan karya-karya inovatif dan ide-ide kreatifnya kepada dosen-dosen,” tutupnya. (*)

 

Penulis: Fitria Apriani, Ramzi Hadi Saputra

Penyunting: Jhon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar