| Proses pembuatan biopori di depan Gedung PPA Polinela | Perssukma.id/Rika Rahmadani |
Sukma_Polinela; Minggu, 22 Juni 2025, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Politeknik
Pencinta Alam Lampung (Poltapala) mengadakan kegiatan dalam rangka memperingati
Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Mengusung tema “Langkah Kecil untuk Dampak
Besar: Ketahanan dan Pemulihan bagi Lingkungan Kampus dengan Aksi Biopori”,
kegiatan ini dilakukan di kawasan Hutan Kampus Politeknik Negeri Lampung
(Polinela). Sebelumnya, pada 21 Juni, telah digelar seminar di Gedung Kuliah
Bersama (GKB). Acara ini diikuti oleh peserta dari delegasi Organisasi
Mahasiswa (Ormawa) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di lingkungan kampus
Polinela.
Mangappu Tua
Marbun, Ketua Umum (Ketum) UKM Poltapala mengungkapkan bahwa kegiatan ini
merupakan strategi mereka untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan
mahasiswa. “Strategi pertama kami adalah menyelenggarakan seminar yang
menjelaskan apa itu biopori dan bagaimana fungsinya. Setelah mahasiswa memahami
materi, kami ajak mereka turun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan
pembuatan lubang biopori sebagaimana semestinya,” ungkapnya.
Lubang biopori
adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah, berfungsi
sebagai lubang resapan air untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah,
mengurangi risiko banjir, dan membantu pengomposan sampah organik. Sehingga
dengan adanya lubang biopori dapat membantu penyerapan air jadi lebih cepat.
Mustakim, anggota
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung menyatakan bahwa metode
biopori termasuk metode paling sederhana dan terjangkau dibanding metode
konservasi air lainnya. “Pembuatan lubang biopori adalah salah satu metode
paling mudah dan murah, jika dibandingkan dengan pembuatan sumur resapan atau
drainase,” ujarnya.
Irawan Pratama
Putra, alumni Poltapala sekaligus Penanggung Jawab (PJ) kegiatan menjelaskan
bahwa aksi ini bertujuan membentuk Polinela sebagai pusat pendidikan yang
mendorong pemulihan dan inovasi dalam pengelolaan tanah di wilayah kampus.
“Kami ingin menjadikan Polinela sebagai pusat pendidikan yang mendorong
pemulihan dan inovasi, serta berkolaborasi untuk meningkatkan kapasitas dan
kualitas pengetahuan mahasiswa, khususnya dalam mempertahankan, melindungi, dan
mengelola tanah kampus,” jelasnya.
Ia menambahkan
bahwa kegiatan ini dirancang oleh sepuluh panitia dengan waktu persiapan
sekitar dua hingga tiga minggu. “Dari pembentukan panitia hingga penyusunan
konsep, kami melibatkan sepuluh orang. Kesulitan terbesar selama proses ini
adalah komunikasi, terutama karena sebagian besar anggota Poltapala baru
pertama kali menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” ungkapnya.
Anutamaggi Yona
Anggraini, Ketua Pelaksana (Ketuplak) berharap pembuatan lubang biopori ini
dapat bermanfaat untuk mengurangi
genangan air di sekitar lingkungan kampus. “Pembuatan biopori ini diharapkan
dapat membantu mengurangi genangan air. Misalnya, di depan Gedung Pusat
Pelayanan Akademik (PPA) setiap kali hujan, pasti ada genangan. Selain itu,
kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat kampus akan
pentingnya pelestarian lingkungan. Bagi para peserta, ini menjadi pengalaman
langsung dalam aksi nyata menjaga bumi,” harapnya.
Rizani Ahmad, peserta dari Mitra Bentala menyampaikan pesan bahwa generasi muda memegang peran besar dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Pemuda harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Apalagi generasi saat ini sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Kepedulian terhadap lingkungan bisa menjadi modal penting bagi generasi masa depan dalam upaya pelestarian,” tutupnya.(*)
Penulis: Rika Rahmadani, Wenda Restiana
Penyunting: Jhon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar